Nasional

Berhasil Naikkan Nilai Tambah, Ini Tantangan Sektor Manufaktur Tahun Depan

  • Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan sektor manufaktur yang diklaim berhasil mencapai nilai tambah bagi perekonomian nasional.
Menperin Agus Gumiwang.png

JAKARTA - Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan sektor manufaktur yang diklaim berhasil mencapai nilai tambah bagi perekonomian nasional.

Menurutnya, tiga sektor manufaktur yang mendorong nilai tambah nasional diantaranya, sektor agro industri, sektor bahan tambang dan mineral, sektor migas dan batu bara.

"Yang menarik yang merupakan sukses stori dari hilirisasi manufaktur di agro industri yaitu subsektor kelapa sawit. Di mana bisa dilihat nilai tambah begitu jelas," kata Agus Gumiwang dalam acara Outlook Perekonomian Indonesia 2023 beberapa waktu lalu.

Agus menyebut, kontribusi sektor industri manufaktur terhadap PDB nasional terus meningkat. Nilai ekspor manufaktur tercatat mencapai 70,81% dari nilai ekspor nasional secara keseluruhan. Dia pun mengatakan transformasi struktural menjadi penting dilakukan.

Adapun nilai tambah paling besar dari agro industri yaitu melalui subsektor kelapa sawit. Dia merincikan, hilirisasi dari kelapa sawit ialah minyak goreng, margarin, fatty acid, surfaktan dan kosmetik.

Untuk ekosistem subsesktor CPO saja menurutnya telah menciptakan perluasan tenaga kerja hingga 2,5 juta dan juga menghidupkan 21,4 juta secara nasional.

Sedangkan, sektor hilirisasi tambang dan mineral, nikel mencatatkan nilai tambah 400 kali lipat, serta nilai tambah bagi Battery Electric Vehicle (BEV).

Namun Agus juga mewaspadai masih ada tantangan yang dapat menjadi ganjalan industru manufaktur. Pertama, masalah sumber daya manusia atau SDM yang kompeten.

Menurutnya setiap tahun Indonesia membutuhkan setidaknya 600 ribu tenaga kerja baru untuk industri sektor manufaktur termasuk untuk kebutuhan hilirisasi di dalamnya.

Kedua, Indonesia juga masih menghadapi tantangan soal perluasan kerja sama internasional untuk membuka pasar ekspor baru.

Menperin mengaku Indonesia sedang membidik dua target besar yaitu Eropa dan Afrika. Eropa akan lebih mudah menjadi tujuan pengiriman barang Indonesia karena termasuk pasar yang besar. Sedangkan Afrika, termasuk negara-negara non traditional marketing yang harus digali.

Kemudian tantangan ketiga, yakni mengenai insentif yang menurutnya harus bersahabat dengan pasar (friendly market). Terakhir tantangan yang berasal dari international trade dan diplomasi.