Green Living ala Gen Z, Tips Ramah Lingkungan Tanpa Ribet
- Green living ala anak kota tak harus mahal. Simak tips sederhana dan realistis hidup ramah lingkungan yang mudah diterapkan di kehidupan urban.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Gaya hidup ramah lingkungan atau green living kerap dianggap mahal, merepotkan, dan hanya cocok bagi mereka yang memiliki waktu serta dana lebih.
Padahal, di tengah kehidupan urban yang serba cepat, anak kota justru memiliki banyak peluang untuk menerapkan gaya hidup berkelanjutan secara sederhana dan realistis.
Green living tidak selalu berarti mengganti seluruh gaya hidup secara ekstrem. Prinsip dasarnya adalah mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan melalui kebiasaan sehari-hari yang lebih sadar dan efisien. Langkah kecil, jika dilakukan secara konsisten, dapat memberikan dampak yang signifikan.
Dilansir TrenAsia dari berbagai sumber, Rabu, 18 Februari 2026, berikut langkah sederhana menerapkan pola hidup Green Living dimulai dari hal kecil,
Mulai dari Kebiasaan Paling Sederhana
Langkah paling mudah untuk menerapkan green living adalah dari kebiasaan harian. Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai menjadi contoh paling umum. Anak kota dapat mulai dengan membawa botol minum sendiri, tas belanja kain, atau wadah makan saat membeli makanan.
Kebiasaan ini bukan hanya mengurangi sampah plastik, tetapi juga lebih hemat dalam jangka panjang. Banyak kafe dan gerai makanan kini bahkan memberikan potongan harga bagi pelanggan yang membawa tumbler atau wadah sendiri.
Baca juga : Emisi, Limbah, hingga Upah Rendah, Wajah Kelam Fast Fashion
Hemat Energi, Hemat Biaya
Hidup ramah lingkungan juga identik dengan efisiensi energi. Di perkotaan, konsumsi listrik rumah tangga menjadi salah satu penyumbang emisi tidak langsung yang cukup besar. Mematikan lampu dan perangkat elektronik saat tidak digunakan, mencabut charger, serta memaksimalkan pencahayaan alami di siang hari merupakan langkah sederhana yang bisa langsung diterapkan.
Selain berdampak positif bagi lingkungan, kebiasaan ini juga membantu menekan tagihan listrik bulanan. Green living, dalam konteks ini, justru sejalan dengan gaya hidup hemat.
Transportasi Lebih Bijak di Tengah Kota
Kemacetan dan polusi udara menjadi masalah klasik kota besar. Anak kota dapat berkontribusi dengan memilih transportasi yang lebih ramah lingkungan, seperti transportasi umum, berjalan kaki untuk jarak dekat, atau berbagi kendaraan (carpool).
Tidak semua orang bisa langsung beralih ke kendaraan listrik, namun perubahan kecil dalam pola mobilitas sudah cukup membantu mengurangi emisi. Selain itu, penggunaan transportasi umum juga memberi manfaat tambahan berupa penghematan biaya dan waktu.
Konsumsi Lebih Sadar, Bukan Lebih Mahal
Green living bukan berarti harus selalu membeli produk berlabel “eco-friendly” yang harganya lebih tinggi. Konsumsi berkelanjutan justru dimulai dari membeli seperlunya, memilih produk tahan lama, dan mengurangi kebiasaan belanja impulsif.
Dalam konteks fashion, misalnya, anak kota dapat mulai dengan merawat pakaian agar lebih awet, membeli pakaian berkualitas meski lebih jarang. Prinsip yang sama berlaku untuk barang elektronik dan kebutuhan rumah tangga.
Baca juga : Gen Z, Fast Fashion, dan Bencana Lingkungan Hidup
Kelola Sampah Secara Realistis
Tidak semua orang memiliki akses atau waktu untuk menerapkan zero waste secara penuh. Namun, memilah sampah organik dan anorganik di rumah sudah menjadi langkah besar.
Sampah anorganik seperti botol plastik dan kardus dapat disalurkan ke bank sampah atau pemulung, sementara sisa makanan dapat dikurangi dengan perencanaan belanja yang lebih baik.
Pendekatan realistis ini membuat green living lebih inklusif dan mudah dijalani oleh siapa pun, tanpa tekanan untuk menjadi “sempurna”.
Bagi anak kota, green living seharusnya tidak dipandang sebagai tren sesaat atau gaya hidup eksklusif. Lebih dari itu, green living adalah bentuk kesadaran terhadap dampak pilihan sehari-hari terhadap lingkungan dan masa depan kota itu sendiri.
Perubahan iklim, krisis sampah, dan polusi bukan lagi isu abstrak, melainkan realitas yang dirasakan langsung di perkotaan. Oleh karena itu, gaya hidup ramah lingkungan tidak perlu menunggu kaya, punya rumah besar, atau hidup sempurna. Green living bisa dimulai hari ini, dari langkah paling sederhana, tanpa mahal dan tanpa ribet.

Chrisna Chanis Cara
Editor
