Bursa Singapura dan Korea Selatan Terjun, Mana Terdalam?
- IHSG tidak sedang hancur sendirian pada hari ini. Bursa saham kawasan Asia Pasifik juga kompak merosot parah akibat memanasnya konflik militer di Timur Tengah.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok parah hingga lebih dari 4% sebelum memangkas koreksinya ke level 3%. Seluruh sektor memerah, namun kondisi pasar modal Indonesia ternyata sama sekali tidak sedang hancur sendirian pada hari ini.
Bursa saham di kawasan Asia Pasifik juga kompak rontok pada perdagangan hari Rabu, 4 Maret 2026. Indeks utama Korea Selatan yakni Kospi bahkan sempat merosot tajam menembus batas lebih dari 12% dan otomatis langsung menuju rekor hari terburuknya sejak beberapa dekade terakhir.
Pihak bursa Korea Selatan bahkan terpaksa harus menghentikan sementara aktivitas perdagangan indeks Kospi akibat penurunan tajam tersebut. Mekanisme penghentian darurat atau circuit breaker juga resmi diaktifkan pada sistem indeks Kosdaq yang turut terpantau anjlok parah hingga menyentuh angka kerugian 13%.
- Baca Juga: 10 Saham Konglo Runtuh, Imbas Sentimen Iran
Ancaman Blokade Selat Hormuz
Ketegangan militer kawasan terus meningkat drastis setelah pihak militer Iran dilaporkan sedang berupaya menutup Selat Hormuz secara sepihak. Padahal kawasan perairan tersebut merupakan jalur lalu lintas vital bagi seluruh aktivitas pengiriman pasokan komoditas energi dunia setiap harinya tanpa ada jeda.
Sikap represif tersebut memicu gelombang kepanikan luar biasa di bursa energi global. Berdasarkan keterangan resmi kepada media setempat hari ini, seorang komandan senior Garda Revolusi Iran dengan lantang menyatakan, "jalur tersebut telah ditutup dan kapal yang mencoba melintas akan menjadi target, " dilansir dari Bloomberg.
Ancaman militer brutal ini langsung memancing reaksi keras dari negara adidaya. Merespons blokade laut tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa kekuatan angkatan laut negaranya siap mengawal penuh kapal tanker demi memastikan pasokan energi global tetap mengalir dengan lancar.
Tekanan Krisis Minyak Global
Kondisi geopolitik yang memanas membuat pasar keuangan Korea Selatan menjadi sangat sensitif terhadap fluktuasi harga minyak. Secara strategis, Global Market Strategist Yuanta Securities Daniel Yoo menilai situasinya, "gejolak di Timur Tengah biasanya memicu volatilitas jangka pendek di pasar saham Korea."
Kenaikan harga minyak di pasar komoditas dapat langsung menekan margin keuntungan sektor industri dan mengganggu volume ekspor. Harga minyak dunia sendiri terus merangkak naik menyusul meluasnya eskalasi konflik militer bersenjata yang mendera wilayah perairan sangat strategis Timur Tengah saat ini.
Harga komoditas minyak mentah Amerika Serikat atau patokan WTI terpantau naik sekitar 0,5% menuju posisi 74,9 Dolar per barel hari ini. Sementara itu, nilai kontrak berjangka minyak Brent juga ikut meningkat hampir 1% menuju kisaran angka 82 Dolar secara bertahap.
Runtuhnya Raksasa Teknologi Asia
Para raksasa teknologi yang menjadi penopang utama indeks kini ikut tertekan hebat. Direktur Riset Ekuitas Asia Morningstar Lorraine Tan menyebutkan bahwa pelemahan bursa tersebut turut dipicu oleh tingginya tingkat konsentrasi kapitalisasi saham berukuran sangat besar di dalam komposisi indeks negara tersebut.
Beban terberat pasar muncul saat saham produsen cip terbesar Samsung Electronics anjlok sekitar 7% hari ini. Sementara itu, nilai saham perusahaan pembuat cip memori andalan negara yakni SK Hynix juga turut melemah secara signifikan hingga menyentuh angka kerugian sebesar 5%.
Selain itu muncul kekhawatiran serius bahwa proses adopsi pusat data berbasis kecerdasan buatan dapat mengalami perlambatan signifikan. Ancaman pelemahan berpotensi terjadi karena kebutuhan pasokan energi sistem kecerdasan buatan ternyata jauh lebih masif dibandingkan keseluruhan infrastruktur pusat data model konvensional biasa.
Guncangan Hebat Menjalar Cepat
Koreksi tajam yang melanda bursa saham Korea Selatan rupanya juga terjadi merata di tengah pelemahan berbagai bursa Asia lainnya. Indeks saham Nikkei 225 asal Jepang ikut anjlok parah sekitar 3,9%, sementara indikator Topix merosot jatuh hampir menembus batas pelemahan 4%.
Sentimen kepanikan pasar global ini sukses menghantam bursa negara maju lainnya secara beruntun. Di pasar modal Australia, pergerakan indeks acuan S&P/ASX 200 terpantau ikut terkoreksi sangat dalam dan mencetak angka penurunan menyakitkan hingga jauh melampaui level kerugian nilai sebesar 2%.
Badai kehancuran nilai aset ini ternyata tidak berhenti sampai di situ saja. Indeks Hang Seng Hong Kong harus rela terkoreksi sekitar 2,7%, sementara indeks CSI 300 di wilayah Tiongkok daratan terpantau terus melemah dan mencatatkan rapor kerugian hingga mencapai 1,6%.
Kehancuran Menular ke Singapura
Pasar saham Singapura beserta lingkup pasar Asia lainnya terus merasakan efek rambatan dari serangan konflik yang sedang memanas. Indeks unggulan Straits Times terjatuh sebesar 2% atau kehilangan 95,94 poin hingga tersungkur ke posisi 4.820,71 pada sesi perdagangan jam 10.11 pagi ini.
Tercatat sebanyak 400 saham berguguran dan hanya menyisakan 134 saham yang berhasil naik di bursa tersebut. Saham perbankan lokal menjadi korban utama, di mana saham DBS turun 1,2% menjadi 54,95 Dolar dan harga emiten OCBCanjlok tajam sebesar 1,2% ke 20,85 Dolar.
Emiten perbankan UOB juga turun 1,5% menjadi 35,81 Dolar sementara maskapai Singapore Airlines anjlok 1,9% menuju harga 6,65 Dolar. Badai kerugian ini diperparah oleh kejatuhan saham Seatrium sebesar 3%, Yangzijiang turun 4,9%, Marco Polo Marine anjlok 5,2%, dan infrastruktur Keppel amblas 5,7%.

Alvin Bagaskara
Editor
