Efek Bahlil Pangkas RKAB Nikel, Saham NCKL Cs Layak Kejar?
- Efek Bahlil pangkas RKAB 34%, harga nikel & saham tambang bangkit. Simak rekomendasi saham dan target kinerja INCO, ANTM, hingga MBMA di sini.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Saham sektor pertambangan di Bursa Efek Indonesia mendadak panas pada perdagangan hari ini, Kamis, 8 Januari 2026. Tidak tanggung-tanggung saham PT Ifishdeco Tbk (IFSH) memimpin lonjakan menyentuh batas Auto Rejection Atas. Penguatan signifikan juga dialami pemain besar seperti PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM).
Pesta pora di lantai bursa ini dipicu oleh sentimen global yang sangat bullish. Harga nikel dunia akhirnya sukses menembus level psikologis baru. Kontrak nikel tiga bulan di LME tercatat meroket ke level US$18.524 per ton, mencetak rekor tertinggi dalam 15 bulan terakhir perdagangan.
Momentum kenaikan harga ini tidak lepas dari manuver strategis Pemerintah Indonesia. Rencana Kementerian ESDM memangkas kuota produksi dalam RKAB 2026 sebesar 34% dinilai pasar sebagai langkah ampuh mengerem oversupply. Kebijakan ini langsung direspons positif investor yang memburu saham tambang dengan ekspektasi lonjakan kinerja keuangan emiten.
1. IFSH ARA, Big Caps Menggila
Hingga sesi pertama berakhir pukul 10.55 WIB, saham PT Ifishdeco Tbk (IFSH) memimpin reli dengan lonjakan 24,19% ke Rp1.155, menyentuh batas ARA. Saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mengekor dengan kenaikan 12,89% ke level Rp6.350, sementara PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menguat 12,17% ke Rp3.870 per saham.
Tak mau kalah, PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel lompat 12,31% ke Rp1.460. Saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) naik 8,33% ke Rp715, diikuti DKFT yang menguat 6,77%. Kenaikan merata ini menunjukkan optimisme investor yang sangat tinggi terhadap prospek sektoral.
2. Harga Global Tembus US$18.000
Katalis utama pesta saham ini adalah harga nikel dunia yang akhirnya pecah telur. Kontrak nikel di LME ditutup pada level US$18.524 per ton pada 6 Januari 2026, level tertinggi pertama kalinya sejak Mei 2024. Harga ini melonjak hampir 40% hanya dalam kurun waktu tiga minggu terakhir perdagangan.
Kenaikan harga drastis ini terjadi di tengah berkurangnya pasokan global secara signifikan. Indonesia sebagai produsen terbesar dunia memegang kendali penuh atas dinamika harga ini. Pasar bereaksi cepat terhadap sinyal bahwa era pasokan murah nikel Indonesia akan segera berakhir akibat kebijakan pembatasan produksi pemerintah.
3. Bahlil Pangkas RKAB 34%
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan strategi pemerintah untuk mendongkrak harga. Dalam RKAB 2026, pemerintah mengusulkan pengurangan produksi nikel sebesar 34%. Langkah ini diambil untuk mengerem laju oversupplyyang membuat harga komoditas sempat hancur lebur tahun lalu, sekaligus menjaga umur cadangan nikel nasional.
Selain pertimbangan harga, Bahlil menekankan bahwa RKAB digunakan sebagai instrumen penertiban. Pemerintah ingin memastikan cadangan mineral tetap tersedia untuk masa depan dan hanya perusahaan yang patuh terhadap aturan lingkungan yang boleh beroperasi. Ini adalah langkah pengekangan pasokan terbesar sejak pelarangan ekspor bijih tahun 2020.
4. Proyeksi Laba MBMA Meroket
Prospek kinerja keuangan emiten nikel tahun ini diramal cerah. Mengutip riset Stockbit Sekuritas, laba bersih MBMA diproyeksikan tumbuh paling kencang hingga 316% secara tahunan (year on year) pada 2026, mencapai angka fantastis US35 juta pada tahun sebelumnya.
Sementara itu, laba bersih INCO pada 2026 diprediksi melesat 106% menjadi US$160 juta. Adapun NCKLdiproyeksikan membukukan pertumbuhan laba bersih stabil sebesar 20% menjadi Rp10 triliun. Kenaikan harga jual rata-rata produk nikel menjadi pendorong utama perbaikan kinerja fundamental emiten-emiten raksasa tersebut.
5. Stockbit: Valuasi Murah tapi Dinamis
Dari sisi valuasi, Stockbit menilai NCKL paling atraktif dengan P/E 8,9 kali, dibanding INCO (22,2x) dan MBMA (39,9x). Namun, investor wajib waspada. "Perlu dicatat, proyeksi tersebut bersifat dinamis, seiring perkembangan guidance 2026F volume produksi bijih nikel maupun produk hilir," tegas Stockbit Sekuritas.
Dalam risetnya pada 8 Januari 2026, Stockbit mengingatkan bahwa angka-angka tersebut bisa berubah mengikuti asumsi harga jual rata-rata produk. Termasuk juga realisasi produksi dari masing-masing emiten, baik itu feronikel (NPI), nickel matte, maupun MHP yang menjadi bahan baku utama baterai kendaraan listrik di masa depan.

Alvin Bagaskara
Editor
