Tren Pasar

Catatan Penting Performa ADRO, ADMR, AADI di Tahun 2025

  • Mengulik laporan keuangan ADRO, ADMR, AADI di 2025: laba menurun tajam dan kinerja tertekan oleh fluktuasi pasar tambang global.
Gedung Adaro .jpg
Gedung Adaro Energy di Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Kinerja keuangan tiga emiten terafiliasi Garibaldi Thohir kompak mencatatkan rapor merah sepanjang tahun 2025. Laba bersih PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR), serta PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) serempak mengalami penurunan tajam di tengah pelemahan harga komoditas tambang global.

Penurunan pendapatan mayoritas perusahaan tambang tersebut sejalan dengan koreksi harga batu bara secara merata di pasar internasional. Berkurangnya volume penjualan ekspor dan membengkaknya beberapa pos beban operasional menjadi faktor utama yang sangat membebani kinerja laba bersih ketiga entitas bisnis raksasa tersebut.

Laporan keuangan konsolidasian menunjukkan realisasi keuntungan ketiga perusahaan ini sedang berada pada tren yang cukup melandai. Pelaku pasar kini menanti strategi efisiensi manajemen guna memulihkan stabilitas struktur finansial pada periode kuartal berikutnya di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.

Laba Bersih ADRO Terjun Bebas

Kinerja ADRO tercatat paling tertekan sepanjang periode laporan pembukuan tahun 2025. Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar US$447,69 juta atau setara Rp7,46 triliun, anjlok tajam 67,56% dibandingkan posisi tahun 2024.

Penurunan laba tersebut berjalan lurus dengan ambruknya total pendapatan usaha perseroan menjadi US$1,87 miliar. Angka tersebut mencerminkan koreksi sebesar 9,66% dari posisi sebelumnya US$2,07 miliar akibat lesunya nilai penjualan ekspor hasil tambang secara akumulatif nasional.

Beban pokok ADRO justru terpantau membengkak sebesar 2,50% menjadi US$1,23 miliar saat pendapatan sedang lesu. Kondisi ini menekan raihan laba kotor menjadi US$636,63 juta, sementara total liabilitas perusahaan melonjak signifikan menjadi US$1,81 miliar saat ini.

Beban Ekstra Tekan Laba ADMR

Sementara itu, ADMR mencatatkan laba bersih sebesar US$271 juta sepanjang tahun 2025 (Rp4,52 triliun). Raihan tersebut mengonfirmasi penurunan kinerja operasional sekitar 38% dibandingkan torehan laba bersih perusahaan pada tahun 2024 yang tercatat jauh lebih stabil secara finansial.

Walaupun margin operasional sempat membaik ke level 39,2%, pertumbuhan keuntungan terganjal kuat oleh beban mendadak. Perusahaan terpaksa membukukan beban cadangan kerugian kredit sebesar US$31,4 juta atas pinjaman macet pihak ketiga yang baru dilaporkan secara resmi pada akhir tahun laporan.

Struktur neraca perusahaan masih tertolong oleh posisi likuiditas memadai dengan rasio utang terhadap ekuitas di kisaran 0,46 kali saja. Total aset ADMR tercatat sebesar Rp48,34 triliun dengan arus kas investasi mencapai besaran angka masif yakni sekitar Rp13,24 triliun pada tahun berat ini.

Pendapatan AADI Terkoreksi Tajam

Adapun AADI mengumumkan laba tahun berjalan senilai US$849,18 juta (Rp14,14 triliun) sepanjang tahun 2025. Raihan finansial tersebut menunjukkan koreksi sedalam 36% dari angka pencapaian laba tahun 2024 yang sempat menyentuh level US$1,32 miliar secara meyakinkan.

Pelemahan rata-rata harga jual batu bara memicu anjloknya total pendapatan usaha perseroan menjadi US$4,91 miliar. Kondisi pasar fluktuatif ini membuat laba sebelum pajak perusahaan menyusut drastis dari US$1,54 miliar menjadi hanya sebesar US$1,05 miliar.

Posisi laba dasar per lembar saham emiten ini merosot ke level US$0,09762 pada 2025 akibat tekanan pasar. Perusahaan juga mencatatkan penyusutan cadangan kas menjadi US$925,44 juta, seiring penurunan kewajiban utang perseroan ke angka US$2,05 miliar.