Tren Pasar

Beberapa Langkah yang Perlu Dilakukan Kala IHSG Crash

  • Fluktuasi ekstrem yang terjadi dalam waktu singkat sering mendorong keputusan emosional yang justru berpotensi memperbesar kerugian.
IHSG Ditutup Menguat-2.jpg
Karyawan berkatifitas dengan latar layar monitor pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, 8 September 2022. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Penurunan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini, Rabu, 28 Januari 2026, kerap memicu kepanikan di kalangan investor pemula. 

Fluktuasi ekstrem yang terjadi dalam waktu singkat sering mendorong keputusan emosional, seperti aksi jual tergesa-gesa, yang justru berpotensi memperbesar kerugian. 

Para analis menegaskan fase market crash bukan hanya tentang bertahan, tetapi juga tentang bagaimana investor mengelola risiko dan peluang secara rasional.

Dikutip TrenAsia dari berbagai sumber, berikut beberapa langkah yang perlu dilakukan investor pemula kala terjadi kejatuhan IHSG,

Menjaga Emosi dan Kembali ke Tujuan Investasi

Langkah pertama yang perlu dilakukan investor pemula saat IHSG tertekan adalah menjaga ketenangan dan menghindari panic selling

Investor disarankan meninjau kembali tujuan investasi awal, apakah berorientasi jangka pendek atau jangka panjang. Dengan memahami horizon investasi, keputusan yang diambil akan lebih terukur dan tidak semata-mata didorong oleh pergerakan harga harian.

Baca juga : IHSG Ambrol, Target 10.000 Jadi Isapan Jempol?

Fokus pada Fundamental Emiten, Bukan Harga Sesaat

Dalam kondisi pasar melemah, perhatian investor sebaiknya dialihkan dari fluktuasi harian ke kondisi fundamental perusahaan. 

Menilai kinerja keuangan, prospek bisnis, dan kualitas manajemen emiten menjadi krusial. Saham dengan fundamental kuat cenderung lebih mampu bertahan dan pulih ketika sentimen pasar membaik.

Mengelola Portofolio dan Risiko Secara Disiplin

Investor pemula juga perlu menata ulang portofolio dengan memisahkan saham berkualitas dari saham spekulatif. Diversifikasi menjadi kunci untuk mengurangi risiko kerugian terpusat, sementara penggunaan dana dingin wajib dipastikan agar kebutuhan finansial jangka pendek tidak terganggu.

Aktivitas trading berlebihan di tengah volatilitas tinggi justru berisiko memperburuk hasil investasi.

Memahami Penyebab Crash dan Dinamika Pasar

Memahami penyebab IHSG melemah, baik akibat faktor global, kebijakan moneter, maupun sentimen domestik, penting untuk membangun perspektif yang lebih luas. 

Dengan memahami konteks penurunan, investor pemula dapat menilai apakah tekanan pasar bersifat sementara atau mencerminkan perubahan struktural yang lebih serius.

Baca juga : IHSG Ambrol, Target 10.000 Jadi Isapan Jempol?

Memanfaatkan Harga Murah dengan Perhitungan Matang

Kondisi pasar yang tertekan kerap menghadirkan peluang membeli saham berkualitas pada valuasi yang lebih rendah. Namun, pembelian bertahap atau average down sebaiknya dilakukan secara rasional dan selektif, dengan mempertimbangkan rasio valuasi serta kekuatan arus kas perusahaan, bukan sekadar karena harga terlihat murah.

Menjaga Disiplin Strategi dan Batas Risiko

Di tengah volatilitas, investor pemula perlu menetapkan batas risiko yang jelas, termasuk skenario cut loss apabila terjadi perubahan fundamental emiten. 

Menghindari rumor, rekomendasi tanpa dasar kuat, serta ekspektasi keuntungan jangka pendek menjadi langkah penting untuk menjaga konsistensi strategi investasi.

Meningkatkan Literasi dan Ketahanan Mental Investor

Fase IHSG crash seharusnya dimanfaatkan sebagai momentum pembelajaran. Membaca laporan keuangan, memahami kebijakan pemerintah dan bank sentral, serta mencatat setiap keputusan investasi akan membantu meningkatkan literasi keuangan. Para analis menilai, ketahanan mental dan disiplin jangka panjang merupakan kunci utama keberhasilan investasi.

Crash Bukan Akhir, Melainkan Bagian dari Siklus Pasar

Sejarah menunjukkan bahwa pasar saham selalu bergerak dalam siklus. Penurunan tajam bukanlah akhir dari investasi, melainkan bagian dari dinamika pasar. 

Bagi investor pemula, memahami 20 prinsip dasar ini dapat membantu menghadapi tekanan pasar dengan lebih tenang sekaligus membangun fondasi investasi yang lebih kuat dan berkelanjutan.