Tren Pasar

Diburu Asing Tapi Valuasi Mahal, Cek Prospek RAJA

  • Apakah saham RAJA masih menarik setelah stock split dan diborong investor asing? Simak analisis lengkap kinerja, valuasi, prospek, dan sentimennya.
IMG_6164.jpeg
PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) (Dok)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Saham PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) menjadi salah satu emiten yangmencuri perhatian pada perdagangan Selasa, 28 Juli 2026.

Di tengah tekanan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih melanjutkan tren pelemahan, saham perusahaan energi tersebut justru bergerak berlawanan arah.

Hingga penutupan sesi I, saham RAJA ditutup menguat 4,57% ke level Rp915 per saham. Penguatan ini terjadi setelah sehari sebelumnya investor asing menjadikan RAJA sebagai salah satu saham yang paling banyak dikoleksi di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Berdasarkan data perdagangan Senin, 27 Juli 2026, investor asing masih membukukan jual bersih (net sell) Rp820,67 miliar di seluruh pasar. Namun, di tengah derasnya aksi keluar dana asing tersebut, RAJA justru mencatat net buy Rp14,11 miliar, menempatkannya sebagai saham dengan pembelian bersih asing terbesar ketiga setelah BBCA, dan AADI.

Aksi akumulasi asing tersebut memunculkan pertanyaan di kalangan investor. Apakah penguatan RAJA hanya dipicu sentimen jangka pendek pasca-stock split, atau memang didukung fundamental perusahaan yang masih kuat?

Kinerja Operasional Masih Tangguh Meski Pendapatan Turun

RAJA merupakan perusahaan energi terintegrasi yang fokus pada bisnis gas bumi, mulai dari transportasi gas, pengelolaan infrastruktur energi, hingga investasi pada proyek-proyek energi. Dalam beberapa tahun terakhir, perseroan juga aktif melakukan diversifikasi bisnis untuk memperkuat sumber pendapatan.

Laporan keuangan kuartal I-2026 menunjukkan pendapatan RAJA turun menjadi US$55,3 juta atau sekitar Rp962,2 miliar, dibandingkan US$66,1 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. 

Penurunan sekitar 16% tersebut dipengaruhi insiden force majeure pada jalur pipa gas di Pekanbaru yang mengganggu aktivitas bisnis midstream dan downstream.

Meski demikian, tekanan pada sisi pendapatan tidak membuat profitabilitas perusahaan ikut melemah. RAJA justru membukukan laba bersih sebesar US$10,5 juta, meningkat sekitar 14% dibandingkan US$9,2 juta pada kuartal I-2025.

Selain itu, laba usaha naik menjadi US$14,59 juta, sedangkan laba sebelum pajak meningkat 25,5% menjadi US$15,28 juta. Kondisi tersebut menunjukkan perusahaan masih mampu menjaga efisiensi operasional meskipun menghadapi gangguan pada salah satu lini bisnisnya.

Peningkatan laba tersebut ditopang oleh kontribusi bisnis penyewaan gas compression plant di Sengkang, kenaikan bagian laba dari entitas asosiasi hingga 110,9% menjadi US$3,55 juta, serta strategi diversifikasi usaha yang dijalankan perusahaan.

Baca juga : Pembukaan LQ45 Hari Ini: INKP dan DEWA Naik, MAPI Turun

Neraca Keuangan Masih Relatif Sehat

Selain laba yang tetap bertumbuh, struktur keuangan RAJA juga masih tergolong sehat. Rasio utang terhadap ekuitas (Debt to Equity Ratio/DER) berada di level 0,73 kali, menunjukkan penggunaan utang masih dalam batas yang cukup konservatif untuk perusahaan infrastruktur energi.

Likuiditas perusahaan juga masih kuat. Current ratio tercatat 1,96 kali, sedangkan quick ratio mencapai 1,81 kali, yang menunjukkan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendek masih cukup baik.

Dari sisi profitabilitas, Return on Equity (ROE) mencapai 14,64%, sementara Return on Assets (ROA) berada di level 5,54%, mencerminkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari modal dan aset yang dimiliki.

Stock Split dan Dividen Jadi Katalis Baru

Salah satu sentimen yang mendorong perhatian investor terhadap RAJA adalah pelaksanaan stock split dengan rasio 1:5 yang efektif berlaku pada 16 Juli 2026.

Melalui aksi korporasi tersebut, jumlah saham beredar meningkat dari sekitar 4,23 miliar lembar menjadi 21,13 miliar lembar, sementara nilai nominal saham berubah menjadi Rp5 per lembar. Stock split diharapkan meningkatkan likuiditas perdagangan sekaligus memperluas basis investor.

Sebelumnya, perseroan juga membagikan dividen tahun buku 2025 sebesar Rp65 per saham, terdiri dari dividen interim Rp25 dan dividen final Rp40 per saham. Pembagian dividen tersebut menghasilkan dividend yield sekitar 1,65%.

Baca juga : IHSG Hari Ini Dibuka Turun Tipis, Ini Data Lengkapnya

Valuasi Mulai Menjadi Perhatian Investor

Meski fundamental perusahaan masih menunjukkan tren positif, valuasi saham RAJA kini mulai menjadi perhatian pasar.

Trailing Price to Earnings Ratio (PER) perusahaan telah mencapai 39,14 kali, sedangkan forward PER berada di level 31,85 kali. Price to Book Value (PBV) tercatat 4,39 kali, dengan EV/EBITDA sekitar 15,33 kali.

Valuasi tersebut menunjukkan pasar memberikan premi terhadap prospek pertumbuhan perusahaan. Namun di sisi lain, ruang kenaikan harga saham menjadi lebih terbatas apabila pertumbuhan laba tidak mampu mengikuti ekspektasi investor.

Analisis GuruFocus bahkan mengategorikan saham RAJA sebagai significantly overvalued, meski tetap memberikan GF Score di kisaran 80–81, yang mencerminkan kualitas fundamental perusahaan masih berada di atas rata-rata.

Baca juga : Pohon Bisnis Keluarga Riady: Dari Bank, RS Sampai Properti

Ekspansi Bisnis Masih Berlanjut

RAJA juga masih memiliki sejumlah katalis pertumbuhan yang berpotensi mendukung kinerja beberapa tahun mendatang.

Perseroan menargetkan pembangunan proyek pipa BBM Balikpapan–Samarinda mulai memasuki tahap konstruksi pada kuartal III-2026. Selain itu, perusahaan tengah melanjutkan proses akuisisi SMS Development Limited melalui anak usahanya, PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU).

Investor juga menantikan publikasi laporan keuangan berikutnya yang diperkirakan dirilis pada 29 Juli 2026. Laporan tersebut akan menjadi indikator penting untuk melihat apakah tren pertumbuhan laba masih dapat dipertahankan pada kuartal berikutnya.

Masih Layak Dibeli?

Masuknya RAJA ke dalam daftar saham dengan pembelian bersih asing terbesar menunjukkan masih adanya optimisme investor institusi terhadap prospek perusahaan. 

Fundamental yang relatif kuat, pertumbuhan laba di tengah penurunan pendapatan, struktur keuangan yang sehat, serta ekspansi bisnis menjadi sejumlah faktor yang menopang sentimen positif terhadap emiten ini.

Namun, investor juga perlu mempertimbangkan bahwa valuasi saham RAJA saat ini sudah tidak bisa dikatakan murah. PER yang mendekati 40 kali dan PBV di atas empat kali menunjukkan sebagian ekspektasi pertumbuhan telah tercermin dalam harga saham.

Bagi investor jangka panjang, RAJA masih menarik untuk dicermati karena memiliki fundamental yang cukup solid dan prospek pertumbuhan dari proyek-proyek energi yang sedang dikembangkan.

Sementara bagi investor jangka pendek, perkembangan aksi beli asing, rilis laporan keuangan, dan kondisi IHSG dalam beberapa hari ke depan akan menjadi faktor penting yang menentukan arah pergerakan saham selanjutnya.