Dosen Binus Sebut Kripto Mirip Bisnis Burung Perkutut
- Kasus Timothy Ronald jadi sorotan. Dosen Binus sebut kripto mirip fenomena 'Burung Perkutut' di tengah 29 juta token hantu.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Kasus dugaan penipuan investasi yang menjerat financial influencer Timothy Ronald pada awal Januari 2026 menjadi tamparan keras bagi ekosistem keuangan digital nasional. Di balik laporan kerugian miliaran rupiah dan janji keuntungan fantastis, tersimpan fenomena sosiologis yang jauh lebih mendalam.
Timothy Ronald, dengan personal branding "Raja Kripto" dan narasi "keluar dari matrix", berhasil membius pengikutnya dengan mimpi mobilitas sosial instan. Ia tidak hanya menjual aset digital, tetapi juga memanipulasi keputusasaan ekonomi anak muda yang merasa terpinggirkan oleh instrumen investasi konvensional.
Namun, ketika pasar berbalik arah dan kerugian melanda, pertanyaan mendasar mencuat: Mengapa instrumen fluktuatif ini dipercaya layaknya agama baru oleh Generasi Z? Jawabannya melampaui sekadar literasi keuangan, menyentuh aspek psikologis rapuh dan fundamental pasar yang disebut ahli sebagai fenomena "Burung Perkutut".
Analogi "Burung Perkutut": Kritik Fundamental
Dosen Universitas Bina Nusantara (Binus), Doddy Afiento, memberikan pandangan menohok terkait fenomena ini. Dalam wawancara dengan TrenAsia.id, Rabu, 14 Januari 2026, Doddy menilai euforia kripto saat ini tak ubahnya tren hobi musiman yang irasional.
Ia secara tegas membedakan antara "investasi" pada saham yang memiliki landasan bisnis, dengan "spekulasi" pada kripto yang nilainya murni digerakkan oleh persepsi. "Saya pribadi menggolongkan kripto itu masih tanda tanya besar untuk pasar keuangan. Saya sering menyamakan kripto itu seperti lukisan, burung perkutut, atau tanaman hias. Sangat subjektif naik turunnya," ujar Doddy.
Analogi "Burung Perkutut" ini menggambarkan kerapuhan valuasi. Seekor perkutut bisa berharga ratusan juta hanya karena "suaranya" disukai komunitas, namun nilai ekonomi riilnya sulit diukur. Hal sama terjadi pada token kripto yang "digoreng" influencer.
"Kalau saham itu perusahaan. Dia hidup, jualan, ada wujudnya. Kita bisa hitung nilai wajarnya (fair value) dari laporan keuangan. Kalau kripto jualan apa? Hanya isu tebak-tebakan," tegasnya.
Lautan Aset Spekulatif: 29 Juta Token 'Hantu'
Kritik Doddy mengenai ketiadaan fundamental ini semakin beralasan jika melihat data jumlah token yang membanjiri pasar saat ini. Tanpa regulasi ketat, siapa pun bisa mencetak uang digital mereka sendiri.
Berdasarkan data terbaru per awal 2026 yang dihimpun dari on-chain analytics, total token kripto yang pernah dibuat—termasuk yang gagal atau sekadar iseng, mencapai angka yang sangat masif, yakni sekitar 29,9 juta token. Ledakan angka ini dipicu oleh kemudahan pembuatan token instan melalui platform seperti Pump.fun di Solana atau Clanker di Base.
Namun, realitas likuiditasnya jauh lebih sempit. Jika disaring berdasarkan token yang benar-benar terdaftar dan aktif di pelacak pasar utama seperti CoinMarketCap atau CoinGecko, angkanya menyusut drastis ke kisaran 17.000 hingga 30.000 aset saja. Artinya, mayoritas sisanya adalah aset "zombie" atau koin meme tanpa nilai yang siap memangsa investor awam.
Cermin India: Bukti Risiko Diabaikan Demi Cuan
Di tengah lautan aset spekulatif tersebut, mengapa jutaan anak muda tetap nekat terjun? Jawabannya ditemukan dalam riset perilaku terbaru yang sangat relevan dengan demografi Indonesia.
Studi dalam jurnal Global Knowledge, Memory and Communication (2025) yang berjudul "Cryptocurrency investment behaviour of young Indians" oleh Devkant Kala dkk., membedah psikologi investor muda di India, negara yang memiliki karakteristik "kembar" dengan Indonesia.
Temuan riset ini mengejutkan: Persepsi Risiko (Perceived Risk) terbukti tidak signifikan menghambat niat investasi. Artinya, Gen Z di negara berkembang sebenarnya sadar bahwa mayoritas kripto itu berbahaya, namun mereka sengaja mengabaikan risiko tersebut demi mengejar persepsi keuntungan (Price Value) dan pengaruh sosial.
Para peneliti menemukan bahwa Fear of Missing Out (FOMO) adalah mediator utamanya. Rasa takut tertinggal dari tren kekayaan teman sebaya memicu perilaku impulsif, mengubah "niat" menjadi tindakan nekat "All-in". Narasi kemewahan yang sering dipamerkan Timothy Ronald adalah bensin sempurna untuk membakar FOMO ini di Indonesia, persis seperti pola yang terjadi di India.
Data Komparasi: Skala Masif Pasar Berkembang
Relevansi riset India tersebut terkonfirmasi jika kita menyandingkan data adopsi kedua negara. Indonesia dan India sedang mengalami gelombang adopsi yang serupa, didorong oleh populasi besar yang mencari alternatif kekayaan di luar jalur konvensional.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per November 2025, jumlah investor kripto di Indonesia telah menembus 19,56 juta orang. Angka ini jauh meninggalkan investor saham (equity only) yang hanya berkisar 6 juta investor, dari total 20 juta investor pasar modal yang mayoritas masih didominasi pemegang reksa dana.
Fenomena serupa terlihat di India sebagai pembanding skala raksasa. Data Chainalysis dan CoinIndex memperkirakan negara tersebut memiliki 119 juta pemilik kripto pada tahun 2025. Meski secara absolut pasar India jauh lebih besar—mencakup 8,2% dari total populasinya; Indonesia menunjukkan trajektori pertumbuhan yang identik.
Kesamaan data ini menegaskan satu hal: Di negara berkembang dengan populasi muda yang besar (demographic dividend), kripto bukan lagi sekadar aset, melainkan dianggap sebagai satu-satunya "tiket lotre" yang masuk akal untuk melawan stagnasi ekonomi, meskipun risikonya mematikan.
Solusi Akademis: Diversifikasi, Bukan Judi
Meski pasar dibanjiri spekulasi ala "Burung Perkutut", literatur akademis tegas membedakan kualitas aset. Goodwell Okechukwu dalam risetnya bertajuk "Cryptocurrency and Its Role in Portfolio Diversification" (2024) menyoroti Bitcoin, bukan koin meme spekulatif, sebagai instrumen valid. Korelasi rendahnya terhadap aset konvensional menjadikannya alat lindung nilai yang efektif.
Validitas peran Bitcoin sebagai diversifikasi tercermin dari perilaku investor di negara maju. Di Amerika Serikat, survei Fidelity mencatat 36% investor institusi telah memasukkan aset digital utama ke portofolio. Begitu pula di Inggris, 2,3 juta investor menggunakannya sebagai penyeimbang risiko, jauh berbeda dengan perilaku spekulasi pada token sampah.
Fenomena serupa terjadi di Jepang dengan motif yield hunting. Di tengah suku bunga rendah, investor Jepang strategis meningkatkan porsi aset kripto utama dalam portofolio menjadi 8%. Langkah kalkulatif ini dilakukan untuk mendongkrak pengembalian investasi, tanpa harus terjebak dalam perjudian token sampah yang tidak memiliki fundamental jelas.
Konteks relevan terlihat di negara berkembang seperti Brasil, di mana Bitcoin diadopsi sebagai benteng pertahanan inflasi, bukan gaya hidup. Benang merah riset ini bermuara pada prinsip "Alokasi Kecil". Okechukwu menekankan batas eksposur ketat, bertolak belakang dengan ajakan "All-in" pada koin gorengan ala sang Raja Kripto itu.

Alvin Bagaskara
Editor
