Tren Global

Grok Diblokir, Ini Tips Aman Gunakan AI, Lindungi Privasi

  • Pemanfaatan AI seharusnya dilakukan secara kritis, bertanggung jawab, dan tidak melanggar hukum maupun etika sosial.
Cara Menggunakan Grok, Aplikasi Saingan ChatGPT Milik Elon Musk
Cara Menggunakan Grok, Aplikasi Saingan ChatGPT Milik Elon Musk (VnReview)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Pemerintah Indonesia secara resmi melakukan pemblokiran sementara terhadap aplikasi dan situs web Grok AI, chatbot berbasis kecerdasan buatan xAI, milik Elon Musk.

Kebijakan ini diambil sebagai langkah preventif untuk melindungi masyarakat dari maraknya penyalahgunaan teknologi AI, khususnya pembuatan konten deepfake pornografi non-konsensual yang memanfaatkan fitur “Spicy Mode” pada Grok. 

Pemblokiran menyebabkan akses Grok melalui aplikasi mandiri dan website tidak dapat diakses dari Indonesia, meskipun fitur Grok masih tersedia secara terbatas di dalam platform X bagi pengguna premium tertentu. P

emerintah menegaskan pemblokiran ini bersifat sementara sambil menunggu evaluasi dan perbaikan sistem pengamanan dari pihak pengembang.

Fenomena deepfake pornografi non-konsensual dinilai sebagai ancaman serius di ruang digital karena tidak hanya melanggar norma kesusilaan, tetapi juga merampas identitas seseorang tanpa persetujuan. 

Baca juga : 5 Fakta Timothy Ronald Diduga Tipu Anggota Akademi Crypto

Korban kerap mengalami dampak psikologis, perusakan reputasi, hingga potensi pemerasan dan kekerasan berbasis digital. 

Dalam konteks hukum Indonesia, pembuatan dan penyebaran konten pornografi berbasis manipulasi wajah atau tubuh dapat dijerat dengan Undang-Undang ITE, Undang-Undang Pornografi, serta ketentuan pidana lain dengan ancaman hukuman yang tidak ringan. 

Kasus Grok AI menjadi contoh nyata bahwa perkembangan teknologi yang cepat tidak selalu diimbangi dengan sistem pengamanan yang memadai.

Tips Aman Gunakan AI dan Lindungi Privasi

Di tengah meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati dan sadar akan risiko yang menyertainya. 

Pemanfaatan AI seharusnya dilakukan secara kritis, bertanggung jawab, dan tidak melanggar hukum maupun etika sosial. Perlindungan data pribadi menjadi aspek krusial yang tidak boleh diabaikan, mengingat interaksi dengan AI kerap melibatkan pertukaran informasi yang bersifat sensitif. 

Dilansir TrenAsia dari berbagai sumber, Senin, 12 Januari 2025, berikut sederet tips aman gunakan AI, dan lindungi data privasi,

1. Bersikap Kritis terhadap Output AI

Pengguna perlu memahami bahwa jawaban atau konten yang dihasilkan AI bukanlah kebenaran mutlak. Informasi yang diberikan harus diverifikasi kembali dengan sumber tepercaya, terutama jika berkaitan dengan isu hukum, kesehatan, atau keuangan. 

AI sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti penilaian manusia. Penggunaan AI untuk membuat konten berbahaya, manipulatif, atau melanggar hukum berpotensi menjerat penggunanya pada sanksi pidana.

2. Batasi Data Pribadi

Pengguna disarankan untuk tidak memasukkan data sensitif seperti nomor KTP, kata sandi, informasi kartu kredit, alamat lengkap, maupun dokumen pribadi lainnya ke dalam percakapan dengan AI. 

Selain itu, mengunggah foto diri atau foto orang lain yang bersifat pribadi juga berisiko disalahgunakan. Perlu dipahami bahwa penyedia layanan AI, termasuk xAI, secara terbuka menyatakan bahwa data percakapan dan file yang diunggah dapat diproses oleh sistem mereka.

Baca juga : Update Harga Sembako di Jakarta Senin, 12 Januari 2026

3. Kontrol Penggunaan Data untuk Pelatihan AI

Bagi pengguna platform X, terdapat opsi untuk mengontrol apakah unggahan dan interaksi akun digunakan sebagai data pelatihan A.

Pengguna dapat menonaktifkan izin tersebut melalui menu pengaturan privasi dan keamanan. Selain itu, menjadikan akun bersifat privat atau protected dapat membatasi ketersediaan unggahan sebagai data publik yang dapat diakses dan diproses oleh pihak ketiga.

4. Kelola Riwayat Percakapan

Pengelolaan riwayat percakapan juga penting untuk menjaga keamanan data. Pengguna disarankan untuk secara rutin menghapus percakapan lama yang tidak lagi diperlukan. 

Umumnya, data yang telah dihapus akan diproses untuk dihilangkan dari server penyedia layanan dalam jangka waktu tertentu, meskipun durasi pastinya bergantung pada kebijakan masing-masing platform.

5. Pahami Kebijakan Privasi

Setiap platform AI memiliki kebijakan privasi yang berbeda terkait pengumpulan, penyimpanan, dan pembagian data pengguna. Oleh karena itu, penting bagi pengguna untuk membaca dan memahami ketentuan yang berlaku. 

Dalam kondisi tertentu, data pengguna dapat dibagikan kepada mitra layanan atau aparat penegak hukum sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Kasus Grok AI menunjukkan persoalan kecerdasan buatan tidak hanya berkaitan dengan kecanggihan teknologi, tetapi juga menyangkut etika digital. 

AI yang memiliki kemampuan tinggi namun minim pembatasan dapat dengan mudah disalahgunakan. Prinsip menghormati hak dan martabat orang lain harus menjadi fondasi utama dalam penggunaan teknologi ini. Manipulasi identitas seseorang tanpa izin merupakan pelanggaran serius yang berdampak luas bagi korban.

Pemerintah mendorong masyarakat untuk aktif melaporkan konten deepfake pornografi atau penyalahgunaan AI lainnya melalui aparat penegak hukum maupun kanal pengaduan resmi Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).

Kontroversi Grok AI menjadi peringatan bagi platform AI global bahwa ruang digital tidak berada di luar hukum. Platform dengan sistem moderasi yang longgar berisiko besar disalahgunakan, terutama di negara dengan jumlah pengguna internet yang besar seperti Indonesia. 

Ke depan, pengguna disarankan untuk memilih layanan AI yang memiliki kebijakan moderasi konten dan perlindungan data yang lebih ketat.

Pada akhirnya, kecerdasan buatan adalah alat yang sangat kuat. Tanpa empati, etika, dan tanggung jawab, teknologi ini dapat berubah dari solusi menjadi ancaman nyata bagi keamanan, privasi, dan kemanusiaan.