Tren Global

Gen Z AS dan Iran Sama-Sama Tolak Perang, Motifnya Berbeda

  • Gelombang eskalasi AS - Iran memicu jurang sikap antargenerasi. Gen Z di Amerika dan Iran kompak menolak perang, menyoroti beban ekonomi dan “forever wars”.
Screenshot_1.png

JAKARTA, TRENASIA.ID - Gelombang eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran bukan hanya memicu ketegangan diplomatik dan militer, tetapi juga membuka jurang perbedaan sikap antargenerasi di kedua negara. Di tengah keputusan politik yang didominasi elite berusia di atas 60 tahun, generasi muda justru tampil sebagai suara paling vokal yang menolak perang.

Dilansir laman responsible state craft, Selasa, 3 Maret 2026, di AS, Generasi Z dan milenial muda memimpin aksi protes anti-perang di berbagai kota besar. Sementara di Iran, generasi muda memanfaatkan momentum ancaman eksternal untuk kembali menyuarakan kritik terhadap pemerintahan mereka sendiri.

Di Amerika Serikat, penolakan terhadap konflik baru dengan Iran didorong oleh pengalaman panjang perang di Irak dan Afghanistan. Generasi muda tumbuh dalam bayang-bayang konflik yang memakan waktu dua dekade, triliunan dolar, dan ribuan korban jiwa.

Survei lembaga survei dan pusat penelitian opini publik, AP-NORC menunjukkan hanya sekitar separuh warga di bawah usia 45 tahun yang menganggap Iran sebagai “musuh”, jauh lebih rendah dibanding kelompok usia di atas 45 tahun yang mencapai sekitar 70 persen. Tingkat kekhawatiran terhadap program nuklir Iran juga lebih rendah di kalangan muda.

Pola konsumsi media ikut memengaruhi persepsi. Data Pew Research Center menunjukkan 86 persen Gen Z mengandalkan media sosial sebagai sumber berita utama, sementara generasi lebih tua masih dominan mengonsumsi televisi kabel.

Baca juga : Apa Saja Persenjataan Iran untuk Melawan AS dan Israel?

Organisasi advokasi pemilih muda seperti Voters of Tomorrow secara terbuka mengecam kebijakan militer yang dinilai memperpanjang “forever wars”. Demonstrasi berlangsung di Washington DC, New York, Los Angeles, hingga Chicago, menuntut penghentian eskalasi.

Bagi Gen Z Amerika, isu perang bukan sekadar geopolitik, tetapi soal prioritas anggaran. Data menunjukkan biaya hari pertama operasi militer mencapai 779 juta dolar AS. 

Proyeksi total biaya konflik bahkan bisa menembus puluhan hingga ratusan miliar dolar. Angka ini menjadi amunisi retoris bagi para demonstran yang menilai dana tersebut lebih baik dialokasikan untuk pendidikan, kesehatan, atau pengurangan utang mahasiswa.

Pandangan Gen Z Iran

Di Iran, dinamika lebih kompleks. Ancaman perang terjadi di tengah krisis ekonomi berkepanjangan, inflasi tinggi, serta tingkat pengangguran yang membebani generasi muda. Bagi banyak anak muda Iran, persoalan utama bukan ancaman luar, melainkan kondisi domestik.

Sejak protes besar pada 2022 setelah kematian Mahsa Amini, generasi muda Iran menjadi motor utama gelombang demonstrasi. Mereka menuntut kebebasan sipil, reformasi politik, dan perbaikan ekonomi. Beberapa aksi protes kembali muncul di kampus-kampus besar seperti Sharif University of Technology di Teheran.

Analis menyebut sebagian Gen Z Iran mengalami keterasingan politik. Nasionalisme tradisional yang dulu kuat perlahan terkikis oleh tekanan ekonomi dan pembatasan sosial. 

Ancaman eksternal dari AS tidak otomatis memicu solidaritas terhadap pemerintah, melainkan kadang justru dimaknai sebagai bukti kegagalan elite politik mengelola hubungan internasional.

Meski demikian, survei independen di Iran sulit dilakukan secara terbuka, sehingga data kuantitatif sikap publik sangat terbatas. Namun berbagai laporan media internasional dan pengamat kawasan menunjukkan tren meningkatnya jarak antara generasi muda dan elite politik konservatif.

Baca Juga : Iran dan Kisah Harga Bensin Termurah

Faktor Ekonomi Jadi Benang Merah

Di kedua negara, faktor ekonomi menjadi benang merah penolakan perang. Di AS, kenaikan harga energi dan potensi inflasi akibat konflik menjadi kekhawatiran utama. Harga minyak mentah global sempat melonjak, memicu kecemasan atas biaya hidup.

Sementara di Iran, sanksi internasional dan tekanan ekonomi memperburuk situasi domestik. Generasi muda menghadapi tantangan pekerjaan dan daya beli yang melemah. Dalam kondisi demikian, perang dinilai hanya akan memperdalam krisis.

Fenomena ini memunculkan narasi populer di media sosial, konflik dianggap sebagai “perangnya generasi tua”, sementara dampaknya ditanggung generasi muda. Para pemimpin politik dan militer di kedua negara umumnya berasal dari generasi yang jauh lebih tua dibanding mayoritas demonstran.

Meski demikian, penting dicatat bahwa opini publik tidak sepenuhnya homogen. Di AS, sebagian pemilih muda tetap mendukung kebijakan keamanan nasional yang keras. Di Iran, sentimen nasionalisme tetap kuat di kalangan tertentu.

Namun satu hal jelas, generasi muda di kedua negara menunjukkan kecenderungan lebih skeptis terhadap solusi militer dan lebih sensitif terhadap dampak ekonomi serta sosial perang. Dalam lanskap politik global yang berubah cepat, suara mereka berpotensi menjadi faktor penting dalam menentukan arah kebijakan di masa depan.