Tren Ekbis

Beli Rumah Tak Semudah Itu, KDM…

  • Saran KDM agar Gen Z beli rumah ketimbang nikah mewah ramai dibahas. Realitanya, harga properti naik jauh lebih cepat dari gaji. Seberapa realistis anak muda bisa punya rumah?
WhatsApp Image 2026-04-13 at 09.39.46 (1).jpeg
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) terus memperkuat dukungannya terhadap program perumahan nasional melalui penyaluran Kredit Pemilikan Rumah Subsidi (KPR Subsidi). (Antara)

JAKARTA, TRENASIA.ID—Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengajak generasi muda untuk lebih memprioritaskan kepemilikan rumah dibanding pesta pernikahan mewah. Menurutnya, bagi anak muda yang belum memiliki kesiapan finansial, tidak perlu memaksakan diri menggelar resepsi besar. 

Dana yang ada sebaiknya dialihkan untuk kebutuhan yang lebih produktif, seperti membeli rumah. “Lebih baik uang buat pesta dipakai beli rumah daripada jadi raja semalam, besoknya sengsara,” ujar pria yang akrab disapa KDM itu. 

Ia bahkan mendorong pernikahan sederhana melalui Kantor Urusan Agama (KUA) bagi masyarakat yang belum mampu. Dia sendiri tengah menyiapkan kebijakan berupa surat edaran agar imbauan tersebut bisa diterapkan lebih luas di Jawa Barat.

Pernyataan ini sekilas terdengar rasional, terutama di tengah mahalnya biaya hidup. Namun bagi banyak Gen Z dan milenial, persoalannya bukan sekadar memilih antara pesta atau properti. 

Tantangan utamanya justru lebih mendasar: apakah secara finansial mereka sudah mampu mengakses hunian, di tengah harga rumah yang terus naik sementara pendapatan masih terbatas.

Survei IDN Research Institute pada 2024 menunjukkan, sebanyak 26% Gen Z usia 21–26 tahun menjadikan membeli rumah sebagai prioritas utama. Ini menempatkan kepemilikan hunian sebagai salah satu tujuan finansial paling penting, bahkan di atas kebutuhan gaya hidup lainnya. Masalahnya, keinginan itu berbenturan dengan realitas ekonomi.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan rata-rata upah pekerja muda Indonesia masih berada di kisaran Rp2,5 juta hingga Rp4 juta per bulan. Di sisi lain, harga rumah, bahkan untuk tipe kecil di kawasan penyangga kota besar, sudah menyentuh Rp300 juta hingga Rp500 juta.

Artinya, untuk sekadar membayar uang muka (DP) 10%, anak muda perlu menyiapkan Rp30 juta hingga Rp50 juta. Angka ini setara dengan tabungan bertahun-tahun, dengan asumsi tidak ada gangguan kebutuhan lain.

Belum lagi cicilan jangka panjang. Dengan skema KPR 15–20 tahun, cicilan bulanan bisa mencapai Rp2 juta hingga Rp4 juta. Ini berarti sebagian besar penghasilan harus dialokasikan hanya untuk satu pos pengeluaran.

Makin Jauh dari Jangkauan

Dalam kerangka Housing affordability ratio, kondisi idealnya harga rumah berada di kisaran 3–5 kali pendapatan tahunan. Namun di Indonesia, rasio ini kerap melampaui batas tersebut, terutama di wilayah urban. 

Dengan kata lain, rumah semakin jauh dari jangkauan generasi muda. Di tengah situasi ini, muncul narasi yang menyederhanakan masalah: gaya hidup dianggap sebagai penyebab utama. Misalnya, kebiasaan membeli kopi. 

Dengan asumsi anak muda punya pengeluaran Rp40.000 per hari untuk kopi, totalnya bisa mencapai Rp14,4 juta per tahun. Jika diinvestasikan dengan imbal hasil 8% per tahun selama 10 tahun, nilainya dapat berkembang menjadi lebih dari Rp200 juta. Angka ini memang terlihat signifikan, bahkan mendekati nilai DP rumah.

Namun, menyederhanakan persoalan kepemilikan rumah hanya pada kebiasaan konsumsi seperti membeli kopi tidaklah cukup. Ada faktor yang jauh lebih besar dan struktural. Harga properti yang terus naik tidak diimbangi dengan pertumbuhan upah yang setara. 

Data Bank Indonesia menunjukkan tren kenaikan harga properti residensial yang konsisten dalam beberapa tahun terakhir. Sementara itu, tekanan biaya hidup, mulai dari transportasi hingga kebutuhan harian, terus menggerus kemampuan menabung generasi muda. Di titik ini, narasi “beli rumah daripada nikah mewah” menjadi kehilangan konteks.

Cara Realistis Gen Z Bisa Mulai Punya Rumah

Di tengah gap antara gaji dan harga properti, membeli rumah memang terasa berat—terutama bagi pekerja dengan penghasilan setara UMR. Namun, kondisi ini bukan berarti mustahil diatasi. Kuncinya bukan pada besarnya penghasilan semata, melainkan pada strategi dan cara mengelola keuangan sejak awal.

Guidance (Arah Praktis): mulai dari yang bisa dikontrol

Langkah pertama yang paling realistis adalah menata arus kas. Pengeluaran konsumtif perlu ditekan, sementara tabungan untuk uang muka (DP) harus mulai diprioritaskan sejak dini. Selain itu, Gen Z juga bisa mempertimbangkan lokasi rumah di kawasan pinggiran kota yang harganya lebih terjangkau, sebagai titik masuk awal kepemilikan aset.

Di saat yang sama, penting memanfaatkan berbagai skema pembiayaan yang tersedia. Program seperti KPR subsidi atau dukungan pemerintah—termasuk inisiatif pembangunan jutaan rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah—membuka peluang bagi pembeli rumah pertama.

Education (Pemahaman): manfaatkan keunggulan usia

Satu keunggulan utama Gen Z adalah waktu. Memulai lebih awal berarti memiliki fleksibilitas tenor cicilan yang lebih panjang, bisa mencapai 15 hingga 20 tahun. Dampaknya, beban cicilan bulanan menjadi lebih ringan dan peluang persetujuan kredit lebih besar dibanding mereka yang baru mulai di usia lebih matang.

Dengan kata lain, semakin cepat masuk ke pasar properti—meski dari rumah sederhana—semakin besar peluang untuk membangun aset jangka panjang.

Outcome (Hasil): mimpi jadi lebih terukur

Pada akhirnya, memiliki rumah di usia muda bukan sekadar soal mampu atau tidak, tetapi soal kesiapan dan konsistensi. Dengan disiplin menabung, strategi memilih produk pembiayaan yang tepat, serta kesabaran dalam proses, kepemilikan rumah bisa berubah dari sekadar angan menjadi target yang terukur.

Bagi Gen Z, mungkin jalannya tidak instan. Tapi bukan berarti tertutup.