Bertemu di Amerika, BI dan IMF Sepakati Beberapa Poin
Bank Indonesia menyatakan kata sepakat dalam upaya meningkatkan kerja sama, memitigasi risiko, meningkatkan resiliensi dan mengimplementasikan kebijakan untuk mendorong pertumbuhan melalui bauran kebijakan. “Bank Indonesia juga mendukung kelanjutan kajian Integrated Policy Framework yang sedang dilakukan IMF untuk meningkatkan pemahaman dan efektivitas kebijakan ekonomi yang ditempuh oleh setiap negara sesuai dengan karakteristik dan kondisinya,” kata Deputi Gubernur Bank […]

Virdika Rizky
Author


Sumber: Worldbank.org
(Istimewa)Bank Indonesia menyatakan kata sepakat dalam upaya meningkatkan kerja sama, memitigasi risiko, meningkatkan resiliensi dan mengimplementasikan kebijakan untuk mendorong pertumbuhan melalui bauran kebijakan.
“Bank Indonesia juga mendukung kelanjutan kajian Integrated Policy Framework yang sedang dilakukan IMF untuk meningkatkan pemahaman dan efektivitas kebijakan ekonomi yang ditempuh oleh setiap negara sesuai dengan karakteristik dan kondisinya,” kata Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo.
Dia menyampaikan hal itu seusai menghadiri rangkaian Pertemuan Tahunan International Monetary Fund dan World Bank (IMF-World Bank) pada 16-19 Oktober 2019 di Washington D.C., Amerika Serikat.
Berbagai risiko, lanjut Dody, kini mengancam pertumbuhan ekonomi global antara lain berupa ketegangan perdagangan (trade tension) yang berimplikasi pada ketidakpastian kebijakan.
Kemudian juga terdapat risiko geopolitik, pengetatan kondisi keuangan di tengah terbatasnya ruang kebijakan, tingginya tingkat utang, dan meningkatnya kerentanan di sektor keuangan.
“Di samping itu, risiko terkait perubahan iklim (climate change) juga menjadi perhatian pada Pertemuan Tahunan ini karena dipandang memiliki dampak bagi stabilitas sistem keuangan sehingga perlu segera dimitigasi dengan kebijakan di sektor keuangan,” ujarnya.
Inovasi Sektor Keuangan
Dody menjelaskan, perkembangan teknologi juga menjadi topik diskusi sehubungan dengan manfaat dan juga risiko sehingga diperlukan upaya untuk menyeimbangkan dukungan bagi inovasi di sektor keuangan dengan pengaturan/pengawasannya.
menjelaskan, perkembangan teknologi juga menjadi topik diskusi sehubungan dengan manfaat dan juga risiko sehingga diperlukan upaya untuk menyeimbangkan dukungan bagi inovasi di sektor keuangan dengan pengaturan/pengawasannya.
Dalam plennary meeting International Monetary and Financial Committee (IMFC), peserta mendukung Global Policy Agenda IMF yang disampaikan Managing Director IMF yang baru, Kristalina Georgieva.
Dalam rencananya yang bersangkutan akan terus berupaya untuk memperkuat kerja sama internasional, meningkatkan resiliensi dan meningkatkan inklusivitas perekonomian global untuk mendukung pertumbuhan yang lebih berkesinambungan.
Juga termasuk memfasilitasi solusi global terkait teknologi finansial (tekfin) yang sejalan dengan Bali Fintech Agenda.
Ekonomi Global
Upaya yang akan dilakukan IMF tersebut dilatarbelakangi pertumbuhan perekonomian global yang diperkirakan melambat dari 3,6% pada 2018 menjadi 3,0% pada 2019, sebelum akhirnya diproyeksikan kembali melanjutkan momentum positif menjadi 3,4% pada 2020.
Pada rangkaian pertemuan tahunan tersebut juga diselenggarakan pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20.
Pada pertemuan tersebut Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo menyampaikan pentingnya mengatasi kerentanan di sektor keuangan yang disebabkan oleh fragmentasi di sektor keuangan untuk memastikan resiliensi dan menjaga stabilitas sistem keuangan.
“Bank Indonesia menekankan pentingnya melanjutkan agenda reformasi di sektor keuangan, dengan tetap memperhatikan fleksibilitas bagi otoritas sesuai dengan kondisi spesifik di setiap negara,” imbuhnya.
Dody menganggap, hal ini dapat dicapai melalui identifikasi kerangka pengaturan dan pengawasan yang ada untuk mengatasi kerentanan yang ada dan kerja sama internasional yang dibutuhkan, termasuk yang disebabkan dari perkembangan teknologi.
