Bitcoin Nyaris Sentuh US$100.000, Wall Street Hijau: Efek Domino The Fed?
- Menanggapi keputusan The Fed yang dinilai tidak membawa kejutan negatif, pasar kripto mencatatkan sentimen positif yang signifikan. Fahmi Almuttaqin, analis dari platform investasi Reku, menyampaikan bahwa reaksi investor terhadap hasil pertemuan FOMC cukup optimistis, terutama karena tidak ada sinyal yang mengejutkan pasar.

Idham Nur Indrajaya
Author


JAKARTA - Federal Reserve (The Fed) kembali mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 4,25%–4,50% dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang digelar Rabu malam waktu Amerika Serikat. Keputusan ini diambil di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi yang dipicu oleh kebijakan tarif impor baru dari pemerintahan Presiden Donald Trump.
Ketua The Fed, Jerome Powell, menegaskan bahwa meskipun kondisi ekonomi AS masih tergolong solid, lembaga tersebut memilih bersikap hati-hati karena risiko inflasi dan potensi kenaikan tingkat pengangguran masih menjadi ancaman nyata.
“Ketidakpastian meningkat, tetapi ekonomi kita tetap dalam kondisi yang kuat. Namun, kami tetap waspada karena risiko inflasi dan pasar tenaga kerja yang bisa saja melemah,” ujar Powell dikutip dari New York Times, Jumat, 9 Mei 2025.
- Berapa Dividen Astra (ASII) dalam 10 Tahun Terakhir? Ini Datanya
- Rivan A. Purwantono, Ahli Restrukturisasi yang Kini Menakhodai Jasa Marga
- Cara Mendapatkan Saldo DANA Gratis Langsung Cair
Ia juga menyebutkan bahwa kebijakan moneter harus tetap fleksibel agar mampu merespons perubahan kondisi ekonomi secara tepat waktu.
Menurut Powell, kebijakan perdagangan—terutama tarif impor—merupakan sumber ketidakpastian utama yang menjadi perhatian The Fed.
Ia mengakui bahwa sulit untuk memperkirakan dampak jangka panjang dari kebijakan tersebut, terutama apakah tekanan yang timbul lebih besar dari sisi inflasi atau dari pelemahan tenaga kerja. Jika keduanya meningkat bersamaan, The Fed mungkin harus menentukan prioritas penanganan terhadap salah satu risiko.
Sentimen Positif Dorong Kenaikan Aset Kripto
Menanggapi keputusan The Fed yang dinilai tidak membawa kejutan negatif, pasar kripto mencatatkan sentimen positif yang signifikan. Fahmi Almuttaqin, analis dari platform investasi Reku, menyampaikan bahwa reaksi investor terhadap hasil pertemuan FOMC cukup optimistis, terutama karena tidak ada sinyal yang mengejutkan pasar.
“Di tengah tidak adanya sinyal negatif yang perlu dikhawatirkan investor dari hasil pertemuan The Fed, sentimen positif di pasar kripto berkembang semakin luas, begitu juga di Saham AS,” kata Fahmi melalui hasil riset yang diterima TrenAsia, Jumat, 9 Mei 2025.
Fahmi juga menyebutkan bahwa pernyataan Presiden Trump mengenai kemungkinan kesepakatan dagang besar dengan negara yang “sangat dihormati”—yang menurut spekulasi adalah Inggris—turut memicu optimisme pasar.
“Bitcoin yang baru pada 6 Mei kemarin diperdagangkan di level US$93.000 kini sudah menembus level US$99.000, 8 Mei 2025, pasca perkembangan situasi AS tersebut,” tambahnya.
Ia menilai bahwa tren kenaikan harga Bitcoin ini masih berpotensi berlanjut, terlebih jika kebijakan pelonggaran tarif dari AS benar-benar direalisasikan. Menurut Fahmi, bukan hal yang mustahil jika Bitcoin menembus level resistance psikologis di US$100.000 dalam waktu dekat.
Baca Juga: Volatilitas Bitcoin Meningkat, Inflow Investor Institusional Justru Pecahkan Rekor Baru
Wall Street Menguat, Saham Teknologi dan Disney Jadi Sorotan
Tak hanya pasar kripto, indeks saham utama di AS juga mengalami penguatan setelah The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga. Pelaku pasar menyambut positif pernyataan The Fed bahwa risiko terhadap ekonomi memang meningkat, namun belum terjadi secara nyata dalam waktu dekat.
“Sentimen pasar juga sempat didorong oleh kabar bahwa AS dan China akan memulai kembali pembicaraan dagang di Swiss, yang memunculkan harapan pelonggaran tarif. Selain itu, laporan juga menyebutkan Presiden Trump sedang mempertimbangkan pelonggaran pembatasan ekspor chip AI, yang sebelumnya diberlakukan di era Biden, sehingga mendorong saham-saham teknologi,” jelas Fahmi.
Beberapa saham mencatatkan performa yang menonjol. Disney, misalnya, mencatatkan kenaikan harga saham setelah merilis laporan keuangan yang solid dan mengumumkan rencana pembangunan taman hiburan di Abu Dhabi. Di sisi lain, BMW tetap optimistis dengan prospek bisnisnya meski harus menghadapi tantangan berupa beban tarif.
Secara keseluruhan, indeks Dow Jones ditutup menguat 0,7%, sementara Nasdaq mencatatkan kenaikan sebesar 0,4%. Namun, saham Alphabet justru mengalami penurunan tajam hingga 7,5% akibat tekanan terhadap lini bisnis pencariannya.
Strategi Investasi: DCA Jadi Pilihan Menarik
Dengan meningkatnya sentimen positif di dua pasar besar—kripto dan saham AS—saat ini merupakan momentum yang dapat dimanfaatkan oleh investor, baik pemula maupun berpengalaman. Salah satu strategi investasi yang direkomendasikan adalah metode dollar cost averaging (DCA), yaitu membeli aset secara berkala dalam jumlah tetap.
“Dalam melakukan DCA, investor dapat mengoptimalkan fitur yang memudahkan berinvestasi ke aset kripto dan Saham AS potensial. Misalnya di fitur Packs di Reku, investor bisa berinvestasi pada berbagai crypto blue chip dan ETF Saham AS dengan performa terbaik dalam sekali swipe untuk memudahkan diversifikasi,” jelas Fahmi.
Ia juga menambahkan bahwa fitur Packs telah dilengkapi dengan sistem Rebalancing otomatis, yang memungkinkan penyesuaian alokasi investasi berdasarkan kondisi pasar terkini. Dengan demikian, strategi DCA bisa dijalankan dengan lebih praktis, efisien, dan terarah.
- Semua yang Perlu Diketahui Tentang Met Gala 2025, dari Tema hingga Dresscode
- Tren Lifting Meningkat, Bahlil Optimistis Pasokan Gas dari Sumber Baru Akan Cukupi Kekurangan di Wilayah Barat Akibat Natural Declining
- IndoXXI, LK21 dan Juraganfilm Ilegal, Ini 7 Situs Nonton Film yang Aman dan Lengkap
Kesimpulan: Stabilitas The Fed Jadi Angin Segar
Keputusan The Fed untuk mempertahankan suku bunga menjadi angin segar bagi pelaku pasar di tengah ketidakpastian global. Baik pasar kripto maupun saham AS menunjukkan reaksi positif, dipicu oleh kebijakan moneter yang tetap fleksibel, prospek pelonggaran tarif, serta potensi kerja sama dagang internasional.
Dengan tetap waspada terhadap risiko inflasi dan pengangguran, serta dukungan dari faktor eksternal seperti optimisme dagang dan teknologi, investor saat ini memiliki peluang untuk meraih hasil optimal melalui strategi yang disiplin seperti DCA.

Ananda Astridianka
Editor
