Laba LPPF Susut, Matahari Timbun Stok Rp954 M Jelang Lebaran
- Laba bersih Matahari menyusut menjadi Rp725 miliar pada 2025. Tapi perseroan tetap agresif menimbun stok barang demi menyambut lonjakan belanja Lebaran 2026.

Alvin Bagaskara
Author


Suasana gerai Matahari Departement Store Mal WTC, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Selasa, 20 Oktober 2020. Foto: Panji Asmoro/TrenAsia
(Istimewa)JAKARTA, TRENASIA.ID – Emiten fesyen ritel PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) mencatat laba tahun buku 2025 menyusut. Meski begitu, manajemen sangat optimistikan dan menyiapkan strategi agresif untuk mengejar lonjakan penjualan menjelang Lebaran 2026.
Berdasarkan laporan keuangannya, laba bersih Matahari menyusut menjadi Rp725,37 miliar pada tahun 2025 dibandingkan capaian tahun sebelumnya senilai Rp827,65 miliar. Penurunan ini menekan Earning Per Share perusahaan menjadi Rp324 per lembar dari posisi tahun sebelumnya yakni Rp366.
Yang menarik, koreksi performa ini tidak mematahkan semangat perseroan untuk meraup cuan maksimal pada momentum hari raya nanti. Manajemen secara agresif telah menyiapkan tumpukan persediaan barang dagangan di gerai-gerai sebagai amunisi utama untuk memenangkan persaingan ritel fesyen nasional yang semakin ketat.
Penyebab Utama Melemahnya Daya Beli
Manajemen LPPF menjelaskan secara blak-blakan bahwa permintaan konsumen dilaporkan sangat melemah akibat tekanan ekonomi makro yang berat. "Permintaan konsumen dilaporkan sangat melemah, yang tercermin dari menurunnya tingkat tabungan pribadi di masyarakat," tegas manajemen LPPF dalam bahan presentasi paparan publik yang diunggah di Bursa Efek Indonesia pada Jumat, 27 Februari 2026.
Kondisi pasar tenaga kerja yang memburuk serta membengkaknya angka pengangguran muda membuat uang yang beredar untuk belanja barang tersier menjadi semakin seret. Selain itu, Matahari harus menghadapi gempuran parah dari masuknya barang impor ilegal dengan harga yang sangat miring.
Manajemen menyoroti adanya kesenjangan masif pada data ekspor-impor antara China dan Indonesia sebagai bukti nyata ancaman ilegal tersebut. "Matahari juga menghadapi gempuran parah dari masuknya barang impor ilegal dengan harga miring," tambah manajemen LPPF.
Pelemahan Pendapatan di Seluruh Lini Bisnis
Sementara itu, menyusutnya laba bersih dan EPS perusahaan berakar kuat pada pelemahan total pendapatan bersih yang merosot menjadi Rp5,78 triliun pada 2025. Angka tersebut terkontraksi cukup dalam dibandingkan pencapaian tahun buku 2024 yang saat itu masih berada pada level nominal Rp6,39 triliun.
Penurunan pendapatan terjadi merata pada tiga sumber utama Matahari yang sama-sama kompak mengalami kontraksi sepanjang tahun. Lini penjualan eceran yang menjadi tulang punggung utama bisnis hanya meraup Rp3,33 triliun, turun drastis dibandingkan pencapaian tahun lalu senilai angka Rp3,65 triliun.
Pendapatan dari sistem penjualan konsinyasi bersih juga tercatat turun dari Rp2,73 triliun menjadi Rp2,44 triliun pada 2025. Sementara itu, lini pendapatan jasa yang menyumbang porsi terkecil turut melemah menjadi Rp6,7 miliar dari posisi tahun sebelumnya yang bernilai sebesar Rp10,3 miliar.
Efisiensi Radikal Bendung Penurunan Laba
Yang menarik di tengah penurunan pendapatan, manajemen Matahari sukses melakukan upaya efisiensi yang sangat ketat guna menjaga margin operasional perusahaan. Hasilnya, total beban usaha dipangkas dari Rp2,97 triliun menjadi Rp2,78 triliun sepanjang tahun operasional 2025 melalui penghematan pada berbagai pos pengeluaran secara terukur.
Selain itu, penghematan terbesar dilakukan pada pos biaya gaji dan kesejahteraan karyawan yang dipotong menjadi Rp892,1 miliar dari Rp960,5 miliar. Perseroan juga memangkas biaya pemasaran, biaya utilitas sebesar Rp218,6 miliar, serta menekan beban sewa gedung ke angka nominal sebesar Rp546,1 miliar.
Langkah radikal lainnya diambil dengan menutup tujuh gerai lama yang dinilai memiliki kinerja rendah demi kesehatan ekosistem bisnis. Manajemen menegaskan bahwa penutupan gerai ini merupakan bagian dari upaya menciptakan jaringan toko yang jauh lebih sehat, produktif, dan menguntungkan.
Transformasi Format Toko Modern MU+KU
Matahari kini berekspansi menggunakan format toko yang lebih modern demi menarik minat pelanggan dari kalangan generasi muda. "Perseroan berekspansi menggunakan format toko yang lebih modern dan sukses memajukan konsep gerai multi-brand bernama MU+KU," papar manajemen mengenai strategi bisnis terbaru.
Selain konsep MU+KU, Matahari terus memperluas format gerai mono-brand andalan mereka yakni SUKO dan ZESyang sangat diminati pasar. Strategi ini terbukti efektif dalam menjaga relevansi merek di tengah persaingan ritel pakaian yang kini semakin dinamis dan progresif.
Layanan belanja digital atau Omnichannel melalui platform WhatsApp dilaporkan tumbuh hingga 64,7% sepanjang periode tahun pelaporan 2025. Inovasi ini menjadi pilar penting bagi perseroan untuk tetap menjangkau pelanggan secara luas tanpa harus bergantung sepenuhnya pada kunjungan fisik toko.
Timbun Stok Amunisi Menjelang Lebaran
Menariknya, di tengah tren penurunan pendapatan, nilai persediaan barang dagangan justru disiapkan melonjak tinggi menjadi Rp954,7 miliar. Angka stok tersebut naik signifikan dibandingkan posisi akhir tahun 2024 yang saat itu hanya berada pada nilai nominal sebesar Rp727,5 miliar di neraca.
Tumpukan stok pakaian pria senilai Rp323,1 miliar dan pakaian wanita Rp243,3 miliar menjadi sinyal amunisi yang sangat agresif. Matahari juga menyiapkan persediaan sepatu sebesar Rp226,4 miliar serta produk anak-anak senilai Rp212,7 miliar demi meraup cuan maksimal saat momen liburan.
Penumpukan amunisi besar-besaran ini dipersiapkan untuk mengantisipasi waktu Lebaran yang datang lebih awal serta investasi pada koleksi merek baru. Pertanyaannya; mampukah lautan stok fesyen yang disiapkan LPPF ini terserap habis oleh pasar di tengah lesunya daya beli masyarakat yang sedang mengalami tekanan hebat?

Alvin Bagaskara
Editor
