Dua Hari Perang, AS Habiskan Amunisi Senilai Rp94 Triliun
- Beberapa ahli memperkirakan harga minyak bisa mencapai US$150 per barel pada akhir Maret.

Amirudin Zuhri
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID-Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan menggunakan amunisi senilai lebih dari US$5,6 miliar atau sekitar Rp 94 triliun dalam dua hari pertama perang melawan Iran.
Jumlah yang sangat besar ini menimbulkan kekhawatiran lebih lanjut di Capitol Hill tentang seberapa cepat Departemen Pertahanan AS menghabiskan sistem senjata canggih. Ini termasuk amunisi berpemandu presisi jarak jauh yang digunakan secara luas dalam beberapa hari pertama perang.
Hal itu diungkapkan dua orang yang mengetahui penilaian yang diberikan Pentagon kepada Kongres pada Senin 9 Maret 2026.
AS dan sekutunya juga mengerahkan sejumlah besar amunisi pertahanan udara untuk menembak jatuh rudal balistik dan drone Iran yang datang. Menurut Senator Demokrat Arizona, Mark Kelly, Teheran memiliki persediaan rudal yang sangat besar.
Kelly mengatakan para senator akan terus mengajukan pertanyaan kepada para pemberi informasi secara tertutup hari ini tentang biaya konflik per hari bagi AS.
Baca juga: Dolar Mengamuk Minyak Meledak IHSG Sekarat, Investor Harus Apa?
Beberapa sumber di Kongres mengatakan kepada CNN bahwa perang yang sedang berlangsung berarti pemerintah kemungkinan besar akan segera perlu meminta pendanaan tambahan dari Kongres untuk memproduksi lebih banyak amunisi. "Itulah pertarungan besar berikutnya," kata seorang ajudan Kongres.
Hara Minyak Bisa US$150 per Barel
Di bagian lain perang AS-Israel dengan Iran telah memicu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah, karena Selat Hormuz yang sangat penting tetap tertutup. Beberapa ahli memperkirakan harga minyak bisa mencapai US$150 per barel pada akhir Maret.
Amena Bakr, kepala Divisi Energi Timur Tengah dan Wawasan OPEC+ di perusahaan analitik Kpler, mengatakan kepada Becky Anderson dari CNN, “Jika kita melihat terus berlanjutnya penyumbatan selat seperti ini… harga minyak dapat dengan mudah naik hingga level tersebut.”
Meskipun harga minyak turun di bawah US$100 menyusul sinyal yang beragam dari Presiden Donald Trump tentang kapan konflik akan berakhir, Bakr menyarankan kehati-hatian karena sejumlah eksportir minyak Timur Tengah telah menghentikan produksi karena ancaman keamanan di selat tersebut.
Bakr mengatakan bahwa jaminan presiden baru-baru ini bahwa kapal-kapal yang melewati selat tersebut akan dibantu oleh kapal-kapal angkatan laut AS tidak banyak memotivasi penggunaan jalur transportasi utama tersebut.
“Kita tidak melihat kapal-kapal tiba-tiba menjadi jauh lebih berani dalam semalam. Dan menyeberangi selat hanya karena Trump memberi tahu kita bahwa dia hampir mengakhiri konflik,” tambahnya, “itu belum memulihkan kepercayaan di pasar.”
Gelombang serangan juga menargetkan Teluk Persia semalam hingga Selasa, menurut laporan beberapa negara. Di Bahrain serangan menyebabkan kebakaran di salah satu kilang minyak terbesar di kawasan itu.
Kementerian Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA) mengatakan bahwa pertahanan udara UEA merespons serangan rudal dan drone semalam dan pada Selasa siang waktu setempat. Serangan kedua tersebut menyebabkan kebakaran di Kompleks Industri Ruwais, pusat produksi minyak dan gas utama di Abu Dhabi. Konsulat UEA di Kurdistan Irak juga menjadi sasaran serangan yang menyebabkan "kerusakan material" tetapi tidak ada laporan korban luka, kata kementerian luar negeri.
Di Bahrain , seorang wanita berusia 29 tahun tewas dan delapan lainnya terluka setelah serangan Iran menghantam sebuah bangunan tempat tinggal di ibu kota Manama, kata kementerian dalam negeri negara itu pada Selasa dini hari. Di Arab Saudi, sistem pertahanan udara mencegat sebuah rudal balistik dan 17 pesawat tak berawak semalam, menurut kementerian pertahanan negara tersebut.
Pasukan Kuwait mengatakan semalam bahwa sistem pertahanan udaranya mencegat rudal dan drone, kemudian menambahkan bahwa mereka menembak jatuh dua rudal balistik dan sebuah drone pada hari Senin.
Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengatakan Selasa 10 Maret akan menjadi hari paling intens serangan AS terhadap Iran sejauh ini. Serangan akan mengerahkan pesawat tempur terbanyak, pesawat pembom terbanyak, dan serangan terbanyak.
Dia juga mengatakan Iran telah menembakkan jumlah rudal paling sedikit dalam periode 24 jam sejak perang dimulai.
Mengamini pesan tersebut, Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine mengatakan: "Serangan rudal balistik terus menunjukkan tren penurunan, 90% dari titik awalnya. Sementara drone serang satu arah telah berkurang 83% sejak awal operasi."
Caine juga mengatakan Amerika sedang mempertimbangkan berbagai opsi yang memungkinkan militer untuk mengawal kapal melalui Selat Hormuz.
