Dunia

Dunia di Ambang Defisit 4,7 Juta Metrik Ton Tembaga

  • Trafigura Group dan CRU Group memprediksi pasokan tembaga dunia akan defisit pada tahun 2030

<p>Sumber: Flickr/Municipalidad Antofagasta</p>

Sumber: Flickr/Municipalidad Antofagasta

(Istimewa)

JAKARTA-Trafigura Group dan CRU Group memprediksi pasokan tembaga dunia akan defisit pada tahun 2030.

Mengutip dari laman Mining, CRU Group menyampaikan bahwa defisit suplai atau kekurangan pasokan atas tembaga akan mencapai 4,7 juta metrik ton pada 10 tahun mendatang. Industri tembaga perlu menghabiskan sekitar US$100 miliar atau sekitar Rp1.400 triliun untuk menutupi defisit tersebut.

CEO Trafigura Group Lte, Jeremy Weir mengatakan bahwa defisit pasokan tembaga akan mencapai 10 juta ton jika tidak ada pembukaan pertambangan baru.

Oleh karena itu, industri tembaga memerlukan pembangunan yang setara dengan delapan proyek raksasa pertambangan Escondida di Cile.

“Kita melihat defisit signifikan, mungkin memerlukan 10 juta ton tembaga untuk menyeimbangkan pasar 2030,” ujar Jeremy Weir melansir dari Reuters.

Tembaga merupakan salah satu bahan yang penting untuk pengembangan energi terbarukan serta kendaraan listrik. Oleh karena itu jika produsen tembaga gagal menyelesaikan defisit tersebut, maka harga tembaga akan terus naik.

Hal itu tentu menyulitkan pemimpin dunia yang mengandalkan energi terbarukan dalam menangani perubahan iklim.

Harga tembaga yang lebih tinggi juga akan memaksa sejumlah negara untuk menggantinya dengan alternatif lain seperti alumunium.

“Meningkatnya kompleksitas teknis dan penundaan persetujuan dapat mengakibatkan kelangkaan proyek pada 2025-2030,” ucap Grant Sporre analis Bloomberg Intelligence.

Freeport-McMoran yang sedang mengembangkan tambang bawah tanah di Grasberg, diharapkan dapat menanggulangi persediaan tembaga yang terganggu akibat pandemi.

Selain itu, perusahaan tambang Kanada, Ivanhoe Mines juga sedang mengerjakan beberapa proyeknya di Kamoa-Kakula Republik Demokratik Kongo.