Cadangan Bensin Sisa 20 Hari, Intip Sumber BBM Indonesia
- Produksi minyak RI 600 ribu barel per hari, konsumsi 1,6 juta barel. Cadangan BBM hanya 20 hari, impor masih dominan.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Pemerintah memastikan cadangan bahan bakar minyak (BBM) nasional saat ini berada pada level sekitar 20 hari operasional. Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global yang berdampak pada distribusi energi dunia.
Situasi memanas di kawasan Timur Tengah, termasuk dampak terhadap jalur strategis seperti Selat Hormuz, menjadi salah satu faktor yang meningkatkan kewaspadaan pemerintah terhadap stabilitas pasokan energi nasional.
Menurut Kementerian ESDM, angka 20 hari tersebut merupakan cadangan operasional yang terus bergerak karena pasokan dan distribusi tetap berjalan. Artinya, bukan berarti stok akan habis pada hari ke-21, melainkan mencerminkan kapasitas penyimpanan nasional dalam kondisi normal.
“Masih cukup 20 hari, Nanti besok Insyaallah saya rapat di ESDM, kami akan rapat dengan Dewan Energi Nasional,” jelas Bahlil di Istana Negara,Selasa 3 Maret 2026.
Meski secara teknis masih dinilai aman, pemerintah mengakui bahwa angka tersebut relatif rendah jika dibandingkan dengan standar ketahanan energi global. Oleh karena itu, pemerintah menyiapkan berbagai langkah antisipasi untuk menjaga stabilitas distribusi dan harga di dalam negeri.
Dalam berbagai forum, Bahlil menyebut bahwa standar ideal cadangan energi nasional yang lazim dijadikan acuan internasional adalah sekitar 90 hari. Standar tersebut dinilai cukup untuk menghadapi gangguan pasokan akibat konflik, bencana, atau krisis global.
Baca juga : Harga Minyak Naik Tajam, BBM dan Inflasi Terancam Melonjak
"Jadi di Asia Tenggara kita ini paling kecil. Dengan penduduk, di-compiling penduduk ini ya. Maka tidak ada cara lain, seluruh sumber daya alam kita yang berpotensi untuk kita melakukan hilirisasi harus kita lakukan," ujar Bahlil dalam Program Economic Update CNBC Indonesia, Kamis, 1 Agustus 2024 lalu.
Sebagai perbandingan, beberapa negara di kawasan memiliki kapasitas cadangan yang lebih besar. Singapura, misalnya, diperkirakan memiliki cadangan sekitar 60 hari. Sementara itu, posisi Indonesia saat ini berada di kisaran 20–21 hari.
Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa dari sisi ketahanan penyimpanan energi, Indonesia masih perlu memperkuat infrastruktur dan kapasitas cadangan strategisnya.
Sumber BBM Indonesia
Dilansir TrenAsia dari berbagai sumber, kebutuhan konsumsi BBM nasional saat ini mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi minyak mentah dalam negeri baru berada di kisaran 600 ribu barel per hari.
Kesenjangan hampir satu juta barel per hari inilah yang membuat Indonesia masih harus mengandalkan impor untuk menjaga stabilitas pasokan dalam negeri.
Ketidakseimbangan antara produksi dan konsumsi tersebut dipengaruhi oleh penurunan lifting minyak dalam dua dekade terakhir, terbatasnya temuan ladang baru berskala besar, serta tingginya pertumbuhan kebutuhan energi sektor transportasi dan industri.
Dalam skema impor minyak mentah, sekitar 20 - 25 persen pasokan berasal dari kawasan Timur Tengah yang selama ini menjadi salah satu pusat produksi minyak dunia.
Sisanya, sekitar 75–80 persen, didatangkan dari berbagai negara lain seperti Angola, Amerika Serikat, dan Brasil. Pemerintah menyatakan tengah melakukan pengalihan sebagian pembelian guna mengurangi risiko gangguan distribusi akibat konflik geopolitik di jalur-jalur strategis perdagangan energi global.
Diversifikasi ini dinilai penting agar ketergantungan pada satu kawasan tidak menimbulkan kerentanan sistemik terhadap pasokan nasional.
Baca juga : Perang Timur Tengah Berkobar, Harga Pertalite Bisa Rp18.000
Untuk BBM jadi seperti bensin RON 90, 92, 95, dan 98, pemerintah menegaskan tidak bergantung pada impor dari Timur Tengah. Impor BBM jadi dilakukan melalui kontrak jangka panjang dengan sejumlah mitra dagang, termasuk negara-negara di kawasan Asia, guna memastikan kepastian volume dan harga dalam jangka menengah.
Skema kontrak tersebut juga memberikan ruang stabilitas fiskal karena fluktuasi harga spot internasional tidak sepenuhnya langsung diteruskan ke dalam negeri.
Selain minyak mentah dan BBM jadi, Indonesia masih mengimpor Liquefied Petroleum Gas (LPG) dalam jumlah signifikan. Sekitar 70 persen impor LPG nasional berasal dari Amerika Serikat, sementara sisanya dipasok dari Timur Tengah.
Tingginya ketergantungan terhadap impor LPG disebabkan oleh besarnya konsumsi rumah tangga serta keterbatasan produksi domestik. Pemerintah saat ini menyiapkan langkah diversifikasi sumber dan optimalisasi produksi dalam negeri untuk memperkecil risiko gangguan pasokan.
Di sisi lain, pemerintah menargetkan pengurangan impor energi secara bertahap sebagai bagian dari strategi kemandirian energi. Program mandatori biodiesel B40 diharapkan dapat menekan impor solar melalui pencampuran bahan bakar nabati berbasis sawit.
Pengoperasian dan peningkatan kapasitas kilang domestik juga diproyeksikan memperbaiki neraca energi nasional. Target jangka pendeknya adalah menghentikan impor solar pada 2026, kemudian disusul avtur dan bensin pada 2027.

Amirudin Zuhri
Editor
