Tren Ekbis

Danantara Merger 4 Manajer Investasi, Bidik Penguatan SDM dan Teknologi

  • Danantara menggabungkan empat manajer investasi dengan AUM kolektif lebih dari Rp143 triliun. Konsolidasi diikuti penguatan SDM, tata kelola, dan teknologi.
de5a14b0-38d9-4969-b719-b1af28e4cd17.jpg
Ilustrasi Danantara. (UMS)

JAKARTA, TRENASIA.ID — Danantara Indonesia akan memperkuat sumber daya manusia (SDM), tata kelola, dan teknologi setelah menggabungkan empat perusahaan manajer investasi miliknya. 

Konsolidasi ini ditujukan untuk membangun perusahaan pengelola investasi dengan skala usaha lebih besar dan daya saing di tingkat regional hingga global. Penggabungan dilakukan oleh PT Danantara Asset Management (DAM) pada 28 September 2026. 

Empat perusahaan yang dikonsolidasikan adalah PT Mandiri Manajemen Investasi (MMI), PT BNI Asset Management (BNIAM), PT BRI Manajemen Investasi (BRIMI), dan PT PNM Investment Management (PNMIM). Dalam proses tersebut, MMI ditetapkan sebagai perusahaan penerima penggabungan.

Dengan selesainya penggabungan, aset, liabilitas, hak, dan kewajiban perusahaan yang bergabung beralih kepada MMI.

Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia Dony Oskaria mengatakan, konsolidasi tersebut diarahkan untuk menyatukan keahlian, kapabilitas investasi, dan jaringan distribusi keempat perusahaan. Namun, peningkatan skala usaha perlu diikuti pembenahan organisasi dan sistem pengelolaan SDM.

Menurut Dony, perusahaan hasil penggabungan perlu menerapkan sistem pengelolaan SDM yang profesional dan terukur. Langkah tersebut mencakup evaluasi jabatan, penetapan jenjang dan pengelompokan jabatan, serta penyusunan matriks kompetensi dan persyaratan pekerjaan.

“Lakukan job evaluation, tentukan job sizing-nya, bikin grading system-nya, bikin competency matrix-nya, bikin job requirement-nya sehingga semua orang diperlakukan fair,” kata Dony.

Ia juga menekankan pentingnya menyamakan prinsip, pola pikir, dan tujuan di antara seluruh unsur organisasi agar proses integrasi berjalan sesuai arah yang ditetapkan.

“Ini adalah awal dari sebuah proses panjang yang akan kita lalui ke depan. Kalau kita tidak memiliki prinsip yang sama, baik itu setiap mindset maupun setiap tujuan, kita bisa jadi keliru,” tegasnya.

Selain pembenahan SDM, konsolidasi mencakup penguatan tata kelola, pengembangan teknologi, dan peningkatan standar pengelolaan investasi. Dengan menggabungkan kapabilitas keempat perusahaan, Danantara berharap entitas hasil konsolidasi dapat memperbesar kapasitas pengelolaan dana sekaligus memperluas daya saing di pasar internasional.

Secara kolektif, keempat perusahaan mencatatkan dana kelolaan atau asset under management (AUM) lebih dari Rp143 triliun per September 2026. Besarnya dana kelolaan tersebut menjadi salah satu modal awal bagi perusahaan hasil konsolidasi untuk memperluas bisnis. Perusahaan juga memiliki basis nasabah dari segmen ritel dan institusi.

Di segmen ritel, perusahaan hasil konsolidasi akan mengembangkan produk investasi tematik dan memperluas akses investasi melalui jaringan bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). 

Strategi tersebut sejalan dengan pertumbuhan jumlah investor pasar modal Indonesia yang tercermin dari jumlah Single Investor Identification (SID) yang telah melampaui 30 juta pada 7 Agustus 2026.

Sementara itu, di segmen institusi, perusahaan akan memperkuat kapabilitas pengelolaan investasi, memperluas basis investor, serta menyediakan solusi investasi yang lebih komprehensif bagi berbagai lembaga domestik.

Dony menegaskan, perusahaan hasil konsolidasi perlu memiliki ambisi untuk bersaing di pasar global dengan memanfaatkan jaringan distribusi yang dimiliki. “Kita ingin menjadi global player. Masa perusahaan asing saja bisa hebat, kita tidak bisa hebat? Apalagi kita punya jangkauan distribusi yang banyak,” pungkasnya.