Tren Ekbis

Ekonom: Dapat Subsidi, Masyarakat Tetap akan Tahan Konsumsi

  • JAKARTA – Direktur Riset Center of Reforms on Economic (CORE) Indonesia Piter Abdullah menyebut cairnya gaji ke-13 untuk Aparatur Sipil Negara (ASN) serta...

JAKARTA – Direktur Riset Center of Reforms on Economic (CORE) Indonesia Piter Abdullah menyebut cairnya gaji ke-13 untuk Aparatur Sipil Negara (ASN) serta tambahan gaji bagi pegawai swasta tidak serta merta membuat konsumsi masyarakat tumbuh.

Pasalnya, meskipun telah mendapatkan insentif, Piter memprediksi masyarakat cenderung menahan konsumsi, utamanya, konsumsi barang-barang sekunter atau mewah. Artinya, program-program pemerintah yang bersifat bantuan sosial (bansos) hanya membantu menahan penurunan daya beli.

“Tidak bisa menggantikan semua income yang hilang, artinya daya beli tetap turun, konsumsi tetap turun,” kata Piter saat dihubungi TrenAsia.com, Selasa, 11 Agustus 2020.

Piter menjelaskan bahwa dua faktor penyebab penurunan konsumsi adalah menurunnya daya beli masyarakat akibat pemutusan hubungan kerja (PHK) atau dibatasinya kegiatan usaha. Selain itu, adanya kecenderungan menahan konsumsi meskipun masyarakat masih memiliki daya beli.

Terlebih, saat ini masyarakat lebih cenderung menjaga kestabilan ekonomi di tengah ketidakpastian perekonomian akibat pandemi COVID-19. Sehingga, program-program pemerintah tersebut tidak akan bisa mengembalikan konsumsi ke level normal selama wabah masih berlangsung.

“Tapi bukan berarti program pemerintah tersebut tidak berguna dan tidak perlu.”

Berbagai Stimulus

Sebagaimana diketahui, pemerintah resmi membayarkan gaji dan pensiun ke-13 ASN mulai, Senin, 10 Agustus 2020 sebagai langkah stimulus perekonomian nasional.

Kemudian, pemerintah juga telah merilis program stimulus teranyar yaitu bantuan senilai Rp2,4 juta kepada 13 juta pekerja swasta dengan gaji di bawah Rp5 juta per bulan.

Adapun, kaitannya sebagai salah satu instrumen pencegah resesi ekonomi, Piter mengatakan gelontoran stumulus tidak mampu sepenuhnya menyelamatkan Indonesia dari ancaman resesi.

Dengan penyebaran virus yang berkelanjutan, dia mengatakan bahwa proyeksi pertumbuhan pada kuartal III-2020 akan tetap kontraksi.

“Selama masih ada wabah, seluruh kebijakan tidak akan efektif untuk mendongkrak ekonomi. Ini terjadi tidak hanya di Indonesia, akan tetapi semua negara pun merasakan yang sama. Jadi, resesi tidak bisa dihindari,” sebut Piter.

Meski ancaman resesi terasa sulit dihindari, Piter menegaskan bahwasannya resesi bukan suatu kondisi yang harus ditakuti. Menurutnya, yang terpenting adalah menjaga keberlangsungan usaha dan mengantisipasi strategi pemulihan yang tepat untuk mempercepat Indonesia keluar dari resesi.