Edukasi Dini di Sekolah Bantu Cegah Anak Jadi Perokok
JAKARTA – Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia (SKSG UI) menyebut, edukasi dini terkait bahaya rokok dapat menekan peluang anak menjadi perokok pemula. Renny Nurhasana selaku Ketua Pengmas SKSG UI mengusulkan pemberian materi mengenai bahaya rokok konvensional dan rokok elektronik, terutama pada rokok elektronik yang memiliki variasi baru di sekolah. “Proses penyampaian materi pun […]

Ananda Astri Dianka
Author


Ilustrasi pedagang rokok eceran / Bungkusrokok.com
(Istimewa)JAKARTA – Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia (SKSG UI) menyebut, edukasi dini terkait bahaya rokok dapat menekan peluang anak menjadi perokok pemula.
Renny Nurhasana selaku Ketua Pengmas SKSG UI mengusulkan pemberian materi mengenai bahaya rokok konvensional dan rokok elektronik, terutama pada rokok elektronik yang memiliki variasi baru di sekolah.
“Proses penyampaian materi pun dibuat semenarik mungkin melalui pemaparan dan video yang dapat memudahkan dalam memahami materi. Serta, menghadirkan pembicara pada bidang pengendalian konsumsi rokok,” katanya dalam keterangan resmi, Selasa, 8 November 2020.
- Cara Menghilangkan Kecemasan Saat Rapat Online
- Tips Bekerja dari Rumah atau WFH Ketika Kasus COVID-19 Kembali Naik
- Tandatangani Kontrak, David Guetta Resmi Bergabung dengan Warner Music
Sebagaimana diketahui, semua pihak termasuk industri rokok sepakat bahwa produk rokok tidak diperuntukkan untuk anak di bawah 18 tahun. Sayangnya, konsumsi rokok di Indonesia dilaporkan masih tinggi, yaitu sebesar 33,8%.
Angka tersebut didominasi perokok laki-laki dewasa, yakni sebesar 62,9%. Perokok anak dari 7,2% pada 2013 menjadi 9,1% pada 2018 menurut data Riset Kesehatan Dasar 2018.
Data terbaru Global Youth Tobacco Survey (GYTS) 2019 menunjukkan, siswa perokok usia 13-15 tahun menjadi 40,6% (2019). Jumlah ini meningkat dibandingkan dengan 2014 sebanyak 34%.
- Anies Baswedan Tunggu Titah Jokowi untuk Tarik Rem Darurat hingga Lockdown
- Cegah Ledakan Kasus COVID-19, Pemerintah Geser dan Hapus Hari Libur Nasional Ini
- Penyaluran KPR FLPP: BTN Terbesar, Tiga Bank Daerah Terbaik
Sementara untuk pelajar yang tidak pernah merokok (sebesar 7,9%) sangat rentan terhadap tawaran atau keinginan mulai merokok di masa mendatang.
“Edukasi bahaya rokok sejak dini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan komitmen para pelajar untuk terhindar dari jerat candu rokok di masa depan.”
Akses Informasi Rokok
Penelitian Tobacco Control Support Centre–Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC-IAKMI) 2017 menunjukkan, informasi terkait rokok diakses oleh masyarakat umum lebih melalui TV (83,1%). Disusul banner (77,5%), dan billboard (69,9%).
- 11 Bank Biayai Proyek Tol Serang-Panimbang Rp6 Triliun
- PTPP Hingga Mei 2021 Raih Kontrak Baru Rp6,7 Triliun
- Rilis Rapid Fire, MNC Studios Milik Hary Tanoe Gandeng Pengembang Game Korea
Selain itu, remaja di bawah 18 tahun mengakses rokok melalui internet sebesar 45,7%. Angka tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan keterpaparan kelompok dewasa melalui internet (38%).
Hasil penelitian tersebut juga menunjukkan adanya hubungan antara paparan iklan rokok pada beberapa media dengan status merokok pada anak dan remaja di bawah usia 18 tahun. (SKO)
