Bitcoin dan Emas Kompak Cetak Rekor, Sinyal Apa Ini?
- Menurut laporan Geiger Capital dalam diskusi pasar pada Senin pekan lalu, Bitcoin kini mulai memisahkan diri dari korelasi biasa dengan saham teknologi dan menunjukkan karakter sebagai aset yang lebih defensif.

Alvin Bagaskara
Author


Ilustrasi: Mata Uang Kripto Bitcoin / bitocto.com
(Istimewa)JAKARTA – Harga Bitcoin (BTC) dan emas dunia sama-sama mencetak reli pada awal pekan ini, memperkuat persepsi bahwa kedua aset tersebut semakin berfungsi sebagai pelindung nilai di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar global. Narasi keduanya pun kini berjalan seiring, menyiratkan sinyal kuat ketidakpastian dari pelaku pasar terhadap prospek ekonomi dunia.
Berdasarkan data TradingView, Bitcoin menyentuh level US$87.400 pada Senin, 21 April 2025, menjadi yang tertinggi sejak 28 Maret. Kenaikan ini menandai reli sebesar 16% dari level terendah tahunan di bawah US$75.000 yang tercatat pada 9 April lalu. Dalam sehari terakhir, harga BTC naik sekitar 2,4%, menempatkannya pada batas atas pola konsolidasi harga yang terbentuk sejak awal Maret.
"Bitcoin sedang naik daun, sementara Nasdaq futures justru turun 1%," ujar analis pasar kripto Scott Melker, yang dikenal dengan nama alias “The Wolf Of All Streets”, dikutip dari Cointelegraph, Senin, 21 April 2025.
- Dividen Yield Telkom (TLKM) Berpotensi Capai 7,5 Persen, Cek Histori 10 Tahun Terakhir
- LPEI dan Saudi Exim Bank Teken MoU, Buka Peluang Baru untuk Ekspor ke Timur Tengah
- Gas Terus, Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp15.000
Secara teknikal, analis ‘Rekt Capital’ melalui akun media sosial X pada 19 April 2025 mengamati bahwa Bitcoin tidak hanya berhasil menembus tren turun, tetapi juga mengujinya kembali sebagai level dukungan, membuka peluang untuk reli lanjutan.
Kenaikan Bitcoin juga terjadi di tengah lonjakan harga emas dunia. Mengutip data pasar Reuters dan Bloomberg, harga emas spot belakangan ini naik hingga US$3.384 per ons troi, sementara kontrak berjangka emas Amerika Serikat diperdagangkan pada level US$3.396,10 per ons—keduanya mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high).
“Kami melihat untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun, emas dan Bitcoin menunjukkan pergerakan yang benar-benar selaras,” tulis Kobeissi Letter, analis makroekonomi global, dalam unggahan di platform X (dulu Twitter) pada Senin, 21 April 2025. “Keduanya mengirimkan pesan bahwa pelemahan Dolar AS adalah pertanda datangnya ketidakpastian global yang lebih besar.”
Pelemahan Dolar AS tercermin dalam Indeks Dolar (DXY), yang turun sekitar 10% sejak awal 2025. Indeks ini mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, dan menjadi salah satu indikator utama sentimen global. Ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan China, serta ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter, disebut menjadi pemicu utama penurunan DXY dan lonjakan aset lindung nilai.
Menurut laporan Geiger Capital dalam diskusi pasar pada Senin pekan lalu, Bitcoin kini mulai memisahkan diri dari korelasi biasa dengan saham teknologi dan menunjukkan karakter sebagai aset yang lebih defensif.
Sebelumnya, sejumlah analis memperkirakan harga Bitcoin akan turun ke kisaran US$83.000 selama akhir pekan Paskah, berdasarkan pemantauan pada buku pesanan bursa. Namun prediksi itu terbantahkan setelah BTC justru menembus resistance teknikal dan mencetak penguatan signifikan.
Dengan reli simultan antara Bitcoin dan emas, banyak pelaku pasar menilai bahwa pasar keuangan global sedang memasuki fase ketidakpastian tinggi. Baik investor institusional maupun ritel kini semakin mempertimbangkan diversifikasi ke dalam aset yang dipandang tahan terhadap guncangan, di antaranya adalah emas dan Bitcoin.

Amirudin Zuhri
Editor
