Blok Masela, Harta Karun Gas RI yang Bisa Jadi Mesin Ekonomi Baru
- Seberapa besar potensi Blok Masela? Proyek LNG Abadi ditargetkan menghasilkan 9,5 juta ton LNG per tahun dan menyerap investasi US$20,9 miliar.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Indonesia memiliki salah satu cadangan gas bumi raksasa di kawasan timur yang selama lebih dari dua dekade menunggu untuk dikembangkan. Aset tersebut bernama Blok Masela, yang berada di Laut Arafura, Maluku, dengan Lapangan Abadi sebagai pusat pengembangannya.
Setelah mengalami berbagai perubahan rencana dan penundaan sejak penemuan Lapangan Abadi pada tahun 2000, proyek LNG Abadi Masela akhirnya memasuki babak baru pada tahun 2026. Pemerintah dan operator proyek, INPEX, kini mendorong pengembangan proyek dengan nilai investasi sekitar US$20,9 miliar atau sekitar Rp339 triliun.
Bahkan, pada 16 Juli 2026, pembangunan fisik proyek resmi dimulai melalui groundbreaking di Kepulauan Tanimbar, Maluku. Pemerintah menargetkan proyek tersebut menjadi salah satu sumber gas besar baru Indonesia sekaligus penggerak ekonomi kawasan Indonesia Timur.
Lantas, seberapa besar sebenarnya kekayaan gas di Blok Masela dan apa potensi ekonominya bagi Indonesia?
Apa Itu Blok Masela?
Blok Masela merupakan wilayah kerja migas yang berada di Laut Arafura, Maluku, di sekitar Kepulauan Tanimbar. Lapangan Abadi merupakan lapangan gas utama yang akan dikembangkan dalam proyek ini.
Kontrak kerja sama Blok Masela pertama kali ditandatangani pada 16 November 1998, sedangkan Lapangan Abadi ditemukan pada 2000. Pengembangan proyek kemudian mengalami perjalanan panjang sebelum akhirnya masuk tahap pembangunan pada 2026.
Blok ini berada di wilayah laut dengan kedalaman sekitar 400-800 meter. Kontrak kerja sama saat ini berlaku hingga 15 November 2055.
Dalam struktur kepemilikan saat ini, INPEX Masela Ltd menjadi operator dengan hak partisipasi 65%, sementara PT Pertamina Hulu Energi Masela memiliki 20% dan PETRONAS Masela Sdn. Bhd. sebesar 15%.
Baca juga : Harga HP Makin Mahal, Memori dan AI Jadi Biang Kerok
Jumlah cadangan gas di Blok Masela jadi salah satu alasan Blok tersebut disebut sebagai salah satu aset gas strategis Indonesia.
Data Kementerian ESDM menunjukkan cadangan Lapangan Abadi telah mengalami perubahan seiring penemuan tambahan sumber daya. Catatan sebelumnya menunjukkan cadangan tersertifikasi sebesar 10,73 triliun kaki kubik (TCF) setelah penemuan tambahan pada 2013.
Dalam perkembangan berikutnya, Kementerian ESDM mencatat total cadangan gas Lapangan Abadi sebesar 18,54 TSCF, dengan kapasitas produksi yang direncanakan mencapai sekitar 1.600 Million Standard Cubic Feet per Day (MMSCFD) ditambah 150 MMSCFD gas pipa serta kondensat sekitar 35.000 barel per hari.
Angka tersebut menunjukkan jika Masela bukan sekadar proyek LNG biasa. Lapangan Abadi memiliki sumber daya yang cukup besar untuk menjadi salah satu pemasok gas utama Indonesia dalam jangka panjang.
Gasnya Akan Diolah Menjadi Apa?
Pengembangan Masela dirancang tidak hanya untuk menghasilkan gas alam mentah. Gas dari Lapangan Abadi akan diproses menjadi Liquefied Natural Gas (LNG) di fasilitas pengolahan LNG darat.
Kapasitas yang direncanakan mencapai sekitar,
- 9,5 juta ton LNG per tahun;
- sekitar 150 juta kaki kubik gas per hari (MMSCFD) untuk gas pipa;
- hingga sekitar 35.000 barel kondensat per hari.
Dengan kapasitas tersebut, total produksi gas proyek jika dikonversikan ke LNG mencapai sekitar 10,5 juta ton per tahun. INPEX juga menyebut produksi LNG 9,5 juta ton per tahun setara dengan lebih dari 10% impor LNG tahunan Jepang. Artinya, Masela memiliki potensi untuk menjadi salah satu proyek LNG berskala besar di kawasan Asia.
Salah satu perubahan penting dalam pengembangan Masela adalah semakin kuatnya orientasi untuk memenuhi kebutuhan energi domestik.
Pada Juli 2026, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah akan mengalokasikan minimal 60% produksi gas Blok Masela untuk kebutuhan domestik, sementara maksimal 40% dapat digunakan untuk ekspor.
Gas domestik tersebut diarahkan antara lain untuk,
- industri pupuk;
- pembangkit listrik;
- kebutuhan industri;
- kegiatan hilirisasi.
Kebijakan tersebut membuat Masela memiliki fungsi strategis yang lebih luas. Proyek ini bukan hanya diharapkan menghasilkan devisa dari ekspor LNG, tetapi juga menyediakan energi untuk industri di dalam negeri.
Baca juga : Konser Andrea Bocelli Digelar di Borobudur, Ekonomi Potensi Bergeliat
Potensi Besar untuk Industri Pupuk dan Energi RI
Salah satu calon pengguna gas dari Masela adalah PT Pupuk Indonesia. Pada Mei 2026, INPEX mengumumkan telah mencapai kesepakatan prinsip dengan Pupuk Indonesia terkait pasokan gas pipa dari proyek Abadi LNG. Kesepakatan tersebut nantinya diarahkan menuju perjanjian jual beli gas (Gas Sales Agreement/GSA).
Ini penting karena gas merupakan bahan baku utama industri pupuk.
Dengan pasokan gas baru, pemerintah berharap keberadaan Masela dapat mendukung penguatan industri pupuk dan ketahanan pangan, sekaligus mengurangi tekanan terhadap pasokan gas untuk industri domestik.
Indonesia menghadapi tantangan berupa kebutuhan energi yang terus meningkat di tengah produksi sejumlah lapangan migas yang mengalami penurunan.
Dalam konteks tersebut, Masela dapat menjadi salah satu sumber pasokan baru. Jika produksi berjalan sesuai rencana, tambahan sekitar 9,5 juta ton LNG per tahun dan gas pipa 150 MMSCFD akan meningkatkan ketersediaan gas nasional.
Gas tersebut dapat digunakan untuk pembangkit listrik, industri, pupuk, serta kebutuhan energi lainnya. Pemerintah bahkan menetapkan sedikitnya 60% produksi Masela untuk pasar domestik. Artinya, keberhasilan proyek ini akan memiliki dampak langsung terhadap ketahanan energi Indonesia, bukan hanya terhadap neraca perdagangan.
Meski sebagian besar gas diarahkan ke dalam negeri, porsi ekspor tetap memiliki nilai strategis. Dengan kapasitas LNG sekitar 9,5 juta ton per tahun, Masela berpotensi menjadi sumber penerimaan ekspor dalam jangka panjang.
Pada Mei 2026, INPEX juga telah mencapai kesepakatan prinsip dengan sejumlah calon pembeli LNG, termasuk bp, PLN Energi Primer Indonesia, Perusahaan Gas Negara, dan Shell Eastern Trading. INPEX menyatakan kesepakatan tersebut secara kolektif diharapkan mencakup porsi signifikan dari produksi LNG proyek.
Dengan demikian, pasar untuk produksi Masela mulai dibangun bahkan sebelum proyek memasuki tahap produksi komersial.
Baca juga : Kenapa Kemiskinan Masih Subur Meski Ekonomi RI Terus Tumbuh?
Mengapa Masela Lama Tertunda?
Besarnya cadangan tidak otomatis membuat proyek migas mudah dibangun, Masela merupakan proyek dengan tingkat kompleksitas tinggi. Lokasinya berada di laut dalam dan jauh dari pusat industri utama Indonesia.
Pengembangannya juga mengalami perubahan konsep dari rencana fasilitas LNG terapung menjadi pengembangan LNG di darat. Pemerintah sebelumnya memilih konsep darat dengan pertimbangan bahwa dampak ekonomi yang dihasilkan bagi daerah dan Indonesia secara keseluruhan dapat lebih besar.
Setelah itu, proyek kembali mengalami berbagai proses penyesuaian hingga akhirnya Pertamina dan PETRONAS masuk sebagai mitra baru pada 2023. Pada tahun yang sama pemerintah juga menyetujui revisi rencana pengembangan yang memasukkan Carbon Capture and Storage (CCS).
Perkembangan proyek semakin konkret pada tahun 2025-2026. INPEX memulai tahap Front-End Engineering and Design (FEED) pada 2025. Pada Februari 2026, perusahaan juga mendapatkan persetujuan lingkungan dari pemerintah Indonesia untuk proyek Abadi LNG.
Kemudian pada Maret 2026, pemerintah kembali mendorong percepatan investasi Masela dengan INPEX. Nilai proyek disebut sekitar US$20 miliar dan pemerintah mendorong agar proyek tidak lagi mengalami penundaan panjang.
Puncaknya terjadi pada 16 Juli 2026, ketika pembangunan fisik proyek resmi dimulai. Pemerintah menargetkan proyek dapat memasuki fase produksi sekitar 2029-2030.
Masela juga dirancang dengan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS). CCS merupakan teknologi untuk menangkap karbon dioksida yang dihasilkan dalam proses produksi kemudian menyimpannya kembali di bawah tanah.
Pemerintah menyetujui revisi rencana pengembangan Lapangan Abadi yang memasukkan CCS pada 2023. Bagi pengembang, keberadaan CCS menjadi salah satu cara untuk menjaga daya saing proyek LNG dalam menghadapi tuntutan pengurangan emisi.
INPEX menyatakan CCS akan diterapkan sejak awal produksi LNG dan seluruh CO₂ yang berasal dari reservoir akan ditangkap serta diinjeksi kembali.
Baca juga : Apa Itu Buy the Rumor, Sell the News? Belajar dari Saham BYAN
Jadi, Apa Potensi Terbesar Blok Masela?
Jika seluruh rencana berjalan sesuai target, Masela memiliki setidaknya lima potensi ekonomi utama bagi Indonesia.
- Pertama, ketahanan energi. Produksi LNG dan gas pipa dapat menambah pasokan energi domestik.
- Kedua, industri. Alokasi minimal 60% gas untuk domestik dapat mendukung pupuk, listrik, dan berbagai industri berbasis gas.
- Ketiga, devisa. Sebagian produksi LNG tetap dapat diekspor sehingga berpotensi menghasilkan penerimaan ekspor.
- Keempat, investasi dan lapangan kerja. Nilai proyek sekitar US$20,9 miliar menciptakan aktivitas ekonomi besar sejak fase konstruksi hingga operasi.
- Kelima, pertumbuhan Indonesia Timur. Infrastruktur dan aktivitas bisnis yang muncul di sekitar proyek dapat memberikan efek berganda bagi Maluku dan Kepulauan Tanimbar.
Dengan kata lain, nilai Masela bukan hanya terletak pada berapa besar gas yang tersimpan di bawah Laut Arafura, tetapi pada seberapa besar cadangan tersebut berhasil diubah menjadi energi, industri, penerimaan negara, lapangan kerja, dan aktivitas ekonomi baru.

Muhammad Imam Hatami
Editor
