Tren Pasar

Bedah Valuasi Saham TAPG Usai Tembus Rekor Tertinggi

  • TAPG kembali mendekati level tertinggi sepanjang masa. Laba tumbuh 20%, asing masuk, dan dividen dibagikan. Apakah masih menarik?
Buah-Kelapa-Sawit-1024x683.jpg

JAKARTA, TRENASIA.ID – Saham PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) menembus rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH). Pada penutupan perdagangan sesi II Kamis, 3 September 2026, saham emiten perkebunan kelapa sawit tersebut berada di level Rp2.350 per saham.

Harga tersebut tidak berubah dibandingkan penutupan perdagangan sehari sebelumnya. Namun, jika dihitung dalam sepekan terakhir, saham TAPG telah menguat sekitar 14,63%, menunjukkan momentum kenaikan yang cukup signifikan.

Pencapaian Rp2.350 sekaligus menjadi ATH baru bagi TAPG, melampaui rekor sebelumnya di level Rp2.300 per saham yang tercatat pada 29 April 2026. Dengan demikian, TAPG kini memasuki fase price discovery, yakni kondisi ketika saham bergerak di atas rekor harga sebelumnya dan belum memiliki level resistensi historis baru.

Kenaikan tersebut juga memperpanjang reli TAPG sepanjang periode sebelumnya. Pada akhir Agustus 2026, saham TAPG ditutup di level Rp2.090 per saham, naik 19,43% dibandingkan posisi akhir Juli sebesar Rp1.750. Artinya, dari akhir Juli hingga penutupan 3 September, saham TAPG telah menguat sekitar 34,3%.

Pada harga Rp2.350 per saham, kapitalisasi pasar TAPG juga meningkat menjadi sekitar Rp39 triliun, dengan asumsi jumlah saham beredar sekitar 16,62 miliar saham.

Secara fundamental, TAPG memang menunjukkan kinerja yang solid. Namun, kenaikan harga yang cepat membuat ruang kenaikan dalam jangka pendek perlu dicermati, terutama ketika harga saham sudah mendekati ATH.

 Kinerja tersebut juga terjadi ketika pasar saham domestik belum sepenuhnya stabil. Pada perdagangan 2 September 2026, misalnya, IHSG turun tipis 0,06% menjadi 6.595,78. Meski IHSG melemah, TAPG justru masih mendapatkan aliran dana asing.

Baca juga : Indeks LQ45 Terbang 1,67 Persen, CPIN dan JPFA Top Gainers

TAPG Diborong Asing Saat IHSG Tertekan

Salah satu katalis yang menarik perhatian investor adalah aktivitas investor asing pada perdagangan 2 September 2026.

Pada hari tersebut, investor asing secara keseluruhan mencatatkan net sell sekitar Rp326,6 miliar di seluruh pasar. Namun, TAPG justru masuk dalam jajaran saham yang paling banyak dibeli investor asing.

TAPG mencatatkan net foreign buy sekitar Rp57,4 miliar, menempatkannya di posisi ketiga dalam daftar saham dengan net buy asing terbesar pada hari tersebut.

  • BBCA — net foreign buy Rp154,5 miliar
  • BBRI — net foreign buy Rp149,9 miliar
  • TAPG — net foreign buy Rp57,4 miliar
  • BMRI — net foreign buy Rp55,5 miliar
  • SINI — net foreign buy Rp52,5 miliar

Menariknya, TAPG menjadi satu-satunya saham nonperbankan dalam lima besar tersebut. Fenomena ini menunjukkan adanya minat asing terhadap sektor perkebunan sawit, khususnya TAPG. Meski demikian, net foreign buy dalam satu hari belum cukup untuk menjadi bukti bahwa saham tersebut akan terus naik. Investor tetap perlu melihat apakah akumulasi tersebut berlanjut dalam beberapa perdagangan berikutnya.

Baca juga : IHSG Ditutup Ngebut 1,09 Persen, Hampir Sentuh 6.700

Fundamental TAPG: Laba Tumbuh 20% pada Semester I 2026

Dari sisi fundamental, kenaikan harga TAPG mendapatkan dukungan dari kinerja keuangan yang kuat.

Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026, TAPG membukukan pendapatan Rp5,85 triliun, naik 6,33% dibandingkan Rp5,50 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan lebih besar terlihat pada laba. Laba bruto TAPG meningkat 18,51% menjadi Rp2,41 triliun. Sementara laba bersih melonjak 20,43% menjadi Rp2,04 triliun, dari Rp1,69 triliun pada semester I 2025. Laba per saham juga meningkat dari sekitar Rp85 menjadi Rp103 per saham.

  • Pendapatan mencapai Rp5,85 triliun, naik 6,33% dari Rp5,50 triliun pada Semester I 2025.
  • Laba bruto mencapai Rp2,41 triliun, tumbuh 18,51% dari Rp2,03 triliun.
  • Laba bersih mencapai Rp2,04 triliun, meningkat 20,43% dari Rp1,69 triliun.
  • Laba per saham (EPS) naik 21,2% menjadi Rp103, dari Rp85 pada Semester I 2025.
  • Kas dan setara kas melonjak 81,5% menjadi Rp1,7 triliun, dari Rp936 miliar.

Jika kinerja semester I dipecah berdasarkan kuartal, momentum pertumbuhan TAPG bahkan terlihat semakin kuat pada kuartal II 2026. Menurut data KB Valbury Sekuritas, pendapatan TAPG pada kuartal II 2026 mencapai sekitar Rp3,36 triliun, tumbuh 35% dibandingkan kuartal sebelumnya dan 16,5% secara tahunan.

Sementara laba bersih mencapai sekitar Rp1,35 triliun. Angka tersebut berarti laba bersih meningkat sekitar 76,3% secara kuartalan dan 46,6% secara tahunan.

Pertumbuhan laba yang jauh lebih cepat daripada pertumbuhan pendapatan menjadi salah satu alasan mengapa saham TAPG mendapatkan perhatian pasar.

Kualitas fundamental TAPG semakin menarik jika dilihat dari struktur neracanya. Per 30 Juni 2026, total aset perusahaan mencapai sekitar Rp14,82 triliun, sedangkan total liabilitas berada di sekitar Rp2,89 triliun.

Total ekuitas mencapai Rp11,93 triliun. Kas dan setara kas juga meningkat tajam menjadi sekitar Rp1,7 triliun, dibandingkan Rp936 miliar pada semester I 2025.

Dari sisi rasio, TAPG memiliki debt to equity ratio (DER) sekitar 0,09 kali, yang menunjukkan tingkat leverage relatif rendah. Sementara itu, return on equity (ROE) berada di sekitar 17,1% dan return on assets (ROA) sekitar 13,76%.

Dengan struktur utang yang rendah dan posisi kas yang meningkat, TAPG memiliki ruang finansial yang cukup untuk mendukung ekspansi maupun belanja modal.

Dividen TAPG Tambah Daya Tarik

Selain pertumbuhan laba, investor juga mendapatkan katalis dari kebijakan dividen. TAPG mengumumkan pembagian dividen interim tahun buku 2026 sebesar Rp1,19 triliun atau Rp60 per saham.

Jika menggunakan asumsi harga saham sekitar Rp2.000, dividen tersebut setara dengan dividend yield sekitar 3%. Bagi investor yang mencari kombinasi antara pertumbuhan dan dividen, karakteristik tersebut menjadi salah satu daya tarik TAPG.

Namun, dividend yield sekitar 3% juga berarti TAPG bukan semata-mata saham yang diburu karena imbal hasil dividennya. Ekspektasi pertumbuhan laba dan prospek harga CPO tetap menjadi faktor yang sangat menentukan valuasinya.

Selain faktor harga CPO, prospek TAPG juga berkaitan dengan kebijakan biodiesel nasional. Rencana peningkatan bauran biodiesel menjadi B50 berpotensi meningkatkan kebutuhan minyak sawit domestik sebagai bahan baku biodiesel.

Bagi produsen CPO seperti TAPG, peningkatan permintaan domestik dapat menjadi katalis jangka panjang. Namun, dampak B50 terhadap masing-masing perusahaan tetap bergantung pada sejumlah faktor, mulai dari volume produksi, harga CPO, produktivitas perkebunan, kebijakan pemerintah, hingga kemampuan perusahaan meningkatkan produksi.

Artinya, B50 menjadi katalis permintaan, tetapi bukan jaminan harga saham akan selalu naik.

Sejumlah analis masih memberikan pandangan positif terhadap TAPG. KB Valbury Sekuritas memberikan rekomendasi BUY dengan target harga Rp2.500 per saham. Target tersebut mencerminkan potensi kenaikan sekitar 40,1% berdasarkan asumsi harga yang digunakan dalam riset tersebut.

Sementara Indo Premier Sekuritas memberikan target Rp2.100 dan Ciptadana memberikan target Rp1.980.  Konsensus lima analis menunjukkan rata-rata target harga sekitar Rp2.006, dengan target tertinggi Rp2.500 dan terendah Rp1.800.

Baca juga : Menguat, 1 Dolar AS Berapa Rupiah Hari Ini 3 September 2026?

Valuasi TAPG: Murah atau Sudah Mahal?

Pada kisaran harga Rp2.000–Rp2.090, TAPG diperdagangkan dengan price to earnings ratio (PER) trailing sekitar 9 kali dan PER forward sekitar 8,6 kali berdasarkan estimasi yang digunakan.

Secara sekilas, valuasi tersebut terlihat relatif rendah untuk perusahaan yang mampu mencatat pertumbuhan laba sekitar 20%. Apalagi TAPG memiliki ROE sekitar 17%, margin bersih yang tinggi, serta DER hanya sekitar 0,09 kali.

Namun, investor perlu berhati-hati menggunakan PER historis ketika perusahaan sedang berada dalam fase siklus komoditas yang menguntungkan.

Bisnis kelapa sawit sangat dipengaruhi oleh harga CPO. Ketika harga komoditas tinggi, laba perusahaan dapat melonjak dan membuat PER terlihat murah. Sebaliknya, ketika harga CPO terkoreksi, laba dapat turun dan PER secara otomatis menjadi lebih mahal.

Karena itu, TAPG sebaiknya tidak hanya dinilai berdasarkan PER saat ini, tetapi juga berdasarkan sustainability laba dalam beberapa tahun ke depan.

Baca juga : Pembukaan LQ45 Hari Ini: AADI dan HRTA Meroket, ESSA Anjlok

Di tengah reli TAPG, terdapat satu faktor yang perlu diperhatikan investor. Direktur TAPG, George Oetomo, tercatat menjual sekitar 850 ribu saham TAPG pada 27 Agustus 2026 dengan harga Rp2.010 per saham. Nilai transaksi mencapai sekitar Rp1,7 miliar.

Setelah transaksi tersebut, kepemilikannya di TAPG menjadi sekitar 0,27%. Penjualan saham oleh insider tidak otomatis berarti prospek perusahaan memburuk. Eksekutif dapat menjual saham untuk berbagai keperluan pribadi atau mengambil keuntungan setelah harga mengalami kenaikan.

Namun, transaksi tersebut tetap layak menjadi warning indicator, terutama karena dilakukan ketika harga saham sudah berada dekat dengan level tertingginya.

Dari sisi materialitas, nilai Rp1,7 miliar juga relatif kecil dibandingkan kapitalisasi pasar TAPG yang mencapai puluhan triliun rupiah. Karena itu, transaksi tersebut lebih tepat dilihat sebagai faktor sentimen daripada faktor fundamental.