FinTech India Butuh Teknologi Verifikasi Identitas
Meningkatnya digitalisasi layanan keuangan menimbulkan beberapa tantangan unik bagi bisnis, mulai dari pencurian identitas dan penyalahgunaan layanan hingga pencucian uang. Fidelity National Information Services, Inc (FIS) dalam laporan tahun kelimanya mengungkapkan terdapat hampir 96% responden India menjadi korban penipuan pada keuangan tahun lalu.

Acep Saepudin
Author


Image Source : Moneycontrol.com
(Istimewa)India-Meningkatnya digitalisasi layanan keuangan menimbulkan beberapa tantangan unik bagi bisnis, mulai dari pencurian identitas dan penyalahgunaan layanan hingga pencucian uang.
Fidelity National Information Services, Inc (FIS) dalam laporan tahun kelimanya mengungkapkan terdapat hampir 96% responden India menjadi korban penipuan pada keuangan tahun lalu.
Hal yang lebih mengkhawatirkan lagi mayoritas pemain FinTech baik konsumen maupun perusahaan belum menyadari pentingnya menjaga diri dari potensi penipuan finansial yang timbul dari pencurian identitas.
Menurut CEO Khosla Labs. Saru Tumuluri, FinTech di India, meskipun berada pada tahap baru lahir, telah menghadirkan peluang besar bagi perekonomian India. Pasar perangkat lunak FinTech India memiliki potensi mencapai 2,4 miliar dolar AS pada tahun 2020. Angka tersebut diungkap sebuah laporan tahun 2015 yang berjudul ‘Fintech in India: a Global Growth Story’ oleh KPMG di India dan NASSCOM 10000 Start-up.
“Dengan 2000+ startup yang beroperasi di sektor ini, India telah muncul sebagai salah satu hub FinTech terbesar di dunia. Didukung oleh banyak faktor, termasuk kebijakan regulasi yang menguntungkan. Kemudian populasi yang tinggi dan generasi baru wirausaha yang diberdayakan secara digital. Karena itulah industri FinTech siap menghadapi pasar,” jelas Tumuluri dilansir dari moneycontrol.com.
Menurut Tumuluri, penipuan identitas menjadi ancaman terbesar yang mengganggu sektor FinTech. Sementara Pemerintah India telah mengambil sejumlah langkah pencegahan untuk mengatasi masalah ini. Sementara sistem identitas saat ini tidak serta merta dapat memastikan keamanan pengiriman layanan keuangan.
Di sisi lain, bank dan lembaga keuangan terus mengandalkan pendekatan klasik untuk verifikasi identitas. Hal ini tidak sesuai dengan lanskap industri keuangan saat ini.
Tumuluri menjelaskan, solusi bagi masalah tersebut adalah terletak pada teknologi pendukung seperti AI (kecerdasan buatan). Juga machine learning untuk mencapai verifikasi identitas yang menyentuh konteks. Hal ini dapat melibatkan pengecekan akun secara real time, pengambilan dokumen ID, KYC berbasis Aadhaar. Juga dengan verifikasi biometrik, yaitu mengambil ‘selfie’ atau merekam catatan suara untuk dicocokkan dengan ID.
Dengan menggabungkan metode tradisional dengan metode kekinian seperti itu, perusahaan bisnis dan lembaga keuangan dapat mengakses dan menganalisis informasi yang berasal dari berbagai sumber. Juga yang berasal dari berbagai saluran digital untuk membuat keputusan keamanan yang lebih tepat waktu.
“Hal ini pada gilirannya, akan membantu mereka mengurangi kemungkinan penipuan identitas dan malpraktik,” tutup Tumuluri.
