Cara Hitung Valuasi Saham agar Pemula Tak Salah Beli
- Memahami valuasi saham lewat PER, PBV, hingga DCF bisa membantu menentukan apakah sebuah saham benar-benar murah atau justru kemahalan.

Ananda Astri Dianka
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Banyak investor pemula terjebak membeli saham hanya karena harganya sedang menanjak atau ramai diperbincangkan. Padahal, harga yang naik belum tentu mencerminkan nilai sebenarnya dari sebuah perusahaan.
Di sinilah peran valuasi saham menjadi penting. Dengan memahami valuasi, investor bisa menilai apakah harga saham masih tergolong murah, sudah wajar, atau justru terlalu mahal. Pendekatan ini membantu pengambilan keputusan investasi yang lebih rasional, bukan sekadar mengikuti emosi atau tren sesaat.
Valuasi saham merupakan proses untuk mengukur nilai intrinsik atau nilai wajar suatu saham berdasarkan kinerja serta kondisi keuangan perusahaan. Jika nilai wajarnya lebih tinggi dibanding harga di pasar, saham tersebut bisa dikategorikan undervalued dan berpotensi memberikan imbal hasil.
Sebaliknya, jika harga pasar jauh di atas nilai wajarnya, saham itu berisiko overvalued. Dengan valuasi yang tepat, investor dapat memilih saham yang berkualitas dengan risiko yang lebih terukur.
Valuasi membantu investor menghindari keputusan yang bersifat spekulatif. Lewat valuasi, investor bisa menilai apakah harga saham masih masuk akal untuk dibeli, menghindari saham yang sudah terlalu mahal, serta menyusun strategi investasi jangka panjang dengan lebih percaya diri. Investor yang terbiasa melakukan valuasi umumnya juga lebih tenang menghadapi naik-turun pasar.
Cara Menghitung Valuasi Saham
1. Price to Earnings Ratio (PER)
PER adalah rasio valuasi yang paling sering digunakan. Cara menghitungnya adalah membagi harga saham per lembar dengan laba bersih per saham atau earnings per share (EPS).
PER menunjukkan seberapa besar harga yang dibayar investor untuk setiap satu rupiah laba perusahaan.
PER yang lebih rendah sering dianggap lebih murah, namun tetap perlu dibandingkan dengan rata-rata industri. Rasio ini umumnya cocok untuk perusahaan yang sudah mapan dan memiliki laba yang relatif stabil.
2. Price to Book Value (PBV)
PBV membandingkan harga saham dengan nilai buku perusahaan. Perhitungannya adalah harga saham per lembar dibagi nilai buku per saham.
PBV di bawah 1 kerap dianggap murah, tetapi tidak selalu berarti menarik. Investor tetap perlu mencermati kualitas aset serta prospek bisnis perusahaan.
Rasio ini banyak digunakan pada sektor perbankan, properti, dan perusahaan berbasis aset.
3. Dividend Yield
Bagi investor yang mengincar pendapatan dividen, dividend yield bisa menjadi indikator tambahan. Rasio ini dihitung dari dividen per saham dibagi harga saham.
Dividend yield menunjukkan persentase imbal hasil dividen yang diperoleh dari harga saham saat ini. Yield yang tinggi bisa menarik, selama kondisi keuangan perusahaan tetap sehat dan dividen berkelanjutan.
4. Pendekatan Discounted Cash Flow (DCF)
Untuk analisis yang lebih mendalam, investor bisa menggunakan metode Discounted Cash Flow (DCF). Metode ini menilai saham berdasarkan proyeksi arus kas masa depan yang didiskontokan ke nilai saat ini.
Meski tergolong kompleks, DCF memberikan gambaran fundamental mengenai potensi jangka panjang perusahaan. Metode ini membutuhkan asumsi pertumbuhan, tingkat diskonto, serta proyeksi keuangan yang realistis.
5. Membandingkan dengan Perusahaan Sejenis
Valuasi tidak bisa dilihat secara terpisah. Rasio valuasi perlu dibandingkan dengan perusahaan lain di sektor yang sama. Setiap industri memiliki karakteristik dan tingkat risiko yang berbeda.
Dengan membandingkan PER, PBV, dan rasio lainnya terhadap rata-rata industri, investor bisa menilai apakah suatu saham memang murah atau hanya terlihat murah di atas kertas.
Kesalahan yang Sering Terjadi
Kesalahan umum dalam valuasi saham antara lain hanya mengandalkan satu rasio, mengabaikan prospek bisnis, serta tidak memperhitungkan kondisi ekonomi makro. Valuasi sebaiknya dilakukan secara menyeluruh agar hasilnya lebih akurat.
Bagi investor pemula, mempelajari valuasi saham memang membutuhkan waktu dan latihan. Mengakses sumber edukasi yang kredibel dapat membantu memahami rasio keuangan dan analisis fundamental.
Berbagai ekosistem investasi, seperti Bareksa, kerap dimanfaatkan investor untuk memperdalam pemahaman dasar tentang instrumen investasi. Dengan bekal edukasi yang cukup, konsep valuasi bisa dipahami sebelum diterapkan dalam keputusan membeli saham.
Pada akhirnya, menghitung valuasi saham adalah langkah penting agar investor tidak terjebak membeli saham hanya karena tren. Dengan memahami PER, PBV, dividend yield, hingga pendekatan DCF, investor dapat menilai apakah suatu saham layak dibeli sesuai tujuan investasi.
Valuasi bukan tentang mencari saham termurah, melainkan menemukan saham berkualitas dengan harga yang masuk akal. Dengan pendekatan yang disiplin dan pengetahuan yang terus diperbarui, investasi saham dapat dilakukan dengan lebih percaya diri dan terarah.

Ananda Astri Dianka
Editor
