Diancam Resesi, RI Perlu Racik Formula Ciamik Sampai 2045
- JAKARTA – Ekonom sekaligus pendiri Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Hendri Saparini menilai pemerintah perlu menyusun strategi ciamik dalam...

Ananda Astri Dianka
Author
JAKARTA – Ekonom sekaligus pendiri Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Hendri Saparini menilai pemerintah perlu menyusun strategi ciamik dalam rencana pembangunan jangka panjang (RPJP) 2020-2045.
Terlebih, seluruh outlook perekonomian global berubah total dan tengah dibayangi resesi massal akibat pandemi COVID-19. Sehingga, formulasi untuk mencapai Indonesia Emas 2045 juga perlu disusun ulang.
“Pemerintah harus melihat urgensinya, harus ada langkah politik terobosan. Ini kesempatan pemerintah memformat ulang kebijakan ekonomi jangka panjangnya,” kata Hendri dalam diskusi virtual BRIEFER.id, Jumat, 21 Agustus 2020.
Tidak dapat dipungkiri, COVID-19 membuat seluruh negara baik yang maju maupun berkembang tengah was-was menghambat laju penurunan perekonomian negaranya masing-masing.
- Gemar Kolaborasi Dengan Layanan Streaming, Telkomsel Gandeng Disney+ Hotstar
- BNI Syariah Dapat Penghargaan Best Bank Award 2020
- Mengenal Fintech P2P Lending Resmi: Asetku Afiliasi Akulaku
- Saat Pandemi, Realisasi KPR Rumah Subsidi Justru Meroket 60,7 Persen Tembus 72.760 Unit
- Diancam Resesi, RI Perlu Racik Formula Ciamik Sampai 2045
Hingga selepas semester II-2020, ada belasan negara yang telah melaporkan kondisi darurat akibat jebloknya perekonomian pada dua kuartal berturut-turut.
Dengan kondisi saat ini, Hendri mengatakan pemerintah memiliki momentum tepat merancang RPJP 2020-2045. Sebab, RPJP terakhir yang dimiliki Indonesia sudah hampir habis periodenya yaitu 2005-2025.
“Di mana di dalamnya termasuk rencana pembangunan dalam memanfaatkan era bonus demografi 2020-2030,” tambah Hendri.
Hendri menilai untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi tinggi, berkualitas, dan berkelanjutan, RPJP Indonesia Emas harus menggunakan pendekatan baru yaitu people and natural resources based development strategy.
Artinya, fondasi pembangunan harus memanfaatkan semua sumber daya baik sumber daya alam dan sumber daya manusia dengan kebijakan yang cerdas dan strategis.
Hendri menegaskan pemerintah tidak bisa mengimplementasikan pendekatan pembangunan berdasarkan strategi negara lain seperti Jepang, Jerman, Korea Selatan, dan negara lainnya yang melakukan lompatan ekonomi di saat era bonus demografi.
Sebab, kondisi masyarakat, infrastruktur pendukung, dan lingkungan alam masing-masing negara memiliki ciri lokal tersendiri.
Saat ini, Indonesia memiliki potensi besar dengan jumlah penduduk yang besar, kekayaan alam yang masih melimpah serta kemajuan dan penetrasi internet yang relatif tinggi.
“Namun dibutuhkan strategi dengan pendekatan baru agar ekonomi tumbuh tinggi di berbagai wilayah yang diikuti peningkatan pendapatan masyarakat secara luas,” papar Hendri.
