Dampak Ekonomi Ketika Rupiah Tembus All-Time Low
- Pergerakan rupiah tak bisa dilepaskan dari dinamika global. Kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat masih menjadi magnet bagi aliran modal global.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menilai nilai tukar rupiah saat ini berada di bawah nilai fundamentalnya (undervalued). Ia menyebut kurs rupiah seharusnya berada di kisaran Rp15.000 per dolar AS, bukan di level Rp17.000-an seperti yang terjadi pada awal 2026.
Pernyataan tersebut muncul di tengah tekanan eksternal yang kuat terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Misbakhun pun mendesak Bank Indonesia agar lebih berani dan adaptif dalam mengelola likuiditas valuta asing guna menjaga stabilitas nilai tukar.
Misbakhun menilai pelemahan rupiah lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen pasar dibandingkan kondisi ekonomi riil Indonesia.
Ia berargumen sejumlah indikator makro seperti pertumbuhan ekonomi, neraca perdagangan, dan stabilitas fiskal masih menunjukkan kinerja yang relatif solid. Karena itu, menurutnya, level Rp17.105 per dolar AS yang menjadi titik terendah dalam sejarah (all-time low) tidak mencerminkan kekuatan fundamental ekonomi nasional.
Dengan kata lain, pelemahan rupiah saat ini dinilai bersifat overreaction pasar, bukan refleksi kondisi ekonomi yang memburuk.
Desakan Intervensi BI
Dalam pandangannya, Bank Indonesia tidak boleh bersikap pasif dalam menghadapi tekanan nilai tukar. “Saya harus mengkritik keras ini soal Bank Indonesia, saya menemukan cara BI menangani nilai tukar masih sangat konvensional dan terlalu kehati-hatian,” ujarnya dalam pernyataan resmi di Senayan, Rabu, 8 April 2026.
Ia meminta bank sentral untuk:
- Lebih aktif melakukan intervensi di pasar valas
- Mengelola likuiditas dolar secara strategis
- Menjaga ekspektasi pasar agar tetap stabil
Menurutnya, langkah-langkah tersebut penting agar rupiah bisa kembali ke level yang lebih “wajar”, yakni di kisaran Rp15.000 per dolar AS.
Nilai Rupiah Awal April 2026
- 1 April, Rp16.983 (spot)
- 2 April, Rp16.924 – Rp16.973 → Stabil, cenderung menguat tipis
- 3 April Rp16.995 → Melemah tipis
- 4–6 April Tidak ada data → Libur / akhir pekan
- 7 April Rp17.105 → Melemah signifikan (terlemah pekan ini)
- 8 April Rp16.981 – Rp16.996 (pagi) , Rp17.011 – Rp17.014 (siang) → Menguat lalu melemah tipis
Tekanan Global Jadi Faktor Utama
Meski demikian, pergerakan rupiah tidak bisa dilepaskan dari dinamika global. Kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat oleh Federal Reserve masih menjadi magnet bagi aliran modal global.
Kondisi ini mendorong:
- Arus modal keluar dari negara berkembang
- Penguatan dolar AS sebagai safe haven
- Tekanan terhadap mata uang seperti rupiah
- Ketidakpastian geopolitik dan fluktuasi harga komoditas turut memperbesar volatilitas di pasar keuangan.
Secara teoritis, nilai tukar ditentukan oleh keseimbangan permintaan dan penawaran di pasar valuta asing. Namun dalam praktiknya, faktor psikologis dan ekspektasi sering kali lebih dominan dalam jangka pendek.
Kondisi ini menjelaskan mengapa rupiah bisa bergerak jauh dari nilai fundamentalnya, terutama saat terjadi gejolak global atau perubahan sentimen investor.
Baca juga : Bank Indonesia Tahan BI Rate, Apa Dampaknya ke Rupiah dan Kredit?
Belajar dari Krisis 1997–1998
Indonesia memiliki pengalaman pahit terkait pelemahan nilai tukar saat Krisis Moneter Asia 1997–1998. Kala itu, rupiah anjlok drastis dari sekitar Rp2.400 menjadi lebih dari Rp17.000 per dolar AS dalam waktu singkat. Dampaknya sangat luas dan sistemik meliputi sebagai berikut
Dampak Ekonomi & Sosial
- Inflasi melonjak hingga ~78% (1998) → Salah satu yang tertinggi dalam sejarah Indonesia
- Nilai tukar terdepresiasi >80% → Beban utang luar negeri melonjak drastis
- Produk Domestik Bruto (PDB) terkontraksi -13,1% (1998) → Ekonomi mengalami resesi dalam
- Suku bunga melonjak (BI rate sempat >60%) → Kredit macet dan dunia usaha terpukul
Krisis Sektor Keuangan
- Puluhan bank dilikuidasi → Kepercayaan publik terhadap perbankan runtuh
- Rush (penarikan dana besar-besaran) → Banyak bank kolaps karena krisis likuiditas
- Pembentukan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) → Untuk menyelamatkan dan restrukturisasi sektor perbankan
Dampak ke Harga & Daya Beli
- Harga pangan naik drastis (bahkan 2–3 kali lipat) → Beras, minyak goreng, dan kebutuhan pokok melonjak
- Inflasi bahan makanan >100% → Tekanan berat bagi rumah tangga
- Daya beli masyarakat anjlok tajaM
Baca juga : Rupiah Melemah, Ancam Daya Beli Masyarakat Jelang Idulfitri
Dampak Sosial
- Jumlah penduduk miskin melonjak → Dari 15% menjadi 33% populasi
- Pengangguran meningkat tajam → Jutaan pekerja kehilangan pekerjaan
- Kerusuhan sosial di berbagai daerah → Dipicu tekanan ekonomi dan ketimpangan
Dampak ke Dunia Usaha
- Banyak perusahaan bangkrut → Terutama yang punya utang dolar
- PHK massal di berbagai sektor → Industri manufaktur dan konstruksi paling terdampak
- IHSG anjlok lebih dari 40% → Pasar modal runtuh
Dampak Pelemahan Rupiah ke Ekonomi 2026
Pelemahan rupiah memiliki dua sisi:
- Dampak Positif:
- Mendorong daya saing ekspor
- Meningkatkan sektor pariwisata
- Dampak Negatif:
- Memicu inflasi impor
- Membebani utang luar negeri
- Menekan daya beli masyarakat
Karena itu, menjaga keseimbangan nilai tukar menjadi krusial agar manfaatnya tetap optimal tanpa menimbulkan risiko berlebih.
Pernyataan Mukhamad Misbakhun menyoroti perdebatan klasik dalam kebijakan moneter, sejauh mana bank sentral perlu mengintervensi pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Di satu sisi, intervensi diperlukan untuk meredam gejolak jangka pendek. Namun di sisi lain, penguatan fundamental ekonomi tetap menjadi kunci utama agar rupiah stabil secara berkelanjutan.
Dalam konteks saat ini, tantangan terbesar yakni menyeimbangkan antara tekanan global dan kekuatan domestik agar rupiah tidak hanya stabil, tetapi juga mencerminkan nilai ekonominya yang sebenarnya.

Chrisna Chanis Cara
Editor
