Korporasi

Gaet Turis Jepang, Jababeka Bangun Monumen Perang Dunia II di KEK Morotai

  • Dengan adanya monumen ini, hubungan antara Jepang dan Morotai menjadi terkoneksi.

Kawasan Ekonomi Khusus Morotai yang dikelola oleh PT Jababeka Morotai ini memiliki Museum Perang Dunia II. / Dok. Jababeka Morotai

Kawasan Ekonomi Khusus Morotai yang dikelola oleh PT Jababeka Morotai ini memiliki Museum Perang Dunia II. / Dok. Jababeka Morotai

(Istimewa)

JAKARTA – Anak usaha Jababeka Group, PT Jababeka Morotai menggandeng OISCA International College Foundation (OISCA International) untuk membangun monumen Perang Dunia II di kawasan ekonomi khusus (KEK) Morotai, Maluku Utara.

“Dengan adanya monumen ini, hubungan antara Jepang dan Morotai menjadi terkoneksi, yaitu membuat masyarakat Jepang datang ke Morotai,” ujar Direktur Utama PT Jababeka Morotai Basuri Tjahaja Purnama dalam keterangan resmi, dikutip Senin, 22 Maret 2021.

Basuri menandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) dengan Chairman OISCA International Kuroda Yunosuke di Jakarta, Jumat, 19 Maret 2021. Yunosuke mengaku senang bisa bekerja sama dengan Jababeka Morotai dan menyambut terbuka inisiatif ini.

“Kami berharap, dengan ada monumennya bisa membuat orang Jepang yang buyut-kakeknya meninggal di Morotai, bisa datang ke Morotai,” ujar Yunosuke.

Setelah penandatangan MoU ini, Jababeka Morotai akan menyediakan lokasi, lahan, mengurus segala perizinan untuk pembangunan monumen tersebut. Sementara OISCA International bertanggung jawab membangun monumen Perang Dunia ke II beserta fasilitas penunjang lainnya. Adapun realisasi pembangunan ini sendiri menunggu desain monumen dari pihak OISCA International selesai.

“Kerja sama ini merupakan kerja sama ilmu terapan sehingga (efeknya) tidak ada selesainya, yaitu selama orang masih butuh makanan sehat dan terbaik. Dengan masyarakat juga dilatih memproduksi produk terbaik untuk dikirim ke luar negeri berarti ini mendatangkan devisa,” katanya.

Basuri mengatakan Jababeka Morotai juga memberikan lahan untuk training center dan fasilitas pendukung termasuk desa bernuansa Jepang di sekitar monumen Perang Dunia II. Lahan ini bisa dimanfaatkan masyarakat lokal untuk bercocok tanam atau membuat mesin pertanian dan perkebunan sehingga terjadi peningkatan keterampilan.