Bank Capital Indonesia Alokasikan Rp3 Miliar dari laba Bersih untuk Perkuat Pencadangan
- JAKARTA – PT Bank Capital Indonesia Tbk (BACA) berencana menambah pencadangan dari perolehan laba tahun buku 2020. Sebagian dari laba bersih BACA pada 2020 yang

Muhamad Arfan Septiawan
Author


JAKARTA – PT Bank Capital Indonesia Tbk (BACA) berencana menambah pencadangan dari perolehan laba tahun buku 2020. Sebagian dari laba bersih BACA pada 2020 yang sebesar Rp61,4 miliar bakal dialokasikan untuk memperkokoh pencadangan.
Lebih rinci, Direktur Utama (Dirut) Bank Capital Wahyu Aji mengatakan alokasi laba bersih untuk pencadangan mencapai Rp3 miliar. Keputusan ini telah mengantongi restu dari pemegang saham usai gelaran Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Selain itu, penambahan pencadangan juga dilakukan untuk memenuhi pasal 22 Anggaran Dasar perseroan. Sementara sisa laba bersih diputuskan untuk masuk dalam saldo laba ditahan.
“Sisa dicatat sebagai laba ditahan yang akan digunakan untuk kebutuhan perseroan,” tulis Wahyu dalam keterangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin, 30 Agustus 2021.
- Wijaya Karya Beton Catat Kenaikan Laba, Pendapatan Malah Turun Jadi Rp1,25 Triliun
- Moncer! Pembiayaan Fintech P2P Lending Terbang 102,8 Persen Tembus Rp24,22 Triliun pada Juli 2021
- Hari Ini, DKI Jakarta Mulai Gelar Pembelajaran Tatap Muka Terbatas
Kini, Bank Capital tengah berupaya untuk mengejar modal inti minimum sesuai aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebesar Rp2 triliun pada 2021 dan Rp3 triliun pada 2022.
BACA yang saat ini memiliki modal inti Rp1,5 triliun pun berusaha mempertebal dana dengan melakukan rights issue. Wahyu Aji mengatakan tinggal selangkah lagi right issue dilakukan. Menurut rencana, BACA bakal melepas paling banyak 20 miliar lembar saham baru dengan nominal Rp100.
Kendati demikian, Wahyu belum bisa membeberkan harga pelaksanaan dari right issue tersebut. Modal inti dari BACA sebenarnya sudah mengalami peningkatan tipis dari semester I-2020 yang sebesar Rp1,39 triliun.
“Kami optimistis bisa memenuhi minimal modal inti dari OJK,” ucap Wahyu dalam wawacara bersama TrenAsia.com belum lama ini.
Di sisi lain, BACA tengah menghadapi tekanan pada fungsi intermediasi bank. penyaluran kredit perseroan pada akhir Juni 2021 tercatat melemah 34,01% year to date (ytd) menjadi Rp4,20 triliun dari semula Rp6,38 triliun pada akhir 2020.
- Tidak Dicaplok Pemegang Saham Pengendali, Bank Banten Harap Investor Baru Eksekusi Dana Rights Issue Rp2,36 Triliun
- Breaking News: Jokowi Perpanjang PPKM hingga 30 Agustus, Jabodetabek Turun ke Level 3
- 10 e-Commerce Terlaris 2021: Tokopedia Perkasa Jadi Jawara, Shopee Dikudeta
Tidak hanya itu, liabilitas BACA juga naik menjadi Rp22,12 triliun pada Juni 2021 dari posisi Desember 2020 sebesar Rp18,58 triliun. Sedangkan, ekuitas turun tipis menjadi Rp1,62 triliun per 30 Juni 2021 dari Rp1,64 triliun pada 31 Desember 2020.
Adapun total aset perseroan naik 17,47% ytd menjadi Rp23,75 triliun dari akhir 2020 sebesar Rp20,22 triliun. Kinerja ini praktis membuat laba bersih BACA anjlok 77,68% secara tahunan (year on year/yoy).
Laba bersih BACA terjun bebas dari Rp51,98 miliar pada semester I-2020 menjadi Rp11,60 miliar pada semester I-2021.
Penyaluran kredit yang lesu dan menyusutnya pendapatan bunga semakin membuat kinerja keuangan BACA babak belur. Pendapatan bunga BACA anjlok 40,45% menjadi Rp460,42 miliar dari periode yang sama di tahun lalu Rp773,23 miliar.

Amirudin Zuhri
Editor
