FinTech Perlu Mencermati Langkah-Langkah Big Tech
Beberapa perusahaan raksasa teknologi atau Big Tech saat ini mulai mengembangkan sektor platform keuangannya sendiri. Apapun platform keuangan yang mereka kembangkan berpotensi menyaingi sektor FinTech yang saat ini cukup mapan di dalam industri keuangan.

Acep Saepudin
Author


Perusahaan-Perusahaan Big Tech
(Istimewa)Jakarta-Beberapa perusahaan raksasa teknologi atau Big Tech saat ini mulai mengembangkan sektor platform keuangannya sendiri. Apapun platform keuangan yang mereka kembangkan berpotensi menyaingi sektor FinTech yang saat ini cukup mapan di dalam industri keuangan.
Misalnya saja Google yang berencana menawarkan akun “Pintar” yang didukung Citigroup dan Stanford Federal Credit Union. Selanjutnya ada Apple yang sebentar lagi merilis kartu kredit bekerja sama dengan Goldman Sachs. Kemudian ada Facebook yang masih melekat pada Libra, suatu mata uang digital miliknya yang belum lama ini diperkenalkan.
Menurut Avivah Litan, analis di perusahaan riset Gartner, sektor FinTech harus mencermati fenomena ini. Ia mencatat mengenai kecenderungan Big Tech dalam menghancurkan pesaing. Pesaing yang ia maksud adalah mereka yang memiliki toko aplikasi, dompet digital, dan memiliki milyaran penggunanya.
“Apple Pay dan Apple Card sebagai kisah sukses bagi Apple. Tetapi itu menjadi ancaman bagi penerbit kartu lainnya,” jelas Avivah.
Sementara Tim Chen, CEO NerdWallet mengatakan, sektor FinTech yang bersaing ketat dalam harga harus benar-benar mencermati langkah-langkah Big Tech. Jika tidak, maka mereka akan kalah dalam persaingan melawan Big Tech.
“Keuntungan yang menarik bagi pelanggan, seperti tingkat bunga yang lebih tinggi pada rekening tabungan atau perdagangan saham tanpa biaya, tidak akan lagi cukup. Terutama bagi startup yang bergantung dengan penyediaan manfaat seperti itu,” kata Chen. “hampir tidak mungkin bagi mereka bersaing dengan perusahaan teknologi yang memiliki akses tidak terbatas pada uang dan hubungan langsung dengan miliaran konsumen.”
Matt Harris, Investor FinTech di Bain Capital Ventures mengatakan, “Para pelaku FinTech harus memikirkan kembali relevansinya. Saya percaya kompetisi akan meningkatkan standar. Hal ini yang membuat startup semakin sulit untuk menambah nilai.”
“Jika anda adalah seorang pelaku FinTech yang baru saja menjual kartu debit dengan aplikasi. Maka hal itu secara jelas menyatakan bahwa aplikasi anda lebih baik daripada aplikasi bank,” kata Harris sebagaimana dilansir dari Fortune.com.
Para pemimpin FinTech terlihat biasa saja menanggapi fakta di atas. Misalnya David Hijirida, CEO Simple, sebuah bank online yang diakuisisi bank Spanyol BBVA pada tahun 2014. Ia menggambarkan invasi FinTech Big Tech sebagai “evolusi alami” untuk industrinya.
Sedangkan Chris Britt, CEO Chime, sebuah startup bank yang dilaporkan meraih valuasi swasta senilai USD 5 miliar. Ia mengatakan bahwa tren tersebut adalah bukti bahwa alternatif pengganti perbankan tradisional sangat diminati.
Melihat fenomena Big Tech ini, para pendiri FinTech justru antusias dengan dorongan perbankan Big Tech.
“Saya senang sekali dengan hal itu. Saya pikir ini luar biasa,” kata Brandon Krieg, CEO Stash, sebuah startup investasi digital yang berbasis di New York. Dia membuat perbandingan dengan industri kopi ritel, yang menurutnya bukan permainan zero-sum. “Starbucks tidak akan marah ketika warung kopi lain membuka kios,” katanya.
Jika melihat pada track record para raksasa teknologi ini, kemungkinan besar adalah Big Tech akan menang. Lihat saja Google telah berjuang selama bertahun-tahun untuk membuat terobosan dalam layanan keuangan. Meskipun Google Pay telah menjadi titik terang baru-baru ini, terutama di India.
Sementara Facebook masih mengalami kendala dalam upayanya mengedarkan Libra ke publik. Kemudian ada Amazon yang memutuskan untuk menunda bahkan membatalkan rencana menerbitkan rekening giro sendiri.
