Pasar Modal

BI Ramal Lebaran 2021 Tidak Bisa Dongkrak Penjualan Eceran

  • Bank Indonesia (BI) memproyeksikan tidak akan ada lonjakan penjualan eceran atau retail pada Mei 2021. Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) pada Mei diperkirakan naik tipis dari 150,4 dari bulan ini menjadi 150,5 pada Mei 2021.

<p>Warga berbelanja di los sayur dan buah  di Pasar Bersih Sentul City, Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin, 15 Maret 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia</p>

Warga berbelanja di los sayur dan buah di Pasar Bersih Sentul City, Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin, 15 Maret 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

(Istimewa)

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) memproyeksikan tidak akan ada lonjakan penjualan eceran atau retail pada Mei 2021. Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) pada Mei diperkirakan naik tipis dari 150,4 dari bulan ini menjadi 150,5 pada Mei 2021.

“Relatif stabilnya penjualan pada Mei 2021 diperkirakan karena pembatasan yang dilakukan pemerintah saat hari besar keagamaan nasional,” kata Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam keterangan resmi, Senin 12 April 2021.

BI juga merilis IEP dalam enam bulan mendatang atau Agustus 2021 tercatat 151,4 atau lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya 154,1.

Sementara Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) pada Mei 2021 diperkirakan sebesar 156,4. Hal ini ditopang oleh perkiraan pasokan yang cukup dan distribusi yang lancar. Sementara IEH pada Agustus 2021 diproyeksikan bakal lebih rendah lagi, yakni 141,7.

Indeks penjualan eceran pada kuartal I-2021 diproyeksikan masih berada di zona minus 17,2% year on year (yoy). Angka ini masih lebih rendah ketimbang tahun sebelumnya yang sebesar 16,8% yoy.

Sementara itu, Indeks Penjualan Riil pada Februari 2021 tercatat sebesar 177,1 atau terkontraksi 2,7% secara month to month (mtm). Kendati demikian, kontraksi lebih dalam dicatatkan pada Januari 2021 yang sebesar minus 4,3% mtm.

BI dalam surveinya menyebut indeks penjualan riil bakal tumbuh tipis 2,9% menjadi 182,3 pada Maret 2021. Hal ini dipicu oleh peningkatan penjualan eceran karena meningkatnya permintaan masyarakat di tengah cuaca yang mendukung.

Pemerintah mencoba mendongkrak konsumsi pada kuartal II-2021. Pendongkrak konsumsi rumah tangga ini berasal dari dana Tunjangan Hari Raya (THR) pada Mei 2021.  

Hal ini sejalan dengan terbitnya Surat Edaran (SE) Menaker nomor M/6/HK.04/IV/2021 tentang Pelaksanaan Pemberian Tunjangan Hari Raya Keagamaan tahun 2021 bagi Pekerja atau Buruh Perusahaan.

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah menyebut, pengusaha wajib membayarkan THR sebelum lebaran. Kebijakan mencicil THR, kata Ida, tidak diperbolehkan pada Lebaran tahun ini.

Sekretaris Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso memproyeksikan akan ada Rp215 triliun dana beredar di masyarakat pascapemberian THR. Dana ini yang menjadi andalan pemerintah agar masyarakat mau berbelanja.

Harapannya, kata Susiwijono, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa berada di angka 7% pada kuartal II tahun ini. Adapun proyeksi pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama tahun ini masih di zona minus 1% hingga minus 0,1%.

“Di H-7 hingga H-3 lebaran kita akan menggelar event-event seperti harbolnas biar masyarakat spending,” kata Susiwijono dalam diskusi virtual, Senin 12 April 2021. (LRD)