Tren Global

Dari Anak Ulama Miskin, Khamenei Jadi Penguasa Iran

  • Riwayat hidup Ayatollah Ali Khamenei, dari keluarga ulama miskin di Mashhad hingga menjadi Pemimpin Tertinggi Iran selama 36 tahun.
621436.jpg
Ayatullah Ali Khamenei (Sumber the Jerusalem Post)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Selama lebih dari delapan dekade, Ayatollah Ali Khamenei menjadi figur sentral dalam sejarah modern Iran. Dari seorang pelajar agama sederhana di Mashhad hingga memegang kekuasaan tertinggi Republik Islam selama 36 tahun, hidup Khamenei mencerminkan perjalanan Iran itu sendiri, penuh revolusi, perang, konflik ideologi, dan ketegangan geopolitik global.

Ali Khamenei lahir pada 19 April 1939 di kota Mashhad, Iran timur. Ia berasal dari keluarga ulama miskin namun taat beragama. Sebagai anak kedua dari delapan bersaudara, Khamenei tumbuh dalam lingkungan yang menekankan kesederhanaan, disiplin, dan pengabdian pada agama.

Sejak usia dini pada 1940-an hingga 1950-an, ia menempuh pendidikan agama di maktab tradisional sebelum melanjutkan studi ke seminari di Mashhad. Hasrat intelektualnya membawanya ke pusat-pusat pendidikan Syiah di Najaf, Irak, dan kemudian Qom, jantung pemikiran keagamaan Iran.

Pada akhir 1950-an, di Qom, Khamenei menjadi murid dekat Ayatollah Ruhollah Khomeini. Hubungan ini menjadi titik balik penting. Dari Khomeini, ia menyerap pandangan bahwa ulama tidak hanya berperan dalam agama, tetapi juga wajib memimpin politik demi menegakkan pemerintahan Islam.

Memasuki 1960-an hingga 1970-an, Khamenei aktif dalam gerakan oposisi terhadap Shah Mohammad Reza Pahlavi. Aktivitasnya membuat ia berulang kali ditangkap oleh SAVAK, dinas intelijen rezim Shah. Tercatat setidaknya enam kali ia dipenjara, bahkan diasingkan secara internal ke Iranshahr. Namun represi ini justru menguatkan militansinya.

Ketika gelombang Revolusi Islam mencapai puncaknya pada 1978-1979, Khamenei kembali ke Mashhad dan kota-kota besar lain untuk mengorganisir demonstrasi dan menggalang dukungan rakyat. Ia menjadi salah satu figur lapangan yang menjembatani jaringan ulama, aktivis, dan massa revolusioner.

Baca juga : Blokade Selat Hormuz, Pasar Energi dan Kripto Kocar-kacir

Konsolidasi Kekuasaan Pasca-Revolusi

Setelah Revolusi Islam berhasil menggulingkan monarki pada 1979, Khamenei segera masuk lingkaran inti kekuasaan baru. Ia duduk di Dewan Revolusi, menjadi wakil menteri pertahanan, imam salat Jumat Tehran, anggota parlemen, serta penghubung penting dengan Garda Revolusi Iran (IRGC).

Pada 1980, ia sempat menjabat sebagai menteri pertahanan. Perannya semakin krusial ketika Iran terseret ke dalam Perang Iran–Irak yang brutal dan berkepanjangan.

Titik dramatis terjadi pada Juni 1981, ketika Khamenei selamat dari upaya pembunuhan oleh kelompok Mujahidin Rakyat (MEK). Bom yang disembunyikan dalam alat perekam meledak saat ia berpidato, melukai parah lengan kanannya secara permanen. Ia kemudian menyebut luka tersebut sebagai “lencana kehormatan revolusi”.

Beberapa bulan kemudian, pada Oktober 1981, ia terpilih sebagai Presiden Iran, menggantikan Mohammad-Ali Rajai yang terbunuh. Dengan perolehan suara sekitar 95%, Khamenei menjadi ulama pertama yang menduduki jabatan presiden.

Selama 1981-1989, masa kepresidenannya sepenuhnya dibayangi perang. Ia dikenal sering mengunjungi garis depan dan membangun hubungan erat dengan IRGC. Pengalaman perang memperdalam kecurigaannya terhadap Barat, yang dinilainya mendukung Irak.

Pada 1985, ia terpilih kembali untuk masa jabatan kedua dengan 85% suara. Menjelang akhir perang, Khamenei bahkan menulis surat kepada Khomeini agar konflik diakhiri sebuah langkah berani yang sempat menuai kecaman, tetapi akhirnya menjadi bagian dari keputusan strategis negara.

Menjadi Pemimpin Tertinggi 

Kematian Ayatollah Khomeini pada Juni 1989 membuka babak baru. Majelis Ahli menunjuk Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi kedua Iran. Penunjukan ini awalnya dianggap kompromi karena ia belum mencapai otoritas keagamaan tertinggi, namun secara perlahan ia mengubah posisi itu menjadi pusat kekuasaan absolut.

Sepanjang 1990-an, Khamenei memperkuat kendali atas militer, kehakiman, dan media. Ketika Presiden reformis Mohammad Khatami menang pada 1997, muncul harapan pembukaan politik. Namun Khamenei membatasi ruang reformasi dan memastikan garis keras tetap dominan.

Krisis besar meledak pada 2009, saat pemilu presiden yang disengketakan memicu Gerakan Hijau. Khamenei secara terbuka mendukung Mahmoud Ahmadinejad dan memerintahkan aparat keamanan menumpas demonstrasi besar-besaran.

Pada 2015, ia menyetujui perundingan yang menghasilkan JCPOA, kesepakatan nuklir Iran dengan kekuatan dunia. Meski demikian, ia tetap menaruh curiga mendalam terhadap Amerika Serikat. Kecurigaan itu terbukti ketika pada 2018, AS di bawah Donald Trump menarik diri dari kesepakatan dan menjatuhkan sanksi berat.

Baca juga : Deretan Calon Pemimpin Iran Usai Khamenei Tewas Digempur AS

Ketegangan meningkat drastis pada 2020, saat AS membunuh Jenderal Qasem Soleimani, sekutu dekat Khamenei. Sejak itu, Iran semakin mendekat ke Rusia dan China, serta menguatkan strategi konfrontasi regional.

Gelombang protes besar kembali mengguncang Iran pada 2022, dipicu kematian Mahsa Amini. Slogan “Wanita, Kehidupan, Kebebasan” menggema di seluruh negeri, namun kembali dihadapi dengan penindakan keras.

Pada 2024-2025, konflik dengan Israel meningkat menjadi serangan langsung. Iran meluncurkan rudal dan drone ke Israel sebagai balasan atas serangan terhadap kepentingan diplomatiknya di Suriah. Di dalam negeri, krisis ekonomi memicu protes lanjutan, dengan pemerintah mengonfirmasi lebih dari 3.100 korban tewas menjelang akhir 2025.

Pada 28 Februari 2026, Ayatollah Ali Khamenei wafat pada usia 86 tahun. Media Iran melaporkan ia tewas dalam serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel di Tehran. Kematiannya mengakhiri kepemimpinan selama 36 tahuN terpanjang dalam sejarah Republik Islam Iran.