Emas, Kripto, Saham Kompak Anjlok, Simak Perkembangannya
- Pasar global bergejolak akhir Januari 2026. Bitcoin jatuh ke US$76.687, emas terkoreksi tajam, IHSG melemah di tengah risiko resesi dan suku bunga tinggi.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Pasar keuangan global memasuki fase volatilitas tinggi pada pekan terakhir Januari 2026. Gejolak kali ini tidak hanya terjadi pada satu instrumen, tetapi menghantam berbagai kelas aset secara bersamaan, mulai dari Bitcoin dan aset kripto, emas, hingga pasar saham.
Kondisi tersebut mencerminkan meningkatnya ketidakpastian kebijakan moneter global, tekanan inflasi yang masih bertahan, serta perubahan sentimen risiko investor.
Situasi ini menjadi ujian berat bagi pelaku pasar, khususnya investor muda, di tengah lingkungan suku bunga tinggi dan ketegangan geopolitik global yang belum sepenuhnya mereda.
Bitcoin Tertekan Likuidasi Leverage
Tekanan paling terasa terjadi di pasar kripto. Harga Bitcoin (BTC) tercatat turun menembus level US$76.687 per tanggal 2 Februari 2026, pukul 15.00 WIB, yang merupakan posisi terendah sejak April 2025.
Pelemahan ini diperparah oleh likuidasi posisi long berleverage senilai lebih dari US$500 juta dalam waktu 24 jam, mencerminkan besarnya aksi deleveraging di pasar.
Tekanan jual dipicu oleh beberapa faktor utama, antara lain arus keluar dana dari ETF Bitcoin spot, meningkatnya aksi ambil untung, serta kekhawatiran pelaku pasar terhadap arah kebijakan Federal Reserve yang dinilai berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Meski demikian, data on-chain menunjukkan adanya peningkatan jumlah dompet baru dari investor ritel, mengindikasikan sebagian pelaku pasar justru memanfaatkan koreksi harga sebagai peluang akumulasi.
Baca juga : Apa Arti Kepemimpinan Friderica di OJK bagi Investor Muda?
Emas Alami Koreksi Tajam
Tidak hanya kripto, emas yang sebelumnya menikmati reli panjang sepanjang 2025 juga mengalami tekanan signifikan. Harga emas spot tercatat turun sekitar 4 persen ke level US$4.585 per ons pada perdagangan 2 Februari 2026, bahkan sempat anjlok hingga 9,8 persen dalam satu hari pada 30 Januari 2026, yang menjadi penurunan harian terdalam sejak 1983.
Koreksi tajam ini dipicu oleh penguatan dolar AS, aksi ambil untung setelah harga emas menyentuh rekor tertinggi, serta sentimen pasar terhadap nominasi calon ketua The Fed yang dipersepsikan memiliki sikap lebih agresif dalam memerangi inflasi.
Sejumlah analis menilai area US$4.400 per ons berpotensi menjadi level koreksi berikutnya apabila tekanan dolar AS berlanjut.
IHSG Ikut Terkoreksi
Di dalam negeri, tekanan global turut berdampak pada pasar saham Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 1,76 persen ke level 8.183 pada pekan terakhir Januari 2026.
Pelemahan tersebut berlanjut pada tanggal 2 Februari 2026, dengan ditutup melemah 5,31 % ke angka 7887 pada penutupan perdagangan sesi 1. Pelemahan terutama terjadi pada saham-saham sektor tambang dan emas yang sensitif terhadap pergerakan harga komoditas global.
Selain faktor eksternal, koreksi IHSG juga dipengaruhi sentimen internal, terutama kekhawatiran investor global terkait transparansi data serta kepastian regulasi pasar modal Indonesia, yang kembali menjadi sorotan dalam beberapa pekan terakhir.
Konteks Global : Valuasi Tinggi dan Risiko Resesi
Dari sisi global, Ketua Federal Reserve Jerome Powell menilai valuasi pasar saham Amerika Serikat, khususnya indeks S&P 500, berada pada level yang relatif tinggi. Meski demikian, sejumlah bank investasi besar masih mempertahankan pandangan positif untuk pasar saham dalam jangka menengah.
JP Morgan, misalnya, memperkirakan risiko resesi Amerika Serikat dan global pada 2026 berada di kisaran 35 persen. Namun demikian, bank tersebut tetap memproyeksikan pertumbuhan laba saham global dua digit, yang didorong oleh ekspansi teknologi, terutama di sektor kecerdasan buatan (AI) dan otomasi.
Dalam kondisi volatilitas tinggi seperti saat ini, para analis menekankan pentingnya kedisiplinan dan manajemen risiko. Investor diimbau untuk tidak mengambil keputusan berdasarkan emosi, menghindari panic selling, serta menerapkan diversifikasi portofolio agar risiko tidak terkonsentrasi pada satu kelas aset.
Baca juga : Babak Baru BEI: Demutualisasi dan Peran Danantara
Strategi investasi berkala atau dollar-cost averaging (DCA) dinilai relevan untuk meredam dampak fluktuasi harga, sekaligus membantu investor tetap konsisten terhadap tujuan finansial jangka panjang, seperti dana pendidikan, pembelian rumah, maupun persiapan pensiun.
Ke depan, volatilitas diperkirakan masih akan mewarnai pergerakan pasar keuangan global. Untuk aset kripto dan emas, koreksi saat ini dinilai sebagai fase penyesuaian setelah reli yang terlalu cepat, meskipun tren jangka panjang tetap didukung oleh adopsi aset digital dan permintaan emas oleh bank sentral dunia.
Sementara itu, pasar saham global masih memiliki peluang pertumbuhan yang ditopang oleh inovasi teknologi, meski dibayangi risiko valuasi tinggi dan potensi perlambatan ekonomi. Bagi pasar domestik, kejelasan regulasi dan peningkatan transparansi menjadi faktor kunci untuk memulihkan kepercayaan investor.
Koreksi serentak pada Bitcoin, emas, dan saham di akhir Januari 2026 menegaskan bahwa tidak ada kelas aset yang sepenuhnya kebal terhadap guncangan global. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa volatilitas merupakan bagian dari siklus pasar.
Dengan pendekatan disiplin, diversifikasi yang tepat, serta fokus pada tujuan jangka panjang, investor tidak hanya diharapkan mampu bertahan di tengah gejolak, tetapi juga memanfaatkan fase koreksi sebagai peluang membangun portofolio yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Muhammad Imam Hatami
Editor
