Garuda Indonesia (GIAA) Pangkas Rugi 12 Persen di Kuartal I-2025, Tapi Ekuitas Masih Negatif
- Garuda Indonesia memangkas rugi bersih 12,1% pada kuartal I-2025 didorong pendapatan charter dan efisiensi operasional. Namun, ekuitas yang masih negatif menandakan tantangan keuangan belum sepenuhnya teratasi.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA – Emiten maskapai plat merah, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) mulai menunjukkan perbaikan kinerja dengan memangkas rugi bersih sebesar 12,1% pada kuartal I-2025. Meski demikian, tekanan dari sisi neraca, terutama ekuitas yang masih negatif, menandakan pemulihan perusahaan belum sepenuhnya lepas landas.
Mengutip laporan keuangan yang dirilis ke Bursa Efek Indonesia (BEI), pada Selasa, 29 April 2025, kerugian Garuda Indonesia tercatat sebesar US$76,49 juta pada periode tiga bulan pertama 2025. Raihan tersebut turun dari rugi bersih US$87,04 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan kerugian ini ditopang oleh efisiensi biaya dan peningkatan pada segmen pendapatan tertentu. Secara total, pendapatan usaha Garuda naik tipis 1,6% yoy menjadi US$723,56 juta dari sebelumnya US$711,98 juta pada kuartal I-2024.
- Premi Melesat 208 Persen Berkat Asuransi Digital, YOII Cetak Laba Rp16,45 Miliar setelah Merugi
- Kasus Pagar Laut Nyaris Tenggelam
- Terancam PHK, Serikat Pekerja Serukan Perlindungan Industri Padat Karya
Segmentasi pendapatan menunjukkan lonjakan signifikan pada penerbangan tidak berjadwal yang tumbuh 92,9% yoy, dari US$19,68 juta menjadi US$37,96 juta. Peningkatan ini mencerminkan permintaan yang lebih tinggi terhadap layanan charter dan penerbangan khusus, yang kemungkinan terdorong oleh aktivitas haji, umrah, maupun kebutuhan korporasi.
Sementara itu, pendapatan dari penerbangan berjadwal – yang menjadi kontributor terbesar – tercatat naik tipis 0,8% yoy menjadi US$603,69 juta. Adapun pendapatan lainnya, yang mencakup layanan penunjang seperti katering, hotel, dan kargo, justru menurun 12,2% yoy menjadi US$81,92 juta dari US$93,28 juta.
Di sisi beban usaha, perusahaan berhasil menahan laju kenaikan secara keseluruhan. Total beban operasional hanya naik 2,2% yoy menjadi US$718,36 juta, meskipun terdapat lonjakan beban pemeliharaan sebesar 26,1% menjadi US$156,19 juta. Efisiensi terjadi pada beban promosi dan penjualan yang turun signifikan 22,6% menjadi US$40,15 juta, serta stabilnya beban operasional lainnya.
Dengan berbagai efisiensi tersebut, Garuda Indonesia mampu memangkas rugi bersih menjadi US$76,49 juta, lebih baik dibandingkan kerugian kuartal I-2024 yang mencapai US$87,04 juta. Meski belum mencetak laba, capaian ini menjadi indikasi awal arah perbaikan kinerja operasional perseroan.
Selain itu, Garuda juga mencatat pendapatan lain-lain bersih sebesar US$13,57 juta, berbalik positif dari rugi US$0,31 juta pada periode sama tahun lalu. Perusahaan juga mendapat keuntungan dari selisih kurs senilai US$12,83 juta, naik dari US$7,84 juta pada kuartal I-2024. Kedua faktor ini turut meringankan tekanan beban keuangan yang masih tinggi di level US$124,57 juta.
Posisi Neraca Masih Tertekan Ekuitas Negatif
Di sisi neraca, total aset perseroan per 31 Maret 2025 tercatat sebesar US$6,46 miliar. Dari jumlah tersebut, sebesar US$576 juta merupakan aset lancar yang didominasi oleh kas dan setara kas senilai US$223,77 juta, serta piutang usaha sebesar US$127,82 juta. Sementara itu, aset tidak lancar mencapai US$5,88 miliar, di antaranya berupa aset tetap senilai US$4,81 miliar dan aset pajak tangguhan sebesar US$415,94 juta.
Namun demikian, liabilitas perusahaan masih jauh melampaui nilai aset, dengan total kewajiban mencapai US$7,89 miliar. Sebagian besar terdiri dari liabilitas jangka panjang sebesar US$6,63 miliar, termasuk kewajiban sewa (US$2,09 miliar), estimasi biaya pengembalian dan pemeliharaan pesawat (US$2,67 miliar), serta obligasi dan pinjaman jangka panjang lainnya.
Akibat akumulasi rugi yang belum tertutupi, Garuda Indonesia masih mencatatkan ekuitas negatif sebesar US$1,43 miliar. Nilai ini terdiri atas defisit ekuitas pemilik entitas induk sebesar US$1,40 miliar dan porsi nonpengendali sebesar US$31,86 juta.

Ananda Astridianka
Editor
