Korporasi

BUMN Timah Absen Bagi Dividen, Saham TINS Justru Melejit

  • Emiten tambang pelat merah PT Timah Tbk (TINS) kembali absen membagikan dividen untuk tahun ini. Para pemegang saham perseroan menyetujui hal ini melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada Senin, 6 April 2021.

<p>Gedung Timah, Gambir, Jakarta. Foto: Panji Asmoro/TrenAsia</p>

Gedung Timah, Gambir, Jakarta. Foto: Panji Asmoro/TrenAsia

(Istimewa)

JAKARTA – Emiten tambang pelat merah PT Timah Tbk (TINS) kembali absen membagikan dividen untuk tahun ini. Para pemegang saham perseroan menyetujui hal ini melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada Senin, 6 April 2021.

“Hasil rapat memutuskan tidak ada pembagian dividen,” ujar Direktur utama TINS Mochtar Riza Pahlevi Tabrani melalui konferensi virtual pada Senin, 6 April 2021.

Sementara itu, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko TINS Wibisono menyatakan bahwa kinerja keuangan perseroan masih tertekan dan dalam kondisi negatif sepanjang tahun 2020. Kata dia, hal ini tak terlepas dari pandemi COVID-19 yang cukup menggangu operasional perusahaan.

“Tekanan ini membuat perseroan masih membukukan posisi negatif sehingga tidak dapat membagikan dividen. Namun, kami optimistis terjadi perbaikan pada 2021 seiring dengan perbaikan fundamental neraca arus kas dan turunnya jumlah kerugian,” tambahnya.

Di tengah pemberitaan tersebut, TINS justru menguat 6,27% sebesar 95 poin ke level harga Rp1.610 per lembar pada akhir perdagangan Selasa, 6 April 2021. Bahkan, saham TINS sempat menyentuh level tertinggi pada level harga Rp1.615 per lembar pada hari itu.

Diberitakan sebelumnya, perseroan sukses menekan rugi bersih pada kinerja tahun 2020. Berdasarkan laporan keuangan tahun lalu, rugi bersih TINS sebesar Rp340,60 miliar, menyusut dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp611,28 miliar.

Namun, pada segi pendapatan, TINS juga mengalami penurunan pada 202. Pendapatan badan usaha milik negara (BUMN) ini turun 21,33% menjadi Rp15,21 triliun dari tahun lalu yang mencapai Rp19,34 triliun.

Jika dirincikan, jumlah pendapatannya didominasi oleh pasar ekspor sebesar Rp14,26 triliun, turun sebesar 22,6% dari penjualan ekspor pada 2019 yang mencapai Rp18,4 triliun. Sedangkan, penjualan di pasar domestik hanya sebesar Rp951,35 miliar. (SKO)