Korporasi

Emiten Ini Berpotensi Backdoor Listing untuk Raksasa China CNGR Group

  • Jika aset CNGR dimasukkan ke dalam PACK, laba bersihnya dapat meningkat menjadi US$160 juta (sekitar Rp2,5 triliun).
IHSG Ditutup Menguat-2.jpg
Karyawan berkatifitas dengan latar layar monitor pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, 8 September 2022. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA – Saham PT Solusi Kemasan Digital Tbk (PACK) sedang menjadi perhatian investor. Dalam tiga bulan terakhir, harga sahamnya melambung hingga 1.143%, mencapai Rp510 per saham. Lonjakan ini terjadi setelah PACK diakuisisi oleh PT Eco Energi Perkasa (EEP).

Riset Indo Premier Sekuritas yang disusun oleh Ryan Winipta dan Reggie Parengkuan menyebutkan bahwa pada Oktober 2024, EEP mengakuisisi 49% saham Solusi Kemasan Digital. Pemilik manfaat utama EEP diduga adalah CNGR Group, perusahaan produsen prekursor asal China dengan pangsa pasar global sebesar 23%.

Informasi ini semakin diperkuat dengan keterbukaan informasi yang dirilis PACK pada 24 Desember 2024, yang menyatakan bahwa induk EEP berafiliasi dengan CNGR Advanced Material. Penerima manfaat utama akhirnya adalah Deng Weiming, seorang konglomerat China.

Rencana RUPSLB dan Perubahan Strategis

Sementara itu, PACK berencana menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 30 Desember 2024. Agenda rapat mencakup perubahan penggunaan dana hasil penawaran umum perdana, penerbitan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue, perubahan nama menjadi PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk, perubahan kegiatan usaha, dan peningkatan modal.

Manajemen PACK menjelaskan bahwa perubahan kegiatan usaha ini bertujuan untuk menyelaraskan bisnis perseroan dengan fokus PT Eco Energi Perkasa sebagai pengendali baru. EEP, yang bergerak di bidang perdagangan besar logam dan bijih logam, berencana memperluas operasinya di Indonesia. Ekspansi ini akan melibatkan PACK, baik secara langsung maupun melalui entitas anak, dalam bisnis perdagangan besar dan pengangkutan logam serta bijih logam.

Ekspansi Bisnis Nikel

Saat ini, PACK memiliki empat anak perusahaan: PT Adhi Prakasa Raya (APR), PT Gemilang Padma Raya (GPR), PT Sumber Cahaya Raya (SCR), dan PT Awal Kemuliaan Indonesia (AKI). APR, GPR, dan SCR adalah perusahaan holding yang berinvestasi di industri nikel, sedangkan AKI fokus pada perdagangan besar logam dan bijih logam.

Menurut riset Indo Premier, ada indikasi bahwa CNGR sedang melakukan backdoor listing melalui PACK. Hal ini didasarkan pada dua faktor utama. Pertama, pengalaman direksi dan dewan komisaris baru PACK yang terkait dengan PT Zhong Tsing New Energy, entitas yang berafiliasi dengan CNGR. Kedua, rencana PACK untuk memperluas bisnis ke perdagangan logam dan nikel, yang sejalan dengan portofolio aset CNGR di Indonesia.

Rights Issue dan Proyeksi Keuangan

PACK sedang mengajukan persetujuan untuk menerbitkan hingga 100 miliar saham baru melalui HMETD dalam 12 bulan ke depan. Jika rights issue ini terlaksana, pemegang saham lama yang tidak berpartisipasi akan terdilusi hingga 98%, dengan rasio 1:63 antara saham lama dan baru.

Indo Premier memperkirakan bahwa pada tahun fiskal 2025, PACK dapat mencatat pendapatan bersih sekitar Rp5,3 triliun dengan laba bersih sebesar Rp346 miliar, yang mencerminkan margin bersih sebesar 7%. Pendapatan ini diperkirakan berasal dari aset yang akan disuntikkan melalui dana hasil rights issue.

Jika aset CNGR dimasukkan ke dalam PACK, laba bersihnya dapat meningkat menjadi US$160 juta (sekitar Rp2,5 triliun). Dengan P/E ratio 8x, kapitalisasi pasar PACK dapat mencapai Rp20 triliun, jauh lebih besar dibandingkan kapitalisasi pasar saat ini sebesar Rp653 miliar. 

Namun, rincian lebih lanjut baru akan tersedia setelah prospektus resmi diterbitkan, dan belum ada kepastian bahwa seluruh aset CNGR akan disuntikkan ke dalam PACK. Tak ayal, aksi korporasi emiten ini menarik disimak kisahnya!