Danantara Siap Masuk, Merger Grab-GOTO Hadapi Babak Baru
- Keterlibatan Danantara dipandang sebagai salah satu langkah strategis untuk menciptakan struktur kepemilikan yang lebih seimbang. Kehadiran entitas negara dalam merger dua perusahaan ride hailing pemimpin pangsa Indonesia ini, diyakini dapat membantu meredakan resistensi terhadap dominasi asing dalam sektor ekonomi digital nasional.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA - Rencana akuisisi bisnis ride-hailing, Gojek dari PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) oleh Grab Holdings senilai US$7 miliar memasuki babak baru krusial. Sovereign Wealth Fund (SWF) Indonesia, Danantara, dilaporkan bersiap masuk sebagai pemegang saham minoritas dalam entitas hasil merger.
Info dari Bloomberg, Danantara telah memulai pembicaraan awal dengan GOTO untuk mengakuisisi saham minoritas pasca-merger. Langkah ini berpotensi memberikan pemerintah Indonesia kepemilikan dan pengaruh dalam perusahaan, sekaligus meredakan isu terkait penjualan entitas teknologi nasional kepada Grab, perusahaan asal Singapura.
Sejauh ini, pembicaraan antara pihak Danantara dan GOTO masih berada di tahap awal. Belum ada kepastian bahwa diskusi ini akan berujung pada transaksi konkret. Pihak Grab, GoTo Group, dan Danantara menolak memberikan komentar resmi mengenai perkembangan proses negosiasi ini.
- Usia 15 Tahun Sudah Bikin Brand Fashion yang Siap Go International? Ini Perjalanan Seru THENBLANK
- Mengapa Kekayaan Prajogo Pangestu Kembali Meroket? Ternyata Ini 3 Faktor Penentunya
- Bukan Praktik Kartel, Batas Bunga Pinjol untuk Lindungi Peminjam
Keterlibatan Danantara dipandang sebagai salah satu langkah strategis untuk menciptakan struktur kepemilikan yang lebih seimbang. Kehadiran entitas negara dalam merger dua perusahaan ride hailing pemimpin pangsa Indonesia ini, diyakini dapat membantu meredakan resistensi terhadap dominasi asing dalam sektor ekonomi digital nasional.
Kekhawatiran Kedaulatan Digital
Bisa dibilang, rencana merger Grab dan GOTO memicu kekhawatiran pemerintah Indonesia terkait kedaulatan digital. Salah satu perhatian utama adalah potensi hilangnya kendali atas perusahaan teknologi buatan anak bangsa yang merupakan gabungan dari dua ikon lokal, yaitu Gojek dan Tokopedia.
Isu lain yang menjadi sorotan adalah dampak terhadap tenaga kerja domestik. Terdapat kekhawatiran bahwa proses konsolidasi dapat memicu pengurangan karyawan, khususnya dalam bidang teknologi dan pengembangan produk yang selama ini berbasis di Indonesia.
Selain itu, pemerintah juga menyoroti risiko naiknya tarif layanan transportasi dan pengantaran makanan. Jika entitas gabungan memiliki dominasi pasar terlalu besar, dikhawatirkan kompetisi berkurang dan konsumen menghadapi harga yang lebih tinggi di tengah tekanan daya beli.
Oleh karena itu, salah satu solusi yang dibahas dalam negosiasi adalah permintaan agar Grab memberikan komitmen untuk tidak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam jangka waktu tertentu setelah merger rampung dilaksanakan di Indonesia.
Evaluasi KPPU dan Tantangan Persaingan Usaha
Sebelumnya, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menyatakan bahwa pihaknya akan meninjau ketat kesepakatan antara Grab dan GoTo. Evaluasi tersebut fokus pada potensi terbentuknya dominasi pasar dan dampaknya terhadap iklim persaingan usaha di Indonesia.
Bloomberg Intelligence menganalisa jika merger disetujui, entitas gabungan Grab-GOTO berpotensi menguasai 60–70% pangsa pasar layanan on-demand di Asia Tenggara. Tingkat dominasi ini disebut dapat mempersulit peluang masuknya pemain baru ke pasar.
Sejumlah analis menilai tantangan terbesar merger bukan terletak pada nilai transaksi, melainkan pada proses mendapatkan restu dari otoritas pengawas persaingan. KPPU sebelumnya menekankan pentingnya menjaga keseimbangan pasar dan perlindungan konsumen.
Selain itu, merger ini juga dinilai berpotensi memperlemah posisi pesaing utama seperti ShopeeFood yang berada di bawah Sea Ltd. ShopeeFood sempat menyalip GoFood sebagai pemain nomor tiga di kawasan Asia Tenggara pada tahun lalu.
Dinamika ini mendorong perhatian regulator terhadap kemungkinan penyalahgunaan posisi dominan pascamerger. KPPU disebut akan mempertimbangkan berbagai skenario untuk memastikan tidak terjadi praktik monopoli dalam sektor layanan digital.
Struktur Kesepakatan dan Posisi Grab di Indonesia
Masih menurut Bloomberg, Grab dan GOTO dilaporkan telah mencapai sejumlah kemajuan dalam merancang struktur kesepakatan. Meskipun negosiasi sempat mengalami perlambatan, valuasi GOTO dalam proposal Grab disebut mencapai lebih dari US$7 miliar.
Salah satu opsi dalam kesepakatan mencakup pembelian saham penuh dengan harga Rp100 per saham. Angka ini jauh di atas harga penutupan saham GOTO di Bursa Efek Indonesia pada Kamis, 5 Juni 2025, yang berada di level 61 rupiah per saham.
Skenario kesepakatan yang tengah dibahas melibatkan dua tahap. Pertama, GOTO akan membeli bisnis ride-hailing dan pengantaran makanan milik Grab di Indonesia sebagai langkah awal dalam proses konsolidasi.
Setelah tahap pertama rampung, Grab kemudian akan membeli mayoritas saham di entitas gabungan tersebut. Langkah ini akan menjadikan Grab sebagai pihak yang memegang kendali operasional dalam bisnis hasil integrasi kedua perusahaan.
Dalam skenario ini, GOTO juga disebut tengah mempertimbangkan untuk menjual unit bisnis ride-hailing-nya di Singapura kepada pihak ketiga. Proses ini dinilai akan memperjelas pembagian pasar regional antar kedua entitas.
Denhgan demikian, akuisisi GOTO oleh Grab diperkirakan akan memperkuat posisi Grab di Indonesia, meski persaingan dari pendatang baru seperti InDrive dan Maxim mulai meningkat. Pasalnya, pada 2024, pendapatan Grab dari Indonesia naik 6,3% menjadi US$643 juta, meskipun ini merupakan pertumbuhan paling lambat di Asia Tenggara.
Sebagai tambahan, Grab saat ini pemimpin layanan ride-hailing dan pengantaran terbesar di Asia Tenggara, dengan pangsa pasar kuat di Singapura, Malaysia, dan Thailand. Sementara GoTo tetap fokus di Indonesia, pasar terbesar di kawasan dengan lebih dari 275 juta penduduk. GOTO sendiri sudah keluar dari beberapa Asia Tenggara lainnya untuk efisiensi biaya.

Chrisna Chanis Cara
Editor
