Daftar Saham Menarik Usai IHSG Rebound 6,14 Persen
- IHSG rebound 6,14% sepekan! Cek rekomendasi trading saham dari IPOT pekan ini.

Chrisna Chanis Cara
Author


Awak media mengambil gambar monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin, 3 Agustus 2020. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 2,78 persen atau 143,4 poin ke level 5.006,22 pada akhir sesi Senin (3/8/2020), setelah bergerak di rentang 4.928,47 – 5.157,27. Artinya, indeks sempat anjlok 4 persen dan terlempar dari zona 5.000. Risiko penurunan data perekonomian kawasan Asean termasuk Indonesia menjadi penyebab (IHSG) terkoreksi cukup dalam hari ini. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia
(Istimewa)JAKARTA, TRENASIA.ID– Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan performa gemilang pada pekan perdagangan 6–10 April 2026.
Setelah sempat tertekan, IHSG berhasil berbalik arah (rebound) signifikan dengan penguatan sebesar +6,14%.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah, mengungkapkan bahwa gairah pasar modal ini dipicu oleh meredanya tensi geopolitik global.
Kesepakatan gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran serta pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi katalis utama yang memperbaiki sentimen risiko investor.
"Penguatan IHSG lebih ditopang oleh aliran dana domestik serta rotasi pada saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) seperti BREN, DSSA, dan TPIA," jelas Hari dalam keterangan resminya, Senin, 13 April 2026.
Domestik Penopang Utama, Asing Masih 'Wait and See'
Meski indeks melonjak, Hari mencatat bahwa investor asing masih cenderung berhati-hati. Hal ini terlihat dari aksi jual bersih (net sell) asing yang mencapai Rp3,3 triliun di pasar reguler.
Penguatan IHSG lebih ditopang oleh aliran dana domestik serta rotasi pada saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) seperti BREN, DSSA, dan TPIA, jelas Hari dalam keterangan resminya.
Memasuki pekan 13–17 April 2026, pelaku pasar diminta tetap waspada. Gagalnya negosiasi lanjutan AS-Iran berpotensi memberikan tekanan pada indeks Wall Street dan memicu kekhawatiran gangguan rantai pasok minyak dunia.
Jika harga energi tetap tinggi, inflasi global sulit melandai, sehingga ruang bagi bank sentral (The Fed) untuk memangkas suku bunga menjadi semakin sempit.
Kondisi ini bisa mendorong investor kembali ke aset aman (safe haven) seperti Dolar AS.
Faktor Domestik: Rupiah Rp17.000 dan Isu BBM.
Dari dalam negeri, perhatian tertuju pada dua isu krusial:
1. Nilai Tukar Rupiah: Tekanan yang membawa Rupiah ke level Rp17.000 per USD memicu langkah stabilitas dari otoritas moneter melalui intervensi pasar valas.
2. Penyesuaian Harga BBM: Rencana pemerintah menyesuaikan harga BBM non-subsidi guna menjaga fiskal berpotensi memicu inflasi jangka pendek di sektor transportasi dan logistik.
Di tengah proyeksi IHSG yang akan bergerak mixed dan konsolidatif, Indo Premier Sekuritas merekomendasikan strategi trading-oriented dengan memanfaatkan fitur LADI (Live Accumulation/Distribution Indicator) pada aplikasi IPOT untuk mendeteksi pergerakan smart money.
Berikut adalah 4 rekomendasi saham untuk pekan ini:
1. Buy MBMA (PT Merdeka Battery Materials Tbk)
Entry: 745
Target Price (TP): 825
Stop Loss (SL): 715
Analisis: Struktur harga masih uptrend didukung foreign inflow sebesar Rp5,5 miliar sepekan terakhir.
2. Buy ENRG (PT Energi Mega Persada Tbk)
Entry: 1745
Target Price (TP): 1925
Stop Loss (SL): 1645
Analisis: Bertahan di atas area psikologis 1.700. Kenaikan harga minyak global menjadi katalis positif bagi emiten ini.
3. Buy EXCL (PT XL Axiata Tbk)
Entry: 3.160
Target Price (TP): 3.550
Stop Loss (SL): 2.960
Analisis: Berhasil menembus area EMA-50 dengan akumulasi asing mencapai Rp20,6 miliar dalam sebulan terakhir.
4. Reksa Dana Saham Premier ETF IDX High Dividend 20 (XIHD)
Analisis: Pilihan investasi defensif yang berisi 20 emiten pembagi dividen konsisten. Sangat relevan di tengah musim pembagian dividen interim sebagai penopang volatilitas pasar.
Disclaimer On:
Investasi saham memiliki risiko. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor.
Harap melakukan analisis mandiri sebelum melakukan transaksi.
Tulisan ini telah tayang di ibukotakini.com oleh Ferry Cahyanti pada 13 Apr 2026

Chrisna Chanis Cara
Editor
