Fintech

Bitcoin Cs Sedikit Lesu Hari Ini, Hanya 3 Aset Big Cap yang Masih Melenggang di Zona Hijau

  • Bitcoin (BTC) dan mayoritas aset kripto berkapitalisasi besar (big cap) mengalami penurunan berdasarkan pantauan Coin Market Cap, Kamis, 17 Februari 2022 pukul 10.30 WIB.
Ilustrasi Mata Uang Kripto

Ilustrasi Mata Uang Kripto / Pixabay.com

(Pixabay.com)

JAKARTA – Bitcoin (BTC) dan mayoritas aset kripto berkapitalisasi besar (big cap) mengalami penurunan berdasarkan pantauan Coin Market Cap, Kamis, 17 Februari 2022 pukul 10.30 WIB. Hanya tiga aset kripto di 10 besar yang saat ini masih terpantau melenggang di zona hijau. 

BTC tercatat mengalami penurunan sebesar 0,33% dan saat ini berada di level US$43.979 atau setara dengan Rp627,9 juta dalam asumsi kurs Rp14.278 perdollar AS. Volume transaksi dalam 24 jam terakhir pun mengalami penurunan 11,33%. 

Selanjutnya, Ethereum (ETH) mengalami penurunan sebesar 1,03% dan saat ini berada di level US$3.129 atau Rp44,6 juta. Volume transaksi ETH pun terlihat mengalami penurunan sebesar 12,06%. 

Dari 10 aset terbesar, hanya tiga yang masih berada di zona hijau dalam hitungan sehari  ke belakang, yaitu XRP, USD Coin (USDC), dan Avalanche (AVAX). 

USDC, meski berada di zona hijau, berada di harga stagnan dengan persentase 0%. Saat ini, USDC berada di level US$ (Rp14.278). Volume transaksi USDC terpantau mengalami penurunan sebesar 10,72%. 

Kemudian, XRP berada di zona hijau dengan persentase 0,35% dengan level harga US$0,8394 atau Rp11.984. Namun, dalam hitungan mingguan, aset ini masih berada di zona merah dengan persentase 3,17%. 

AVAX menjadi aset 10 besar yang performanya paling positif dengan catatan kenaikan sebesar 4,33%. Dalam sepekan ke belakang pun aset ini masih menunjukkan persentase di zona hijau sebesar 10,08%.

AVAX saat ini menempati harga US$98,19 (Rp1,4 juta). Volume transaksinya pun memperlihatkan performa yang positif dengan peningkatan sebesar 34,42%. 

Analis dari CoinDesk, Damanick Dantes, mengatakan bahwa pergerakan harga yang terus mengalami naik turun dalam beberapa hari terakhir diduga disebabkan oleh kebanyakan investor yang masih mewaspadai konflik Ukraina dan Rusia. 

Selain itu, investor juga masih memantau perkembangan kebijakan moneter The Fed yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga beberapa kali karena inflasi yang terjadi. 

“Investor masih mewaspadai perkembangan inflasi dan langkah militer Rusia berikutnya di sepanjang perbatasan Ukraina. Federal Reserve System Amerika Serikat masih terus melacak inflasi dan diperkirakan akan menaikkan suku bunga beberapa kali di tahun ini,” ujar Dantes sebagaimana dikutip dari CoinDesk, Kamis, 17 Februari 2022.