Garuda Indonesia Angkut 2,4 Juta Penumpang di Kuartal I-2025, Tertinggi dalam Tiga Tahun
- Jika dibandingkan dengan kuartal I-2024, jumlah penumpang juga meningkat 10%. Hasil ini menjadi indikasi positif di tengah kerugian yang menimpa perseroan pada tahun buku 2024.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA – Emiten maskapai plat merah, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) mencatat jumlah penumpang mencapai 2,4 juta orang pada kuartal I-2025, tumbuh 48% dibandingkan periode yang sama tahun 2023 yang sebanyak 1,8 juta penumpang.
Pencapaian tersebut sekaligus menjadi yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Sementara itu, dibandingkan kuartal I-2024, jumlah penumpang juga meningkat 10%. Hasil ini menjadi indikasi positif di tengah kerugian yang menimpa perseroan pada tahun buku 2024.
Direktur Utama Garuda Indonesia, Wamildan Tsani, mengatakan bahwa capaian ini menjadi sinyal positif bagi proses pemulihan kinerja perusahaan serta penguatan kepercayaan publik terhadap layanan maskapai pelat merah tersebut.
- Histori Rekor Harga Buyback Emas Antam 2025
- Demam Emas Melanda Bursa, Saham MDKA hingga ANTM Tancap Gas
- Hujan Dividen ITMG, JPFA, AVIA, dan BNLI, Mana Paling Deras?
“Meningkatnya permintaan angkutan penumpang di awal tahun, yang umumnya merupakan periode low season dalam industri penerbangan, memberi optimisme tersendiri bagi Garuda Indonesia yang tengah menjalankan serangkaian langkah transformasi strategis,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin 14 Maret 2025.
Kinerja operasional juga tercermin dari tingkat keterisian penumpang (seat load factor) yang diproyeksikan mencapai rata-rata 80,51% sepanjang kuartal I-2025. Angka ini melonjak dari 72,30% pada 2023 dan 73,89% pada 2024.
Tak hanya penumpang, segmen kargo Garuda Indonesia juga menunjukkan pertumbuhan yang positif. Pada kuartal I-2025, volume angkutan kargo tercatat sebesar 34.715,57 ton. Jumlah ini meningkat 39% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (25.053,35 ton), dan naik 3% dari kuartal I-2024 yang sebanyak 33.735 ton.
Wamildan menjelaskan bahwa peningkatan kinerja dicapai melalui berbagai strategi, seperti peningkatan keandalan operasional, optimalisasi kapasitas produksi, penyesuaian rute penerbangan sesuai kebutuhan pasar, serta penguatan sinergi dengan sektor pariwisata dan transportasi nasional.
“Hasil dari perbaikan kinerja tersebut diproyeksikan akan memperkuat posisi keuangan Garuda, termasuk perbaikan cash flow dan peningkatan likuiditas perusahaan. Hal ini krusial dalam memenuhi komitmen yang tertuang dalam perjanjian perdamaian PKPU,” pungkasnya.
Kinerja Garuda Indonesia 2024
Pada tahun buku 2024, Garuda Indonesia mencatat pendapatan usaha konsolidasi sebesar US$3,42 miliar atau sekitar Rp56,55 triliun, tumbuh 16,34% secara tahunan. Namun, perseroan masih membukukan rugi bersih sebesar US$69,78 juta atau setara Rp1,15 triliun.
Kerugian ini terutama disebabkan oleh lonjakan beban usaha yang meningkat 18,32% akibat tingginya biaya pemeliharaan pesawat. Selain itu, sejumlah tantangan eksternal turut menekan kinerja keuangan perseroan, seperti isu rantai pasokan, fluktuasi kurs, ketidakpastian geopolitik global, serta persaingan ketat di industri penerbangan.
Di samping itu, pendapatan lain-lain Garuda Indonesia juga merosot 77,39% secara tahunan. Sebab, perseroan tidak lagi mencatatkan keuntungan dari restrukturisasi maupun pelepasan obligasi seperti tahun sebelumnya.
Kendati demikian, Garuda tetap mencatat pertumbuhan signifikan secara operasional. Jumlah penumpang sepanjang 2024 meningkat 18,54% menjadi 23,67 juta orang, sementara frekuensi penerbangan naik 12,21% menjadi 163.271 kali. Volume kargo juga melonjak 34,27% menjadi 229.510 ton, ditopang pertumbuhan kuat di rute domestik dan internasional.
Sebagai bagian dari strategi pemulihan, Garuda menargetkan kepemilikan 100 armada hingga akhir 2025. Dua unit Boeing 737-800NG telah didatangkan pada kuartal I-2025. Optimalisasi kapasitas produksi akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi pasar, rantai pasokan global, dan tata kelola perusahaan.

Ananda Astridianka
Editor
