Tren Pasar

Emas Meledak ke Rekor Tertinggi, Prediksi 2026 Bisa Sentuh Rp2,33 Juta/Gram!

  • Reli harga emas dunia tak terbendung. Rekor baru tercipta, proyeksi 2026 diprediksi bikin emas Antam bisa tembus Rp2,33 juta per gram.
Harga Emas Pegadaian .jpg
Karyawan menunjukkan emas batangan di Galeri 24 Pegadaian, Jakarta, Rabu, 23 Maret 2022. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Reli harga emas global belum mereda. Pada perdagangan Senin (22/9) pukul 13.30 WIB, harga emas spot dunia kembali menembus rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) di level US$3.717 per ons secara intraday. Capaian ini mengalahkan rekor sebelumnya yang tercatat US$3.707,70 per ons pada 17 September lalu.

Sebelumnya, harga emas sempat terkoreksi karena aksi ambil untung usai pengumuman penurunan suku bunga Amerika Serikat (AS). Namun, logam mulia kembali melesat seiring meningkatnya permintaan investor. Berdasarkan data Investing.com, harga emas spot dunia telah naik sekitar 41,7% sejak awal 2024. Pada akhir tahun lalu, harga emas masih berada di level US$2.623,81 per ons, sehingga secara akumulatif sudah melonjak sekitar US$1.094 per ons. Banyak analis memperkirakan tren kenaikan ini masih akan berlanjut hingga tahun depan.

Revisi proyeksi harga emas juga datang dari Deutsche Bank. Dalam laporan yang dikutip Reuters (17/9), bank investasi asal Jerman tersebut memperkirakan harga emas pada 2026 akan berada di rata-rata US$4.000 per ons, lebih tinggi dari estimasi sebelumnya sebesar US$3.700. Proyeksi itu didorong oleh meningkatnya permintaan emas dari bank sentral, terutama Tiongkok, potensi pelemahan dolar AS, serta siklus pemangkasan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).

Selain faktor eksternal, Deutsche Bank juga menyoroti ketidakpastian arah kebijakan moneter AS. Presiden Donald Trump dinilai berupaya memperbesar pengaruh terhadap independensi The Fed, sehingga menambah ketidakpastian. Dari sisi fundamental, pembelian emas resmi tercatat dua kali lipat di atas rata-rata periode 2011–2021, sementara pasokan emas daur ulang justru turun 4%. Kendati demikian, Deutsche Bank tetap mengingatkan adanya risiko pelemahan harga emas pada kuartal IV karena faktor musiman, reli pasar saham, dan potensi The Fed menahan suku bunga lebih lama pada 2026.

Harga emas spot dunia pada Senin sore (22/9) tercatat di posisi US$3.691,95 per ons atau naik tipis 0,19% dibanding perdagangan sebelumnya. Sementara di dalam negeri, harga emas digital di platform Bareksa tercatat Rp2.026.005 per gram atau sedikit lebih rendah dari harga normal Rp2.036.185 per gram. Emas Pegadaian dipatok Rp2.039.000 per gram, emas Indogold Rp2.001.048 per gram, sedangkan emas batangan Antam berada di level Rp2.123.000 per gram.

Dengan kurs rupiah di kisaran Rp16.610 per dolar AS, prediksi harga emas dunia di level US$4.000 per ons setara dengan Rp2,14 juta per gram. Mengingat harga emas digital dalam negeri biasanya hanya selisih tipis sekitar 0,5% dari harga spot, maka berpotensi menembus Rp2,15 juta per gram. Adapun emas batangan Antam yang umumnya diperdagangkan dengan premi 8% diperkirakan bisa mencapai Rp2,33 juta per gram.

Harga emas dalam negeri cenderung lebih tinggi dibanding harga spot global karena adanya biaya pengolahan seperti refining dan pencetakan batangan, distribusi, sertifikat LM, margin dealer, serta faktor permintaan dan pasokan. Jika dibandingkan dengan kondisi saat ini, harga emas digital di dalam negeri masih memiliki potensi kenaikan sekitar 6,5% hingga 7,5%.