Geopolitik Panas, Investasi Dolar AS Aman atau Berisiko?
- Investasi dolar diminati sebagai lindung nilai saat rupiah melemah. Namun ada risiko jika investasi tak dibarengi pemahaman terhadap momentum pasar.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Saat ekonomi global memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah, dolar Amerika Serikat (AS) masih menjadi salah satu instrumen investasi favorit masyarakat Indonesia.
Kepemilikan valuta asing dipandang sebagai strategi safe haven sekaligus diversifikasi portofolio untuk menjaga nilai kekayaan dari risiko depresiasi mata uang domestik. Selain likuiditas yang tinggi, investasi dolar dinilai praktis karena mudah dicairkan dan diterima secara luas dalam transaksi internasional.
Namun demikian, para analis mengingatkan bahwa investasi dolar tetap membutuhkan pemahaman terhadap momentum pasar, spread kurs beli–jual, serta biaya transaksi agar hasilnya optimal. Salah satu keunggulan utama investasi dolar adalah fungsinya sebagai lindung nilai (hedging) terhadap inflasi dan pelemahan rupiah.
Dolar juga cocok bagi masyarakat yang memiliki kebutuhan masa depan dalam mata uang asing, seperti biaya pendidikan di luar negeri, perjalanan ibadah, maupun perjalanan internasional.
Dengan stabilitas ekonomi AS yang relatif terjaga, dolar cenderung memiliki volatilitas yang lebih terkendali dibandingkan mata uang negara berkembang. Hal ini membuat dolar menjadi pilihan konservatif bagi investor pemula maupun berpengalaman.
Meski relatif stabil, nilai tukar dolar tetap fluktuatif. Pergerakannya sangat dipengaruhi oleh faktor global, seperti kebijakan suku bunga Bank Sentral AS (The Federal Reserve), kondisi geopolitik, serta arah perekonomian dunia.
Selain itu, investor perlu memperhitungkan selisih kurs beli dan jual yang dapat menggerus keuntungan, terutama jika transaksi dilakukan dalam jangka pendek. Karena itu, para perencana keuangan umumnya menyarankan investasi dolar dengan horison jangka menengah hingga panjang.
Cara Memulai Investasi Dolar bagi Pemula
Dilansir TrenAsia dari berabagai sumber, bagi pemula, terdapat beberapa opsi untuk mulai berinvestasi dolar. Pertama, membuka rekening valuta asing (valas) di bank nasional dengan setoran awal yang relatif terjangkau. Kedua, membeli dolar di money changer resmi berizin Bank Indonesia untuk kepemilikan fisik.
Alternatif lain adalah melalui instrumen investasi berbasis dolar, seperti reksadana dolar atau produk asuransi unit link. Seiring perkembangan teknologi, pembelian dolar juga bisa dilakukan melalui aplikasi fintech yang menawarkan kemudahan dan fleksibilitas transaksi digital.
Alih-alih membeli dolar dalam jumlah besar sekaligus, para ahli menyarankan strategi menabung secara berkala dan konsisten. Cara ini dinilai lebih aman karena membantu investor memperoleh rata-rata kurs yang lebih stabil, sekaligus mengurangi risiko salah timing pasar.
Dalam konteks perlindungan nilai, dolar kerap dibandingkan dengan emas. Emas dikenal lebih tahan terhadap inflasi dalam jangka panjang, namun memerlukan pengamanan khusus jika disimpan secara fisik. Sementara itu, dolar AS lebih praktis untuk transaksi dan memiliki biaya penyimpanan yang relatif lebih rendah.
Para perencana keuangan menilai kombinasi keduanya justru lebih ideal. Dengan menyeimbangkan dolar dan emas dalam satu portofolio, investor dapat memperoleh perlindungan nilai yang lebih optimal.
Untuk memaksimalkan hasil investasi dolar, investor disarankan rutin memantau berita ekonomi global dan pergerakan nilai tukar. Strategi klasik yang kerap digunakan adalah membeli dolar saat rupiah menguat dan melepasnya ketika kurs dolar tinggi.
Yang tak kalah penting, dana yang digunakan sebaiknya berasal dari dana menganggur, bukan dana kebutuhan harian. Menetapkan tujuan keuangan sejak awal, baik untuk dana darurat, pendidikan, maupun diversifikasi jangka panjang juga menjadi kunci keberhasilan investasi.

Muhammad Imam Hatami
Editor
