Bursa Korea Cabut Gelar Blue Chip dari SM dan YG Entertainment
Bursa saham Korea Selatan memutuskan mengubah klasifikasi bisnis dua perusahaan hiburan ternama, SM dan YG Entertainment. Dua dari tiga perusahaan hiburan terbesar itu ‘turun tahta’ dari status blue chip menjadi perusahaan kelas menengah.

Muhamad Arfan Septiawan
Author


Logo SM Entertainment dan YG Entertainment
(Istimewa)JAKARTA – Bursa saham Korea Selatan memutuskan mengubah klasifikasi bisnis dua perusahaan hiburan ternama, SM dan YG Entertainment.
Dua dari tiga perusahaan hiburan terbesar itu ‘turun tahta’ dari status blue chip menjadi perusahaan kelas menengah.
Melansir Naver pada Jumat, 7 Mei 2021, Hilangnya status blue chip dua pemain besar perusahaan hiburan itu lantaran bisnisnya yang mengalami kerugian selama tiga tahun terakhir. Maka, the big three atau tiga perusahaan hiburan terbesar yang masih mengukuhkan statusnya sebagai emiten blue chip hanya lah JYP Entertainment.
SM Entertainment, rumah bagi grup K-pop populer Super Junior dan Red Velvet ini tercatat mengalami kerugian bersih hingga 24,4 miliar won Korea atau setara Rp306,15 miliar (asumsi kurs Rp12,73 per won Korea) dalam tiga tahun terakhir. Return on equity (ROE) SM Entertainment pun telah menyentuh angka minus di level 3,38%.
Naver dalam laporannya menyebut kerugian SM Entertainment dipicu oleh segmen bisnis yang terlalu banyak.
- 11 Bank Biayai Proyek Tol Serang-Panimbang Rp6 Triliun
- PTPP Hingga Mei 2021 Raih Kontrak Baru Rp6,7 Triliun
- Rilis Rapid Fire, MNC Studios Milik Hary Tanoe Gandeng Pengembang Game Korea
Selain menjadi agensi musik, SM Entertainment juga tercatat memiliki berbagai unit bisnis multi sektor. Beberapa di antaranya antara lain, pengembang aplikasi bernama DEAR U, sub agensi aktor KeyEast Management, perusahaan perikalanan SM Cultures and Cultures (C&C), hingga sub agensi SJ The Label dan SM Studios.
Meski agensi yang didirikan Lee Soo Man ini membukukan pendapatan hingga 579 miliar won atau Rp7,37 triliun pada 2020, tetapi tidak cukup untuk menutupi operasional seluruh unit bisnis perusahaan. Alhasil, SM Entertainment membukukan kerugian bersih 70,1 miliar won Korea atau Rp893 miliar pada tahun lalu.
Sementara itu YG Entertainment dilaporkan mengalami kerugian bersih 1,8 miliar won Korea atau setara Rp22,96 miliar dalam tiga tahun terakhir. ROE agensi Blackpink dan Big Bang ini pun ambles ke level minus 0,5%.
Menurut laporan keuangan perusahaan, YG Entertainment meraih pendapatan 255,26 miliar won Korea atau Rp3,25 triliun pada tahun lalu. Namun, arus kas aktivitas pembiayaan perusahaan tercatat berada di level minus 10,43 miliar won Korea atau Rp132 miliar.
Masalah yang dihadapi YG Entertainment lebih pelik lagi. Sejak skandal Burning Sun atau kasus dugaan keterlibatan perdagangan narkoba dan korupsi muncul ke permukaan pada 2019, emiten ini terus tersandung kasus lainnya.
Baru-baru ini, Chief Executive Officer (CEO) YG Entertainment Hwang Bo Kyung diduga terlibat dalam kasus insider trading atau perdagangan orang dalam. Mengutip SBS News, penyelidikan telah menetapkan 3 karyawan YG yang membeli saham ilegal menggunakan nama orang lain, termasuk Hwang Bo Kyung. (RCS)
