Berburu Cuan Saham di Tahun Kuda Api 2026, Cek Daftarnya!
- Berburu cuan saham di Tahun Kuda Api 2026? Intip analisis pergerakan IHSG, sentimen pasar global, hingga rekomendasi emiten BBTN dan HRUM selengkapnya.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Pada perdagangan hari Rabu, 18 Februari 2026, nuansa Tahun Kuda Api diyakini menyajikan peluang investasi luar biasa. Karakteristik agresif kuda api ini dinilai sangat relevan dengan dinamika pasar saham domestik yang menuntut tingkat kedisiplinan paling tinggi.
Kondisi perekonomian nasional saat ini tengah menghadapi fase transformasi akibat perubahan kebijakan fiskal dan moneter yang sangat masif. Meskipun dibayangi sentimen geopolitik global yang fluktuatif, daya beli masyarakat perlahan mulai menunjukkan sebuah sinyal perbaikan yang cukup nyata bagi publik.
Menghadapi pekan krusial pada pertengahan Februari ini, pelaku pasar sangat disarankan untuk mengatur strategi portofolio secara lebih terukur. Penerapan disiplin investasi yang rasional menjadi kunci utama dalam menjaga tingkat keuntungan dari kuatnya gejolak sentimen pasar eksternal pada saat ini.
1. Transformasi Tahun Kuda Api
Chief Economist PT BRI Danareksa Sekuritas, Helmy Kristanto, menyebut periode ini sebagai tahun transformasi yang sesungguhnya. Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dinilai sangat solid pada rentang angka 5,1% hingga 5,3% sepanjang tahun 2026 berkat dorongan kuat sektor konsumsi publik.
Rasa optimisme publik tersebut tecermin jelas dari capaian Indeks Kepercayaan Konsumen yang melesat naik mencapai level tertinggi 127. Pertumbuhan besaran uang beredar sebesar 9,6% serta kuatnya ekspansi kredit perbankan turut memperkokoh prospek perekonomian nasional secara keseluruhan pada saat ini.
Sepanjang tahun ini, ketidakpastian geopolitik global dan eskalasi perang tarif menjadi dua sentimen besar yang terus membayangi bursa saham. Namun, perbaikan fundamental emiten membuka ruang pertumbuhan luas. "Investor yang disiplin berpeluang menangkap pertumbuhan tersebut," kata Helmy Kristanto secara resmi.
2. Konsolidasi Indeks Gabungan
Beralih ke analisis teknikal harian, Indeks Harga Saham Gabungan terpantau masih tertahan sangat kuat dalam rentang konsolidasi. Indeks kebanggaan nasional tersebut diprediksi terus bergerak secara mendatar selama level rintangan di angka 8.300 belum mampu ditembus oleh pelaku pasar.
Pada perdagangan hari Rabu, 18 Februari 2026, pergerakan bursa dipastikan sangat bergantung pada rilis laporan keuangan. Ekspektasi perbaikan marjin laba emiten tahun 2025 menjadi sebuah katalis yang paling dinantikan publik guna mendongkrak tingkat optimisme investasi skala nasional secara signifikan.
Menyikapi sentimen suku bunga acuan Bank Indonesia pada Kamis, 19 Februari 2026, analis PT Indo Premier Sekuritas menyarankan investor memperkuat batas risiko. Harga saham perbankan akan sangat sensitif. "Selama resistance belum terlewati, pergerakan cenderung sideways dengan volatilitas terbatas," ungkap Hari Rachmansyah dalam ulasannya.
3. Tekanan Keluar Modal Asing
Info saja, sepekan terakhir, pasar reguler berhasil mencatatkan penguatan impresif sebesar 3,49% sebagai sinyal pemulihan pasca isu MSCI. Indeks saham terus melaju hijau dengan ditopang oleh derasnya agresivitas transaksi pada beberapa emiten konglomerasi besar skala nasional yang berkapitalisasi jumbo.
Saham yang berhasil memimpin pergerakan positif tersebut antara lain adalah emiten PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Ratu Prabu Energi Tbk (ARTI), hingga PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA). Namun, pencapaian luar biasa ini ternyata tidak berjalan seirama.
Investor asing justru mencatatkan aksi keluar modal sangat masif mencapai angka Rp6,1 triliun. Tekanan jual tertinggi dialami oleh saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) senilai Rp3,8 triliun sehingga harganya terkoreksi 6,19%. Beban sentimen bertambah setelah Moody's menurunkan prospek perbankan.
4. Kepastian Regulasi dan Global
Di tengah koreksi tersebut, lembaga investasi bergengsi FTSE Russell mengumumkan penundaan rencana penyesuaian komposisi indeks bagi Indonesia hingga bulan Mei 2026. Mereka menyatakan masih akan menunggu seluruh progres reformasi transparansi tata kelola pasar modal secara menyeluruh terlebih dahulu.
Penundaan proses evaluasi ini dikonfirmasi sama sekali tidak berkaitan dengan masalah klasifikasi status negara. Informasi penting ini pada akhirnya sukses memberikan kepastian fundamental yang cukup melegakan bagi seluruh pengelola dana internasional dalam memetakan ulang strategi portofolio investasi mereka.
Dari bursa global, ketakutan investor terhadap dampak negatif teknologi kecerdasan buatan memicu volatilitas pasar yang sangat tinggi. Pergerakan bursa Amerika Serikat akan sangat ditentukan rilis data produk domestik bruto yang menjadi acuan pemodal di seluruh penjuru dunia saat ini.
5. Taktik Disiplin dan Rekomendasi
Menyikapi fluktuasi indeks gabungan, Indo Premier Sekuritas sangat menyarankan strategi akumulasi saham bertahap khusus pada emiten sektor komoditas. Permintaan global yang stabil terhadap batu bara, nikel, dan emas dinilai mampu menjaga tingkat stabilitas harga aset komoditas tersebut.
Untuk taktik perdagangan, analis merekomendasikan saham PT Bank Tabungan Negara Persero Tbk (BBTN) dengan area koleksi ideal di 1.365 serta target potensi ke 1.555. Pemodal diwajibkan selalu memasang proteksi kerugian pada batas harga 1.280 guna meminimalisir risiko tingkat investasi.
Rekomendasi potensial selanjutnya jatuh pada PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) di posisi 1.895 dengan target cuan 1.945. Aset saham PT Harum Energy Tbk (HRUM) juga sangat patut dikoleksi di 1.140. "Kinerja 2025 memberikan katalis positif bagi emiten dengan pertumbuhan laba," tutupnya.

Alvin Bagaskara
Editor
