Tren Global

Dampak Sistemik Jika Iran Putus Kabel Internet di Hormuz

  • Konflik militer AS - Iran bukan hanya mengancam aliran minyak dunia tapi juga urat nadi internet global yang selama ini tak terlihat oleh mata publik.
norbert-dubai-2-690x387-1.jpg
Kapal tanker Norman Atlantic menjadi korban serangan kapal motor Iran dalam apa yang disebut sebagai perang tanker di Teluk Persia, Desember 1987. (sejarahmiliter.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai jalur vital bagi sekitar seperlima pasokan energi dunia. Namun di bawah permukaannya yang dangkal dan sempit, hanya 33 kilometer pada titik tersempitnya terbentang infrastruktur yang sama krusialnya, kabel serat optik bawah laut yang menjadi tulang punggung konektivitas internet antara Asia, Timur Tengah, dan Eropa.

Tujuh belas sistem kabel bawah laut saat ini beroperasi di atau melintasi Teluk Persia, menghubungkan stasiun-stasiun di Arab Saudi, UEA, Bahrain, Qatar, Kuwait, Oman, dan Irak ke jalur utama yang menjangkau Eropa via Laut Merah dan Terusan Suez, atau Asia Timur via Samudra Hindia. 

Kabel-kabel ini memikul beban transaksi perbankan, komunikasi pemerintah, beban komputasi awan, konten streaming, hingga lalu lintas backbone seluruh perusahaan teknologi besar yang beroperasi di kawasan.

Sebesar 97 % seluruh lalu lintas internet antarkontinental, termasuk sekitar 80 % komunikasi militer Amerika Serikat,  melewati kabel fisik yang terbentang di dasar laut. 

Kabel-kabel itu bukan infrastruktur militer yang diperkuat, mereka adalah untaian kaca dan baja presisi yang tidak lebih tebal dari selang taman, diletakkan di jalur-jalur yang dioptimalkan untuk efisiensi, bukan ketahanan terhadap konflik bersenjata.

Berapa Banyak Kabel yang Melintas Selat Hormuz?

Analisis data rute kabel dari Submarine Networks dan TeleGeography mengungkap bahwa 12 dari 17 sistem kabel Teluk tersebut memiliki setidaknya satu segmen yang melintas di perairan tempat IRGC (Pasukan Garda Revolusi Islam Iran) telah mengonfirmasi operasi militer sejak 28 Februari 2026.

Sekitar 30% dari seluruh lalu lintas internet antarkontinental melintas melalui kabel bawah laut yang digelar di sepanjang dasar laut Teluk Persia, Selat Hormuz, dan Laut Merah, menurut database kabel bawah laut TeleGeography 2025. 

Konsentrasi ini bukan kebetulan, ia mencerminkan setengah abad keputusan infrastruktur yang mengikuti logika yang sama dengan pipa minyak, jarak terpendek antara ekonomi-ekonomi besar di Eropa dan pasar-pasar berkembang di Asia Selatan dan Timur melewati langsung kawasan Timur Tengah.

Dilansir dari TeleGeography, kabel-kabel aktif yang melewati Selat Hormuz mencakup sistem-sistem seperti AAE-1, FALCON, Gulf Bridge International, TGN-Gulf, serta jaringan-jaringan lain yang menjadi tulang punggung konektivitas negara-negara Teluk seperti Bahrain, Qatar, Kuwait, dan Irak ke jaringan global.

Apa yang Terjadi saat Kabel Dipotong?

Ancaman terhadap kabel bawah laut bukan skenario hipotetis. Pada Februari 2024, tiga kabel Laut Merah terpotong akibat jangkar sebuah kapal kargo yang tertabrak rudal Houthi, mengganggu 25% lalu lintas data antara Asia, Eropa, dan Timur Tengah. Satu kabel membutuhkan waktu lima bulan untuk diperbaiki karena kapal-kapal tak bisa mengakses kawasan tersebut dengan aman.

Pada September 2025, empat kabel rusak, tiga di antaranya membutuhkan waktu lima bulan untuk diperbaiki, sementara yang keempat hingga kini masih belum berfungsi.

Dilansir dari Kentik, firma intelijen jaringan terkemuka, direktur analisis internet Doug Madory menyatakan bahwa penutupan kedua chokepoint secara bersamaan akan menjadi peristiwa yang sangat mengganggu secara global dan menambahkan bahwa sepengetahuannya, hal itu belum pernah terjadi sebelumnya.

Dilansir dari Rest of World, konflik AS-Iran telah menutup satu-satunya dua rute data masuk dan keluar dari kawasan itu. Amazon, Microsoft, dan Google telah menghabiskan bertahun-tahun membangun pusat data di seluruh Teluk, bertaruh bahwa kawasan itu akan menjadi pusat kecerdasan buatan terbesar dunia berikutnya. 

Kabel bawah laut yang menghubungkan fasilitas-fasilitas tersebut ke Afrika, Asia Selatan, dan Asia Tenggara melewati dua jalur sempit, Laut Merah dan Selat Hormuz. Keduanya kini secara efektif tertutup bagi lalu lintas komersial.

Dampak pemotongan kabel secara masif akan berjenjang. Negara-negara Teluk seperti UEA, Qatar, Kuwait, dan Bahrain akan mengalami degradasi internet parah. Rute data Asia-Eropa akan terganggu, memaksa pengalihan lalu lintas melalui jalur alternatif yang kapasitasnya jauh lebih terbatas.

 Sistem perbankan dan transaksi keuangan yang bergantung pada latensi rendah akan terguncang. Proyek kecerdasan buatan yang mengandalkan konektivitas cloud lintas benua akan melambat drastis.

Dilansir dari Submarine Networks, kapal-kapal perbaikan kabel yang sudah dikerahkan untuk memperbaiki kerusakan yang terjadi pada akhir 2025 terpaksa menangguhkan operasi mereka tanpa batas waktu. 

Para ahli industri memperingatkan bahwa mengirim kapal ke zona perang aktif terlalu berisiko. Akibatnya, kabel apa pun yang rusak akibat rudal, ranjau laut, atau jangkar kapal yang karam akan tetap terputus, berpotensi selama konflik berlangsung.

Penilaian realistis terhadap keseluruhan timeline pemulihan infrastruktur kabel bawah laut Teluk, dari gencatan senjata hingga pemulihan kapasitas penuh sebelum perang, berkisar antara 18 bulan hingga tiga tahun. 

Konflik ini sudah menghentikan beberapa proyek kabel di Teluk Persia. Meta mengumumkan penangguhan sistem 2Africa, salah satu arteri kunci internet global. Infrastruktur ini dirancang untuk membawa lalu lintas data bagi lebih dari 3 miliar orang.

Bagi Indonesia dan Asia Tenggara, gangguan ini berdampak nyata. Jalur data yang menghubungkan kawasan ke Eropa dan Timur Tengah sebagian besar bergantung pada koridor yang kini menjadi zona konflik aktif. 

Keterlambatan, penurunan kualitas layanan, hingga lonjakan biaya bandwidth adalah konsekuensi yang paling mungkin dirasakan dalam jangka pendek jika eskalasi terus berlanjut.