Emiten Minuman Boba Ini Mau Dicaplok Perusahaan Singapura Berusia 3 Minggu
- Menariknya, ketika TrenAsia mencoba menggali informasi mengenai siapa itu Visionary Capital Global, tak banyak mendapatkan informasi. Berdasarkan Record Owl, laman yang berisikan informasi mengenai perusahaan yang terdaftar di Singapura, Visionary Capital Global baru berusia 23 hari. Tepatnya terdaftar pada 30 April 2025.

Ananda Astri Dianka
Author


JAKARTA - Perusahaan investasi asal Singapura, Visionary Capital Global Pte. Ltd., resmi mengumumkan rencana akuisisi atas emiten kedai minuman, PT Platinum Wahab Nusantara Tbk (TGUK).
Dalam keterbukaan informasi yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Visionary Capital Global menyatakan akan mengambil alih sekitar 69,34% saham TGUK yang saat ini dimiliki oleh PT Dinasti Kreatif Indonesia selaku pemegang saham mayoritas.
“Visionary Capital Global akan mengambil alih 69,34% saham TGUK yang dimiliki PT Dinasti Kreatif Indonesia,” demikian pernyataan resmi dalam keterbukaan informasi yang dirilis pada Jumat 23 Mei 2025.
Setelah transaksi rampung, Visionary Capital Global akan menjadi pengendali baru TGUK. Adapun tujuan dari pengambilalihan ini adalah untuk mendukung pengembangan dan ekspansi bisnis grup Visionary Capital Global.
Menariknya, ketika TrenAsia mencoba menggali informasi mengenai siapa itu Visionary Capital Global, tak banyak mendapatkan informasi. Berdasarkan Record Owl, laman yang berisikan informasi mengenai perusahaan yang terdaftar di Singapura, Visionary Capital Global baru berusia 23 hari. Tepatnya terdaftar pada 30 April 2025.
Proses negosiasi dan penyelesaian akuisisi dilakukan secara langsung antara pihak pembeli dan penjual. Saat ini, beberapa aspek dalam negosiasi masih dibahas, termasuk nilai akhir transaksi dan waktu penyelesaian akuisisi.
Visionary Capital Global juga menegaskan bahwa mereka tidak memiliki saham TGUK baik secara langsung maupun tidak langsung sebelum rencana ini diumumkan.
Sebagai pengendali baru TGUK nantinya, Visionary Capital Global diwajibkan untuk melaksanakan penawaran tender wajib (mandatory tender offer) sesuai ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam POJK No. 9/2018. Seluruh proses akuisisi dan penawaran tender wajib akan mengikuti regulasi yang berlaku di pasar modal Indonesia.
Saham TGUK Terbang Tinggi
Sebelum adanya pengumuman akuisisi hari ini, saham TGUK sempat mengalami kenaikan drastis hingga disuspensi Bursa Efek Indonesia. Otoritas bursa mulai menggembok saham TGUK pada sesi I perdagangan hari ini, Selasa, (21/5). Suspensi dilakukan di Pasar Reguler dan Pasar Tunai menyusul terjadinya peningkatan harga kumulatif yang signifikan dalam waktu singkat.
Pasalnya, pada penutupan perdagangan Senin (19/5) saham TGUK naik 6,73% atau 7 poin ke level Rp111 per lembar dari tidur panjang di Rp50 sejak (17/4).
Dalam sebulan terakhir, saham TGUK melonjak 88,14%, dan sepanjang tahun berjalan 2025 saham TGUK tercatat telah melonjak 122%. Setelah sehari disuspensi, BEI membuka perdagangan TGUK pada perdagangan sesi I Rabu (22/5).
Hari ini, saham TGUK kembali menyentuh batas auto reject atas (ARA) setelah kabar bakal diakuisisi. Hingga pukul 10.30 WIB, saham TGUK naik 34,31% ke Rp137 per saham, sehingga mendorong nilai kapitalisasi pasarnya menjadi Rp421 miliar.
Sekitar 900 ribu lot saham TGUK diperdagangkan hingga siang ini dengan nilai transaksi mencapai Rp11,6 miliar. Selama sesi intraday, sahamnya bergerak dalam rentang Rp102-Rp137. Dalam sebulan terakhir, harga saham TGUK telah menguat 136,21%, dan meningkat 174% sejak awal tahun 2025.
Laporan Keuangan TGUK
Tak sehijau kinerja sahamnya beberapa hari terakhir, TGUK ternyata punya rapor merah di laporan keuangannya. Berdasarkan laporan keuangan terakhir yang diumumumkan ke publik, yakni periode kuartal III-2024, TGUK justru tengah merugi.
Hingga September 2024, TGUK menelan kerugian sedalam Rp20,10 miliar. Padahal, pada periode yang sama tahun sebelumnya, perseroan masih mengantogi keuntungan sebanyak Rp4,15 miliar.
Kerugian ini merupakan imbas dari penjualan yang menyusut cukup banyak. Jika pada kuartal III-2023 penjualan TGUK mencapai Rp100,12 miliar, tapi pada kuartal III-2024 berkurang jadi Rp69,80 miliar.
Perseroan mengakui pelemahan daya beli masyarakat menjadi batu sandungan bisnis perseroan sejak tahun lalu. TGUK tercatat telah menutup lebih dari 100 gerainya hingga akhir 2024. Penutupan ratusan gerai brand teh boba lokal itu terjadi belum setahun sejak perseroan melantai di Bursa Efek Indonesia.
Sebagai informasi, TGUK mencatatkan sahamnya di BEI pada 10 Juli 2023 dengan meraup dana segar sekitar Rp65,14 miliar. Dalam waktu satu tahun setelah dibuka pada 2018, Teguk berhasil membuka 120 gerai di berbagai lokasi.
Pada saat penawaran saham perdana (IPO), TGUK sudah memiliki total 145 gerai dengan 143 milik perseroan dan 2 dari kemitraan. Gerai tersebar di Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga ke New York Amerika Serikat.
Namun, pada Desember 2024, Teguk melaporkan tinggal menyisakan 35 gerai. Dalam laporan paparan publik per 30 Desember 2024, Teguk menyisakan 26 gerai, 8 island, dan 1 gerai internasional di New York.

Ananda Astridianka
Editor
