Tren Global

Boikot OpenAI Bikin Claude Popouler, Siapa Dario Amodei?

  • Claude makin populer di tengah boikot OpenAI. Siapa Dario Amodei, pendiri Anthropic yang membangun AI berbasis keamanan dan nilai kemanusiaan?
Dario.jpg
Dario Amodei, pendiri Claude (Forbes)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Popularitas chatbot Claude dalam beberapa hari terakhir meningkat sebagai akibat dari gerakan boikot OpenAI yang telah sepakat menjadi mitra strategis Militer Amerika Serikat (AS). 

Di tengah persaingan ketat industri kecerdasan buatan, Claude menjadi salah satu alternatif yang banyak digunakan sebagai pesaing teknologi AI dari OpenAI.

Tokoh utama di balik Claude adalah Dario Amodei, seorang peneliti kecerdasan buatan yang sebelumnya merupakan eksekutif senior di OpenAI. Ia mendirikan perusahaan Anthropic bersama saudara perempuannya Daniela Amodei serta sejumlah mantan kolega dari OpenAI pada 2021.

Perusahaan tersebut kini dikenal sebagai salah satu pemain penting dalam pengembangan model AI generatif yang menekankan aspek keamanan dan etika. Anthropic diketahui sedang bermasalah dengan Trump akibat menolak kerjasama militer yang ditawarkan AS.

Sosok Ilmuwan di Balik Claude

Dario Amodei lahir di San Francisco, Amerika Serikat, pada tahun 1983. Ia memiliki latar belakang akademik yang kuat di bidang sains sebelum beralih ke kecerdasan buatan.

Amodei menempuh pendidikan fisika di California Institute of Technology dan Stanford University, sebelum akhirnya meraih gelar doktor (PhD) dalam biofisika dari Princeton University.

Sebelum berkarier di industri AI, ia sempat menjadi peneliti pascadoktoral di Stanford University School of Medicine. Fokus risetnya kala itu berada di bidang biologi komputasional dan sistem kompleks.

Perjalanan Amodei di bidang kecerdasan buatan dimulai pada 2014 ketika ia bergabung dengan Baidu. Di perusahaan teknologi asal China tersebut, ia terlibat dalam penelitian awal mengenai konsep scaling laws, yaitu hubungan antara ukuran model AI, jumlah data, dan kemampuan sistem yang dihasilkan.

Konsep ini kemudian menjadi salah satu fondasi penting bagi perkembangan model bahasa besar (large language models).

Setelah dari Baidu, Amodei melanjutkan kariernya di Google Brain, divisi riset AI milik Google. Pada 2016, ia bergabung dengan OpenAI dan menjabat sebagai Wakil Presiden Riset.

Selama berada di OpenAI, Amodei memainkan peran penting dalam pengembangan model bahasa besar seperti GPT-2 dan GPT-3.

Ia juga dikenal sebagai salah satu tokoh yang berkontribusi pada pengembangan metode pelatihan AI yang dikenal sebagai Reinforcement Learning from Human Feedback (RLHF). 

Teknik ini memungkinkan model AI belajar dari umpan balik manusia untuk menghasilkan respons yang lebih relevan, aman, dan sesuai konteks. Pendekatan RLHF kemudian menjadi salah satu metode standar dalam pelatihan chatbot modern.

Lahirnya Anthropic

Pada 2021, Dario Amodei bersama Daniela Amodei dan lima peneliti lainnya memutuskan keluar dari OpenAI dan mendirikan Anthropic.

Keputusan tersebut dipicu oleh perbedaan pandangan mengenai arah pengembangan AI. Sejumlah pendiri Anthropic menilai bahwa industri AI bergerak sangat cepat menuju komersialisasi, sementara aspek keamanan dan transparansi perlu mendapat perhatian lebih besar.

Dari kekhawatiran tersebut lahirlah visi Anthropic untuk mengembangkan AI yang lebih aman, dapat diandalkan, serta selaras dengan kepentingan manusia.

Produk utama mereka adalah Claude, chatbot berbasis model bahasa besar yang dirancang untuk memberikan jawaban yang membantu, jujur, dan tidak berbahaya.

Salah satu pendekatan unik yang digunakan Anthropic dalam mengembangkan Claude adalah konsep Constitutional AI. Dalam pendekatan ini, model AI tidak hanya dilatih menggunakan data dalam jumlah besar, tetapi juga dibekali dengan seperangkat prinsip atau “konstitusi” yang menjadi pedoman dalam memberikan respons.

Prinsip tersebut mencakup nilai-nilai seperti kejujuran, keselamatan, dan penghormatan terhadap manusia. Beberapa inspirasi nilai tersebut bahkan merujuk pada dokumen global seperti United Nations melalui Universal Declaration of Human Rights.

Dengan metode ini, Claude diharapkan mampu menilai sendiri apakah suatu respons berpotensi merugikan atau melanggar prinsip etika.

Antropic Dukung Kepentingan Publik

Anthropic juga memiliki struktur perusahaan yang berbeda dari banyak perusahaan teknologi lainnya. Perusahaan ini dibentuk sebagai Public-Benefit Corporation (PBC), yaitu model korporasi yang secara hukum harus menyeimbangkan keuntungan bisnis dengan kepentingan publik.

Selain itu, Anthropic memiliki mekanisme pengawasan internal bernama Long-Term Benefit Trust yang bertugas memastikan perusahaan tetap berpegang pada misi jangka panjang terkait keamanan AI. Model ini dirancang untuk mencegah tekanan bisnis jangka pendek mengorbankan aspek keselamatan teknologi.

Meskipun mengusung misi keamanan AI, Anthropic tetap menarik minat investor besar di industri teknologi. Perusahaan ini menerima investasi miliaran dolar dari raksasa teknologi seperti Amazon dan Google. Amazon dilaporkan menanamkan investasi hingga sekitar US$8 miliar, sementara Google memberikan pendanaan sekitar US$2 miliar.

Investasi tersebut memperkuat posisi Anthropic sebagai salah satu perusahaan AI paling berpengaruh dalam persaingan global bersama OpenAI, Google, dan perusahaan teknologi besar lainnya.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan, Claude kini menjadi salah satu alternatif utama bagi pengguna yang mencari sistem AI dengan pendekatan keamanan dan etika yang lebih kuat.

Visi Dario Amodei tentang AI yang aman dan dapat dipercaya menjadi landasan utama bagi Anthropic dalam membangun teknologi mereka.

Tags: