Diversifikasi Komoditas Angkut Multi Kargo, Pendapatan PSSI Naik Tembus Rp960 Miliar
PT Pelita Samudera Shipping Tbk (PSSI) fokus pada diversifikasi komoditas angkut multi kargo sepanjang tahun 2020. Hal ini merupakan upaya perseroan untuk merambah pangsa pasar potensial, termasuk pasar internasional di masa pandemi COVID-19.

Drean Muhyil Ihsan
Author


Emiten jasa angkutan laut PT Pelita Samudera Shipping (PSSI) / Dok. Perseroan
(Istimewa)JAKARTA – Emiten transportasi pelayaran PT Pelita Samudera Shipping Tbk (PSSI) fokus pada diversifikasi komoditas angkut multi kargo sepanjang tahun 2020. Hal ini merupakan upaya perseroan untuk merambah pangsa pasar potensial, termasuk pasar internasional di masa pandemi COVID-19.
Berdasarkan laporan keuangannya, total pendapatan perseroan hingga akhir 2020 sebesar US$68,4 juta atau sekitar Rp960 miliar. Angka ini turun 9% year-on-year (yoy) dibandingkan dengan pendapatan tahun sebelumnya US$75,3 juta.
Direktur Utama Pelita Samudera Shipping Iriawan “Älex” Ibarat menyatakan pendapatan sewa berjangka meningkat signifikan sebesar 35% yoy menjadi US$13,3 juta pada tahun lalu dibandingkan dengan capaian tahun 2019, yakni US$9,9 juta.
“Semua segmen bisnis mengalami peningkatan, floating loading facility (FLF), kapal tunda dan tongkang (TNB) dan kapal curah besar (MV),” ujarnya melalui keterangan resmi yang diterima TrenAsia.com, Senin 26 April 2021.
- PTPP Hingga Mei 2021 Raih Kontrak Baru Rp6,7 Triliun
- IPO Akhir Juni 2021, Era Graharealty Dapat Kode Saham IPAC
- Pemberdayaan Perempuan di Perusahaan Jepang Masih Alami Krisis Pada Tahun 2021
Sementara itu, beban pokok pendapatan sedikit mengalami penurunan secara tahunan dari US$56,2 juta, menjadi US$55,9 juta. Kontribusi terbesar dari peningkatan biaya depresiasi kapal namun diimbangi dengan penurunan biaya bahan bakar.
Älex menjelaskan, di tengah menurunnya pasar batu bara, perseroan banyak melakukan perbaikan dan pemeliharaan kapal (docking) pada semester pertama tahun lalu.
Sehingga dapat mengejar kebutuhan volume pengangkutan di semester kedua 2020 yang dibuktikan dengan mulai menguatnya harga batu bara menjelang awal kuartal terakhir.
Perseroan mencatat marjin Laba Kotor sebesar 18% atau US$12,5 juta. Marjin EBITDA berhasil dicapai di 35% atau sebesar US$24,3 juta. Hal ini menunjukkan cash cost yang cukup stabil dari 2019 marjin di 40% atau EBITDA sebesar US$29,9 juta.
Utilisasi penuh dan ekspansi multi kargo armada Kapal Curah Besar (MV) mencapai hampir 25% untuk volume pengangkutan freight charter komoditas di luar batubara seperti nikel, alumina, tembaga konsentrat, semen klinker, pasir silika, billet baja dan produk besi.
Di pertengahan 2020, kapal tunda dan tongkang (TNB) berekspansi ke segmen nikel, terutama pada area Sulawesi Tenggara serta membuka kantor perwakilan di Kendari pada akhir kuartal IV-2020.
Memperluas pangsa pasar dan optimalisasi aset membantu perseroan membukukan laba bersih tahun berjalan per 31 Desember 2020 sebesar US$8,4 juta.
Kondisi Keuangan dan Fundamental
Perseroan membangun posisi keuangan yang kuat dengan jumlah aset meningkat sebesar 3% yoy menjadi US$146,8 juta dari US$143,2 juta.
Adapun total ekuitas meningkat sekitar 7% yoy menjadi US$94,5 juta dari US$88,6 juta dengan kas dan setara kas sebesar US$14 juta hingga akhir Desember 2020.
Rasio utang terhadap aset (DAR) dan rasio utang terhadap ekuitas (DER) masing-masing sebesar 0,24 kali dan 0,37 kali, atau lebih rendah dari masing-masing 0,28 kali dan 0,45 kali di tahun sebelumnya.
- 11 Bank Biayai Proyek Tol Serang-Panimbang Rp6 Triliun
- Tandingi Telkomsel dan Indosat, Smartfren Segera Luncurkan Jaringan 5G
- Bangga! 4,8 Ton Produk Tempe Olahan UKM Indonesia Dinikmati Masyarakat Jepang
Pada saat itu, kontribusi dari pembayaran penuh pinjaman bank jangka panjang UOB serta cicilan pokok pinjaman Bank ICICI dan Citibank dengan total pembayaran pinjaman sebesar US$30,5 juta.
Pembayaran pinjaman bank juga berkontribusi pada posisi rasio gearing yang lebih baik sebesar 0,22 kali dibandingkan dengan 0,37 kali pada 2019.
Sedangkan, rasio harga saham terhadap pendapatan (price earning ratio/PER) juga meningkat lebih tinggi sebesar 7,7 kali dari 5,3 kali pada 2019.
Tak sampai di situ, Alex menyebut pihaknya telah berhasil mengamankan kontrak senilai US$164,6 juta di 2020 untuk kontrak baru serta perpanjangan kontrak jangka panjang dalam satu hingga tiga tahun ke depan.
“Kami optimistis akan bertumbuh tangguh dengan diversifikasi bisnis, optimalisasi aset dan ekspansi armada sebagai strategi berkelanjutan,” tambahnya.
Adapaun alokasi belanja modal pada tahun ini ditargetkan sekitar US$21 juta yang akan difokuskan untuk rencana strategi ekspansi armada.
‘’Pertumbuhan pendapatan di 2021 ditargetkan meningkat sekitar 15 – 20 persen dari 2020, dengan target lebih tinggi dari 2019 atau pre-pandemi,” tutup Alex. (SKO)
