Dividen Telkom (TLKM) 2024 Bisa Cetak Yield 7,5 Persen, Cek Rekomendasi Sahamnya
- Emiten telekomunikasi pelat merah, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), diproyeksikan akan membagikan dividen tunai hingga Rp191 per saham untuk tahun buku 2024. Dua sekuritas ini juga memasang target buy.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA – Emiten telekomunikasi pelat merah, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), diproyeksikan akan membagikan dividen tunai hingga Rp191 per saham untuk tahun buku 2024. Proyeksi ini menjadi angin segar bagi investor, terutama di tengah tekanan pasar yang masih membayangi.
Dengan mengacu pada harga penutupan saham TLKM pada 17 April 2025 di level Rp2.550, potensi dividend yield yang ditawarkan berada di kisaran 6,6% hingga 7,5%. Sepanjang 2024, Telkom mencatatkan laba bersih sebesar Rp23,6 triliun, turun sekitar 4% dibandingkan tahun sebelumnya.
Meski begitu, capaian ini tetap sejalan dengan ekspektasi pasar karena merepresentasikan 99% dari estimasi konsensus. Pada kuartal IV-2024, laba bersih tercatat Rp5,9 triliun, naik 18% secara tahunan dan tumbuh 1% dibandingkan kuartal sebelumnya.
- Gas Terus, Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp15.000
- Harga Sembako di DKI Jakarta Senin, 21 April 2025, Daging Sapi Naik, Beras IR. III (IR 64) Turun
- Gubernur DKI Dorong OJK Kawal IPO Bank DKI, Bagaimana Kinerja Keuangannya?
Stockbit Sekuritas memperkirakan bahwa jika Telkom kembali mempertahankan dividend payout ratio (DPR) di kisaran 70–80% seperti pola lima tahun terakhir, maka dividen tahun ini akan berada di rentang Rp167–191 per saham. Adapun Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk menentukan pembagian dividen dijadwalkan berlangsung pada 27 Mei 2025.
Konsistensi Telkom dalam membagikan dividen juga tercermin dari tren lima tahun terakhir. Sejak 2019, dividen per saham TLKM selalu berada di atas Rp149. Pada 2021, Telkom mencatatkan laba bersih tertinggi sebesar Rp24,76 triliun dan membagikan dividen sebesar Rp168,01 per saham.
Tren ini berlanjut hingga 2023, dengan dividen Rp167,60 seiring capaian laba Rp24,56 triliun. Rasio pembayaran dividen selama periode tersebut stabil di kisaran 60–80%, mencerminkan komitmen perusahaan dalam menjaga imbal hasil bagi pemegang saham.

Di sisi operasional, riset BRI Danareksa Sekuritas mencatat bahwa laba bersih inti kuartal IV-2024 mencapai Rp5,5 triliun, turun tipis 3% secara kuartalan dan 0,7% secara tahunan. Namun, pendapatan meningkat menjadi Rp37,7 triliun, didorong oleh kontribusi segmen Seluler, Enterprise, dan Wholesale International Business (WIB).
Telkomsel mencatat kenaikan rata-rata pendapatan per pengguna (ARPU) sebesar 2,1% secara kuartalan, disertai pertumbuhan 973 ribu pelanggan baru. Sementara itu, IndiHome menambah 200 ribu pelanggan, meskipun mencatat penurunan ARPU sebesar 0,8% dibanding kuartal sebelumnya.
Margin EBITDA pada kuartal IV-2024 tercatat sebesar 48,7%, menyusut 210 basis poin secara kuartalan akibat peningkatan beban operasional dan pemasaran. Dari sisi neraca, total aset Telkom mencapai Rp299,68 triliun, dengan liabilitas Rp137,19 triliun dan ekuitas Rp162,49 triliun. Perusahaan juga terus memperkuat transformasi digital melalui integrasi layanan tetap dan seluler, serta pengembangan ekosistem digital.
Mandiri Sekuritas menilai bahwa efisiensi biaya dan belanja modal (capex) yang lebih rendah menjadi faktor utama penopang kinerja laba. Pada 2024, intensitas capex tercatat hanya 16,3% terhadap pendapatan, lebih rendah dibanding rata-rata historis di atas 21%. Penundaan ekspansi kapasitas pusat data turut menekan beban penyusutan dan amortisasi (D&A), sekaligus memperkuat arus kas bebas (free cash flow).
Rekomendasi Saham
Seiring efisiensi tersebut, BRI Danareksa Sekuritas merevisi naik proyeksi laba bersih Telkom untuk tahun 2025–2027 masing-masing sebesar 5,6%, 5,2%, dan 6,4%. Target harga saham pun disesuaikan naik dari Rp3.680 menjadi Rp3.900, dengan rekomendasi buy tetap dipertahankan.
Mandiri Sekuritas juga memberikan rekomendasi buy untuk saham TLKM, meskipun dengan target harga yang lebih konservatif di Rp3.500 per saham. Strategi efisiensi biaya dan capex dinilai mampu menjaga profitabilitas di tengah ketidakpastian makro dan meningkatnya persaingan digital.
Dengan fondasi kinerja yang stabil, arah investasi yang terukur, serta prospek dividen yang kompetitif, TLKM dinilai tetap menjadi salah satu pilihan utama bagi investor jangka panjang yang mengincar keseimbangan antara pertumbuhan dan imbal hasil.

Ananda Astridianka
Editor
