BFI Finance Tutup 2025 dengan Aset Rp25,5 T, Ini Penopangnya
- Berikut adalah penulisan ulang rilis tersebut menjadi artikel berita ekonomi dengan gaya khas TrenAsia.id. Artikel ini dirancang agar lebih mengalir, menyoroti

Ananda Astri Dianka
Author


Karyawati beraktivitas di dekat logo BFI Finance (BFIN) kantor cabang Pondok Pinang, Jakarta Selatan, Senin, 7 Juni 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia
(Istimewa)JAKARTA, TRENASIA.ID – PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) berhasil menutup tahun buku 2025 dengan catatan positif meski di tengah dinamika daya beli masyarakat yang fluktuatif. Emiten pembiayaan ini membukukan laba bersih sebesar Rp1,581 triliun, tumbuh tipis 1% dibandingkan perolehan tahun sebelumnya.
Kinerja ini didorong oleh strategi perusahaan yang memilih bermain aman dengan fokus pada penguatan kualitas aset ketimbang sekadar mengejar volume pembiayaan. Langkah tersebut terbukti efektif menjaga stabilitas perusahaan di tengah meningkatnya risiko kredit di berbagai segmen industri multifinance.
Sepanjang tahun 2025, BFI Finance mencatat pertumbuhan total aset sebesar 1,4% (yoy) menjadi Rp25,5 triliun. Pertumbuhan ini berbanding lurus dengan piutang yang dikelola (managed receivables) yang melonjak 8,9% (yoy) mencapai angka Rp26,3 triliun.
Dari sisi penyaluran modal, BFI Finance menyalurkan pembiayaan baru senilai Rp21,9 triliun, atau naik 9,3% jika dibandingkan dengan capaian sepanjang tahun 2024. Presiden Direktur BFI Finance, Sutadi, mengungkapkan bahwa hasil ini merupakan buah dari kelincahan (agility) perusahaan dalam merespons kondisi ekonomi makro.
"Kami membuktikan resiliensi bisnis dengan permodalan yang solid dan likuiditas yang memadai. Profil risiko pun tetap manageable berkat kolaborasi strategis dan kepercayaan dari seluruh pemangku kepentingan," ujar Sutadi dalam keterangan resminya.
BFI Finance tampaknya makin serius dalam mendukung pergerakan roda ekonomi riil. Hal ini terlihat dari potret piutang yang dikelola per Desember 2025, di mana lebih dari separuh kucuran dananya, yakni sebesar 57,3%, mengalir deras ke sektor modal kerja.
Tak hanya itu, perusahaan juga menyokong ekspansi bisnis jangka panjang melalui pembiayaan investasi sebesar 17,6%. Sementara itu, sektor konsumsi masyarakat melalui pembiayaan multiguna tetap terjaga di angka 22,0%, disusul oleh segmen pembiayaan syariah yang berkontribusi sebesar 3,1%.
- Baca Juga: Industri Multifinance Tertekan di Tengah Tantangan Ekonomi Global, Begini Strategi BFI Finance
Kualitas Kredit di Atas Rata-rata Industri
Salah satu sorotan utama dari rapor keuangan 2025 ini adalah kemampuan BFI Finance menekan rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Financing (NPF). Di saat rata-rata industri berada di level bruto 2,51% (data OJK Desember 2025), BFI Finance justru mampu menjaga NPF bruto di level 1,39% dan NPF neto di angka 0,22%.
"Pengelolaan manajemen risiko yang cermat menjadi fondasi kami untuk menjaga stabilitas kinerja dan pertumbuhan di masa depan," tambah Sutadi.
Dari sisi profitabilitas, perusahaan mencatat Return on Asset (ROA) sebesar 7,9% dan Return on Equity (ROE) 14,8%. Sementara itu, tingkat utang terhadap modal (gearing ratio) berada di posisi yang sangat sehat, yakni 1,3 kali.
Meski fokus memperkuat struktur internal, BFI Finance tidak melupakan hak para pemegang sahamnya. Sepanjang tahun 2025, perusahaan telah menggelontorkan dividen total senilai Rp902 miliar untuk tahun buku 2024.
Tak berhenti di situ, pada 18 Desember 2025 lalu, perusahaan juga telah membagikan dividen tunai interim untuk tahun buku 2025 sebesar Rp35 per lembar saham atau setara dengan total Rp520 miliar.

Ananda Astri Dianka
Editor
